
Malik sampai di rumah sakit, langkah lebarnya terhenti kala melihat Rendi duduk menengadah kepala di kursi tunggu depan ruang flowless dengan mata terpejam.
Malik melangkah mendekati Rendi, bagaimana pun mereka masih relasi bisnis. Sekalipun Malik tidak pernah mengenal Rendi sebelumnya. Tapi sepulang dari Canada mereka terikat kerja sama dan semua berjalan lancar.
"Rendi."
Rendi membuka mata melirik ke samping menatap Malik yang berdiri tak jauh darinya. Tangannya terkepal kuat hingga buku-buku ruas jarinya memutih.
Berpikir logis bahwa semua ini memang kesalahan Dea.
Hidan ingat kejadian malam itu saat ia mabuk di bar. Hidan mendengar semuanya, kalimat Malik dengan gamang bilang kalau dalam perut Dea itu darah dagingnya, terekam jelas di benak Hidan.
"Masuklah, Dea di dalam,"
"Persetan, aku ke sini untuk melihat anak ku," suaranya sangat dingin.
Rendi menghela napas panjang lalu berdiri.
"Ikuti aku." Ucapnya kalem.
Langkah ke tiga mereka berhenti. Rendi mendengar suara Ega memanggil. Mantan istrinya datang bersama pria sialan di sisinya.
"Ren, maaf aku tidak menghubungi mu dulu mau datang, aku diberi kabar Hidan."
Di saat yang bersamaan dua suster jaga dan dokter berlari dari arah berlawanan dengan wajah yang panik. Mereka yang ada di sana bingung, Rendi mengenali dokter yang berlari, tangannya terulur menyentuh lengan dokter Anggi.
"Apa yang terjadi?"
"Maaf kami tak ada waktu menjelaskan, tapi anak anda benar-benar kritis tuan," jelas dokter Anggi.
Malik semakin pucat, tubuh kokohnya limbung.
__ADS_1
Ega membekap mulut. Rasa sedih yang sama seperti Malik. Rendi melangkah mendekati Ega. Dengan cepat Chris lebih dulu mendekap Ega memberi rasa tenang lalu melirik tajam ke arah Rendi.
Rendi mendengus, beralih pada Malik memberi isyarat untuk berdiri.
"Kau pasti kuat, bung." Rendi menepuk pundak Malik yang baru di kenal beberapa waktu lalu.
Melangkah bersama menuju ruang instalasi anak. Di sana tim dokter menangani malaikat kecil dengan sigap.
Malik meminta izin untuk masuk mereka mengizinkan dengan persyaratan memakai baju steril serta masker.
Di dalam Malik tidak dapat menahan rasa sedih, terlihat dari beberapa kali ia mengusap pipi.
Kedua tangan Ega depan dada, "Semoga dia kuat," doanya tulus tertangkap telinga Chris dan Rendi "Aamiin." Mereka bersamaan.
Chris masih setia mendekap Ega, berdiri di tengah diantara Rendi dan Ega. Sungguh tidak ada peluang sedikit pun untuk Rendi mendekati.
Rendi menggeleng remeh memandang muak perlakuan Chris.
"Hn." sebelah alisnya naik. "Setidaknya aku br*ng**k sebelum menikah," Skak Chris penuh kemenangan mengangkat dagu angkuh.
Rendi bergeming kalimat sialan itu tepat menusuk jantung.
B*j*ng*n.
Mereka saling bertatap tidak terima dengan kalimat masing-masing dari mereka.
"Dea," suara lirih Ega, dua pria berpaling dari kegiatan sengit mereka.
Dea tidak menjawab, dia berjalan gontai. Ega mendekati berniat membantu. Dea menepis tangan Ega kasar.
"Aku tidak butuh bantuan mu." Sangat sinis.
__ADS_1
"Kau tidak perlu kasar," Rendi membela Ega.
Dea yang tidak terima hendak protes, namun suara tangis kencang Malik di dalam ruangan membuat mereka menoleh dengan cepat.
Tim dokter di sana memberi penghormatan terakhir untuk malaikat kecil suci.
Air mata tidak terbendung, malaikat yang baru lahir kurang dari satu minggu memilih pergi menyerah pada dunia. Dunia yang kejam.
Malaikat kecil itu pergi dari keadaan yang tidak ia inginkan.
Tubuh Dea merosot berbaur dengan lantai dingin rumah sakit. Ega mengelus punggung gemetar Dea memberi kekuatan untuk menerima takdir.
Dea tidak pernah suka dengan Ega, mencengkeram kuat-kuat leher Ega. Chris dan Rendi terbelalak panik mencoba melepas cengkraman tangan Dea.
Wajah Ega sudah terlihat pucat ia butuh oksigen sekarang. Tenaga Dea benar-benar kuat.
Dia kesurupan iblis rumah sakit. Mungkin.
"Wanita gila, j*l*ng sialan lepas tangan sialan mu dari kekasih ku," Chris berteriak juga mengumpat.
"Mati, mati kau sialan," dengan mata memicing penuh benci.
🌷🌹🌷🌹
.
.
.
Tbc
__ADS_1