
Duduk di halaman samping rumah, Ia menunduk mengelus perut besar dengan senyum lebar sempurna. Sebuah anugerah yang tidak bisa di rangkum kata. Enam bulan lalu tepat nya empat bulan setelah pernikahan mereka. Tanggal lima bulan lima satu kehidupan tumbuh di rahimnya. Bahagia? Sangat.
Flashback on
Saat itu sang suami pulang kerja, menyambut manja mengalungkan tangan di leher sang suami. Ia berbisik senang mengajak bermain Chris menjawab teka-teki dari Clue yang Ega ucapkan.
Chris menekuk alis, ada apa dengan istri nya? Sore ini wanita spesial nya terlihat berbeda, berbinar dan sangat bahagia. Chris hanya menebak selintas pemikiran nya. Berkata kalau sang istri mendapat arisan atau habis jalan-jalan bersama para sahabatnya.
Dalam dekapan suaminya Ega merengut bibir kesal ia sudah memberi petunjuk dengan benar. Kenapa pria ini pintar-pintar bodoh sih! Ega melepas dekapan pergi ke dapur dan membuat kopi.
Senyum manis terangkum jelas di iris pekat si pria. Menambah kopi semakin manis, begitu rayuan menggelitik rungu Ega selepas Chris menyeruput kopi buatan sang istri. Semu merah muda terpasang di wajah si wanita pujaan. Ah, Chris menyukai itu. Wajah malu-malu cheetah membuat Chris semakin menikmati kopi sore.
Masih tersisa setengah gelas Chris beranjak dari kursi, memeluk sang istri dari belakang. Pria itu berbisik sekali lalu di sambut gelak tawa serta gelengan kepala dari Ega. Memukul lengan sang suami main-main Ega bersuara....
"Aku sudah mandi,"
Wajah binar Chris berubah, "Kenapa tidak menunggu ku?"
Ega semakin tergelak, kenapa juga sangat menyukai kamar mandi padahal ranjang mereka lebih empuk dan lembut. Ada-ada saja pria nya. Menjinjit sedikit bibir nya menempel sempurna di pipi sang suami, menarik tengkuk mendekatkan bibir pada telinga Chris. Ega membalas dengan suara tidak kalah sensual. Satu garis asimetris mampir di wajah sang suami.
"Aku tidak sabar," Mengecup kening Ega ia beranjak masuk ke kamar mandi.
Ega menatap punggung Chris dengan senyum geli. "Hah, mesum."
Usai makan malam biasa nya Chris masuk ruang kerja menghabiskan beberapa jam di sana. Malam ini? Lucu, pria itu seolah menagih bisikan dari sang istri masuk kamar duduk lalu memeluk sang istri dari samping pandangan nya lurus ke depan menatap layar televisi. Untuk setengah jam kedua nya asyik menonton acara lawak, mereka pun ikut tertawa saat si pelawak mengeluarkan kata jenaka.
Ega turun dari sofa merah. Membuka laci kecil meraih dua benda di sana. Ia duduk di pangkuan Chris memberi dua benda di tangan sang suami.
Chris bergeming menatap dua benda dengan dua garis sama nyata. Iris pekat menatap sang istri. Garis wajah tegang; bingung; bahagia sekaligus terharu bercampur menjadi satu rasa tidak terbendung. Garis asimetris tercetak di bibir si tampan, memeluk erat sang istri.
Chris mencoba bersuara namun gagal. Nyata nya suara nya tercekat, kalah dengan air mata mendesak lebih dulu hadir menyapa wajah. "Terima kasih, aku sangat bahagia." Ucap pria pujaan Ega di ceruk leher sang istri. Masih menangis, Ega tidak menyangka pria itu se-begitu bahagia nya.
Air mata Ega tidak terbendung ikut terjatuh. Terenyuh suami nya ternyata cengeng untuk hal sensitif ini. Inikah pria playboy dulu? Tangan kecil Ega terus mengelus punggung bergetar sang suami.
Chris angkat kepala, menaruh benda itu di antara dekapan mereka ia meraih wajah sang istri. Mengusap wajah sang istri, Ega pun melakukan hal yang sama.
"Aku mencintai mu," ucap mereka bersamaan lalu tersenyum lima jari.
"Sejak kapan?"
"Tadi siang, aku merasa kepala ku sakit. Dan teringat aku telat seminggu, aku putuskan ke apotik membeli dua supaya akurat."
Chris mengelus perut Ega. Dengan hati-hati ia angkat tubuh Ega. Membaringkan nya ke atas ranjang penuh hati-hati. Menyibak kaus putih kecil Ega sampai perut masih rata itu terlihat. Memberi cium kecil sepanjang perut, "Selamat datang anak papa." Bisik Chris.
Ega tersenyum geli, "Hanya anak papa?"
Chris mendongak menatap sang istri. "Iya, anak papa Chris yang ada di sana." mengelus perut Ega dengan dagu.
Rasa geli menyambut bulu kuduk meremang namun Ega juga memutar mata, "Mama Ega juga."
Chris terkekeh. "Dia pasti tahu, kau selalu membawa nya. Kalau aku harus terus menyapa supaya dia kenal papa nya."
Ega kembali merinding, perasaan nya tidak enak. Dia tahu maksud tersembunyi dari sang suami. Nah, benarkan! Baru saja ia membatin. Kaus putih sudah terbang ke lantai.
"Apa harus seperti itu menyapa anak mu?" pertanyaan polos Ega di sambut tawa kecil dari Chris.
Melepas semua benang pada sang istri dan diri nya. "Tentu, dia tidak akan menolak." Melanjutkan aksi nya pelan, lamban dan sangat hati-hati.
Flashback off.
__ADS_1
Iris cantik Ega berpendar menatap awan terang. Menutup mata semilir angin sore menghilangkan rasa jenuh dalam diri, setelah seharian kemarin ia hanya tiduran merasakan denyut di kepala.
Chris membeli rumah ini seminggu setelah menikah. Padahal mereka harus menginap lebih dulu di rumah mertua. Tapi Chris tetap menyiapkan semua mengisi barang-barang sesuai keinginan mereka berdua.
"Kau sudah lebih baik?"
Kelopak Ega terbuka mendapati raut cemas sang suami. Wanita itu mengangguk, "Aku tidak apa. Sebentar aku buatkan kopi."
Pergerakan Ega di tahan. Memberi seulas senyum saat masih menatap dalam cemas, "Sungguh, aku tidak apa." Berdiri Chris mengikuti.
"Wah, dari mana kau tahu aku ingin makan ini?"
Alis Chris berkerut tipis. "Benarkah?"
Meraih cangkir membuat kopi untuk sang suami lalu menaruh nya di atas meja. Chris meraih kopi, menyeruput nya sedikit demi sedikit. Kembali mendekat ke rak piring ambil piring plat, pindahkan risol dan pastel Ma'cik.
Melihat Ega lahap memakan risol dan pastel Chris lega. Pasalnya kemarin malam Ega hanya makan sedikit, lalu saat siang tadi ia menghubungi Ega mengatakan sudah makan. Kenyataan nya saat ia pulang tadi pembantu rumah tangga mereka bilang kalau wanita pujaan hanya makan dua buah apel.
"Kau mau?" Ega meringis lupa menawarkan sang suami.
"Tidak, aku memang sengaja beli untuk mu dan anak ku." Balas Chris mengulum senang.
"Thank you papa," goda Ega mengundang tawa lebar sang suami.
💖💖💖
"Kapan waktu nya?" suara di seberang terdengar cemas, sang ibu mertua bertanya.
Mika menghubunginya. Wanita paruh baya itu mengatakan hatinya berdebar terusik perasaan asing saat ia berpikir Ega sang menantu. Istri Chris tidak bisa menahan senyum dan haru bersamaan. Senang di perhatikan sang mertua.
"Tenang saja Bu, aku baik-baik saja sekira nya ada sesuatu aku pasti menghubungi."
Hembusan napas lega melipir terselip di antara speaker phone, menghangatkan hati si wanita hamil. Menyudahi panggilan telepon Ega kembali merapikan persiapan pakaian untuk persalinan nanti. Semua sudah ada tinggal kain bedong juga pembalut lebar untuk nya.
Ega turun tangga hati-hati. Langsung ke dapur mengambil kudapan pengganjal perut ini. Melihat roti di meja, Ega ingin membuat roti bakar. Buka lemari pendingin ambil Nutella, keju dan mentega.
"Biar saya saja nyonya."
Ega memberi senyum samar. "Tidak apa bi, aku cuma buat roti bakar plus Nutella dan keju." Mengoles selai coklat kesukaan, ambil satu slice keju menutup dengan potongan roti yang sudah di lumuri selai.
Ega membawa kudapan ke ruang tengah, duduk di sana dengan ponsel di tangan. Membuka aplikasi viu menonton acara drama kesukaan. Sesekali senyum nya terbit, melihat adegan manis dari drama Korea itu.
"Ya ampun, dia sweet banget sih." Gumam nya gemas.
Roti panggang habis setengah, Ega meringis kala nyeri di bawah perut menjalar sampai ke pinggang. Rasa nya sangat kencang dan sakit bersamaan. Menyentuh perut nya, ia menyandarkan punggung mencoba mencari kenyamanan.
"Bibi," teriak Ega sangat keras sampai Bi Asmi sampai terlonjak kaget berlari dari dapur ke ruang tengah. Bi Asmi semakin panik melihat Ega mengerang menahan sakit.
💖💖💖
"Rapat selesai kalian bisa kembali lagi bekerja."
Chris menarik napas panjang, merasa aneh diri nya tidak bisa berkonsentrasi dengan baik. Tangan nya selalu gemetar juga berkeringat. Menghembus napas berat, pria itu menutup mata. Suara pintu terbuka Genma masuk dengan terburu-buru.
"Tuan, nyonya di rumah sakit."
Chris langsung berdiri keluar ruangan tergesa-gesa. Panik merajai, dada pria itu berdebar keras. Tidak mampu membendung dari sekelebat bayang antara negatif dan positif.
Dalam perjalanan Chris tidak berhenti mengucap doa dalam hati. Berharap Ega dan bayi mereka selamat. Ah, dasar bodoh! Chris sudah tidak ingin berangkat hari ini namun Ega memaksa. Istri nya berkata masih satu Minggu lagi. Ck, kenapa juga ia harus mengiyakan.
__ADS_1
Sampai rumah sakit ada ibu dan Kania depan ruang bersalin. Disambut peluk oleh sang ibu. Chris menunggu dalam cemas, sudah setengah jam dan belum ada tangisan bayi. Mengepalkan tangan sekuat tenaga untuk menahan diri tidak menerobos ke dalam.
Tangisan bayi terdengar. Tubuh Chris menegang menoleh cepat ke arah pintu, tidak lama pintu terbuka. Dokter tersenyum mengatakan bayi sehat dan ibu selamat. Rasa lega dan haru mengiringi.
Chris di persilahkan masuk menjumpai Ega terpasang infus dengan wajah basah dan lelah. Chris menangis menggenggam tangan sang istri, ia melewatkan momen perjuangan sang istri saat melahirkan anak mereka. Chris mencium lama kening Ega, meminta maaf tidak menemani di saat Ega kesakitan. Sang istri sama menangis namun memberi senyum tulus lalu menggeleng. Hanya itu reaksi nya dan Chris tidak menuntut Ega untuk bicara, pria itu tahu sang istri sangat lelah.
Kamar VVIP di jam besuk itu padat. Para sahabat berkumpul menyambut bahagia si kecil.
"Ya ampun, Ega kau suka sama artis Korea ya. Ini mirip imut sekali."
Chris mendelik tidak terima mendengar Rani mengatakan anak nya mirip artis Korea. "Kenapa harus artis Korea, kau tidak lihat aku juga imut dan tampan."
Bibir Rani melengkung ke bawah, memutar bola mata malas. "Tidak kau kalah tampan, kau itu cuma menang style dan uang, kalau tidak tampang mu biasa-biasa saja."
"Setidaknya aku lebih tampan dari pada suami mu."
Rani sudah membuka mulut namun di potong oleh Kania. "Bisa kalian diam, jangan berdebat depan keponakan ku."
Ega hanya tersenyum, sudah terlalu sering Rani dan Chris bertengkar. Dulu ia sampai salah menduga kalau mereka sepasang kekasih, ternyata Saka kekasih Rani.
Ruangan kembali sepi, hanya ada mereka bertiga. Chris, Ega dan malaikat kecil mereka.
Duduk di pinggir ranjang Chris mengupas buah pir untuk camilan sang istri. "Kau lapar?"
Ega menggeleng. "Aku masih kenyang."
"Yang ku dengar saat menyusui nafsu makan bertambah. Aku tidak mau kau mengurangi porsi makan mu."
Ega terkekeh, "Aku jujur tidak lapar. Nanti ku beri tahu kalau ingin sesuatu."
Tangisan bayi mengusik percakapan mereka. Chris menggendong putra mereka dengan hati-hati. Melangkah pelan memberi nya pada Ega untuk menyusu.
Ega meringis sedotan si bayi sangat kuat. Chris menyuapi Ega dengan buah tadi, dan Ega tidak menolak.
Punggung jari Chris mengusap pipi si kecil, "Arkana Steven, kau suka?"
Ega menipiskan bibir. "Apa arti nya?"
"Arkana berarti berhati terang. Semoga dia bisa lebih baik dari—ayah nya."
Ega mengulum senyum geli, suaminya ini kenapa jadi melankolis begini. "Hu'um, aku suka. Arka si kecil mama yang tampan," bisik Ega mengusik tidur si bayi.
"Terima kasih kau berjuang melahirkan anak kita. Aku akan berjuang buatkan adik untuk Arka."
Ega mendelik memukul paha sang suami cukup keras, "Jangan macam-macam, jahitan ku belum kering."
Dan perdebatan konyol, tawa canda suami istri terjadi mengisi ruang, dengan Arka yang acuh tetap tertidur pulas di pangkuan sang ibu.
Dari sekian banyak waktu berharga. Pengalaman tetap menjadi prioritas untuk mengambil langkah. Semua waktu telah terlewati terbagi dalam dua kepingan kenangan baik; dan kenangan buruk. Manusia hanya bisa berencana tanpa tahu takdir apa di hadapan. Melangkah tetap pada jalur sesuai keinginan, kunci utama arah mana takdir mu menuju.
.
.
.
Kangen.... semoga kalian tetap sehat ya..
Salaminezt
__ADS_1
ViRuz04
💖