
Tiga jam sebelum matahari tersenyum. Rani, Kania dan Tata merasa sedikit lega mendengar perkembangan bagus dari Ega. Tadi malam dokter kembali memeriksa. Mengganti bantalan infus yang sudah hampir habis. Dokter tidak lagi memasang transfusi darah. Kondisi Ega sudah jauh membaik. Namun begitu belum ada satu gerak respon saat ada seseorang yang menjenguk.
Sesudah memeriksa dokter malam memberi kabar baik. Kondisi Ega meningkat hampir empat puluh persen dari sebelumnya. Dokter itu tersenyum saat berkata kemungkinan besar pasien sudah—bisa sadar dalam waktu dekat.
Mendengar kabar baik mereka hampir menangis terharu bahagia. Rasa cemas mereka berubah menjadi sengatan penuh harap untuk sahabat tercinta. Dokter memilih undur diri selepas memberi kabar baik.
Mereka serempak menoleh ke arah jendela besar. Berharap bahagia itu segera datang. Kania duduk lebih dulu di susul Rani dan Tata.
"Aku tidak pernah lihat Chris benar-benar mencintai perempuan. Sampai pria itu bertemu Ega." Celetuk Rani tiba-tiba.
Tata mengangguk, "Aku juga sama. Terlebih Nando, dia sama takutnya dengan Galih. Mungkin karena mereka teman satu SMA. Bisa di bilang, Nando juga sudah paham sifat Ega." Jelas Tata bersuara lirih, sempat cemburu di awal mengenal gadis itu.
Ega juga sempat meminta maaf, kalau terlalu dekat dengan Nando dan ia menjelaskan semua. Tata sendiri meringis merasa bersalah, ia menuduh tanpa tahu yang sebenarnya. Semakin dekat dengan Ega, kekasih Nando bisa tahu sendiri karakter gadis itu. Dan ia sekarang tahu, kenapa Nando merasa was-was saat Chris mendekati Ega.
"Aku memang belum akrab dengan Ega. Taka selalu bercerita tentang kekasih adiknya jadi aku sedikit—banyak tahu. Menurut ku, jika Dea sampai bertindak sejauh itu untuk balas dendam—" Kekasih Taka menarik napas dalam. Mengusap lengan kiri berbalut sweater bahan wool hitam, ia sempat merinding mengingat ucapan sang kekasih.
"—yang aku tahu Ega tidak bersalah. Rendi yang membuang perasaan pada Dea, kenapa harus Ega yang di sakiti? Sampai sekarang aku masih tidak mengerti." Tambah nya menggeleng kepala datar.
Rani mengangguk, selintas dalam benak memutar kembali kejadian di Hotel saat pernikahan Manda dan Galih. Dea menyerang Ega sebagai senjata untuk Rendi keluar dari persembunyian nya.
Cih.
"Wanita itu tidak tahu diri. Siapa yang terluka? Siapa yang di serang? Otak nya sangat rusak parah!" Rani berseru dongkol. "Aku dengar Ken sempat di ajak kerja sama dengan Dea. Pria itu menyetujui, alasan nya klise keselamatan Ega. Ken juga datang sendiri pada Singgih dan Taka. Memberi pulpen kamera semua rekaman ada di sana." Rani masih terus bercerita tanpa lelah.
Kening Tata mengerut, "Dea tidak kenal Ken?" tanda tanya besar penuh dalam benak nya.
Rani menggeleng lemah, "Dea pasti tahu. Ken bos di perusahaan Ega dulu, saat Rendi masih menjadi suaminya. Mereka berkenalan formal dan Dea sering melihat Ken begitu perhatian." Jelasnya.
"Apa itu jadi masalah?"
Rani menghela napas kecil, "Ken memang menyukai Ega dari masa sekolah. Saat itu masih belum bisa terima Ega menikah, tapi itu sudah berlalu. Sekarang dia memiliki kekasih. Kalian tahu grup girlband sedang naik daun Angel's —Viona dia itu kekasih Ken."
Kedua kepala terangguk lucu seperti mainan dashboard mobil, Rani kembali membuka suara. "Ku rasa Dea menganggap kalau Ken pasti sakit hati, jika dengar hubungan Chris dan Ega. Tapi dia salah besar."
"Tapi kenapa Ken tidak bilang kalau ada rencana ingin menabrak Ega?" Tata penasaran.
"Kalau itu, Ken memang tidak tahu. Dia hanya di ajak kerja sama untuk mengirim foto itu. Ken sendiri nyaris meledak melihat foto super jijik, tapi dia berpikir kembali kalau ambil langkah setengah-setengah yang ada semua bisa gagal. Jika di usut tentang kecelakaan, kemungkinan terbesar ini rencana Jessy dan Dea." Kania ikut menyambut cerita Rani.
"Dia memang psikopat akut," suara lain menyahut dingin. Mereka menoleh Manda berdiri tidak jauh dari mereka membawa paper bag dan plastik berisi beberapa minuman teh dingin kemasan botol.
Tangan Manda terulur memberi paper bag di tangan pada Rani, juga membagi satu per satu minuman teh kemasan botol pada tiga orang di sana, "Galih bercerita tentang teman nya saat di akademi dulu namanya Restu. Aku sempat merinding mendengar kejadian itu. Dan sekarang hampir seluruh tubuh ku merasa berdenyut takut, melihat keadaan Ega. Wanita itu sangat tidak waras!" suara Manda terdengar sesak dan takut bersamaan.
"Ya ampun, kenapa aku terlewat info yang sangat banyak?" Tata mengeluh, bibir nya mengerucut masam. Meraih satu potong risol dalam kotak makan yang di buka Rani.
Rani mendengus, menunjuk wajah Tata dengan lemper isi abon. "Memang Nando tidak pernah bercerita pada mu, atau semisal sesuatu?"
__ADS_1
Tata menelan potongan risol dengan isian saus mayones dan irisan ayam. Bahunya merosot kesal. "Tidak, dia tidak pernah cerita, mungkin dia sedikit lupa." Membuka tutup botol kemasan teh di tangan.
Rani memberi cibiran keras. Menyimpan satu potong lemper yang sudah tergigit di pipi. "Tumben, suami mu itu pria bocor tidak mungkin bisa menyimpan rapat rahasia. Memang apa yang kalian bicarakan saat di rumah." Mengunyah lagi pelan melihat ekspresi wajah Tata bertumpuk antara malu serta binar.
Tata tersenyum simpul, dalam hati membenarkan. Tapi mungkin karena selepas pulang kerja atau dari mana pun, Nando selalu meminta jatah. "Rahasia," ucap Tata dengan suara hampir berbisik.
Satu kedut di bibir Manda terbit, ia berdeham. "Biasa pengantin baru," mengedip sebelah mata.
Rani mencebik tidak suka. Kenapa dia yang terakhir menikah. Kania terkekeh melihat wajah masam Rani. "Tenang saja, ada aku menemani," senyum Rani timbul mereka langsung berhifi.
🍂🍂🍂
Tubuh Jessy dan Dea membeku di tempat. Rasanya tidak ada suhu udara minus dalam ruang. Namun tulang dan sel dalam tubuh mereka memadat disertai debaran jantung kencang. Tambang sudah terlepas, mereka saling lempar tatap. Melirik arah senjata api di lantai.
Tubuh mereka sama-sama membungkuk. Mengambil salah satu senjata api samping kaki. Jessy sudah menangis, ia tidak tahu bagaimana cara kerja senjata ini. Yang ia tahu hanya menekan pelatuk saja. Dan shoot satu amunisi meluncur bebas mengenai target.
Berbeda dengan Dea. Wanita itu sangat bisa bermain ekspresi. Memasang riak muka yang—sangat tenang. Tidak ada guratan takut atau merasa terancam. Oh, ekspresi menyeramkan untuk orang normal. Mampu menghantar rasa bergidik saat Jessy menangkap hal janggal dari lawan nya.
Iris Jessy bergetar saat ia melihat ibu jari Dea, melakukan cocked menggigit pipi dalam ia melakukan hal yang sama. Ia terus terisak jumlah tremor pada tubuh Jessy meningkat. Berimbas pada tangan kurus nya tidak bisa ambil sikap posisi lurus seimbang. Jari-jari nya semakin kaku. Ia kembali terisak. Pandangan Jessy mulai memburam. Sial.
Kedua wajah wanita di sana jauh berbeda. Wajah Jessy sudah sangat basah, pucat pasi dan ketakutan. Berbanding terbalik tiga ratus enam puluh derajat dengan Dea. Wajah wanita itu layaknya psikopat sangat tenang ataupun—tidak ada rasa gentar. Mantan istri Rendi itu menampilkan seringai puas, seolah bersorak dalam hati jika senjata api di tangan nya berisi amunisi.
Chris mendengus, melihat aksi pandang dua medusa. Menatap geli pada Jessy yang menangis dan mencemooh Dea yang psikopat. Dua jiwa yang berbeda tapi satu tujuan. Wow, Chris tidak sangka mereka bisa kompak dan bersekongkol untuk menghabisi kekasihnya.
"KALIAN MEMBUAT KU MUAK, CEPAT LAKUKAN, B*TCH!!" bentak Chris habis sudah kesabaran nya melihat Medusa itu saling menodong tanpa ada yang memulai.
Dor.
Suara amunisi meluncur, nyaris memekak telinga. Semua terkesiap kecuali Chris. Jantung mereka berkejaran tidak mampu di redam.
Benarkah itu?
Dalam hitungan kejap mata siapa yang tumbang?
Amunisi asli ada di tangan siapa?
Senjata api terjun bebas dari telapak tangan Jessy. Tubuh Jessy mati rasa, lemas dan jatuh begitu saja di atas lantai marmer hitam lantai kamar. Menyentuh bagian dada napas nya terasa begitu sakit. Satu menit berlalu, Jessy meringkuk menangis kencang, membungkuk ketakutan menjalar dalam darah. Sesaat sadar ia masih hidup, bernapas walau tidak lapang seperti biasa.
Iris mata itu bergulir pada Dea yang masih berdiri tegap dan menekuk alis dalam. Wanita itu benar-benar ingin membunuhnya. Ia salah menduga ternyata teman kerja sama nya tidak—lebih seorang psikopat. Jelas sekali tidak ada rasa bersalah di wajah itu.
"Kau benar-benar berniat membunuh ku, F*ckin' b*tch! teriak Jessy kalut.
Dua alis Dea terangkat angkuh, "Kau belum mati." Balas Dea santai, dan Jessy semakin menggeram jengkel. "Hanya peluru hampa, dan aku— kecewa."
Iris Jessy melebar. Wanita ini benar-benar sinting. Meraih rambut yang terkena imbas dari amunisi dan bau menyengat di sana. Dan rambut nya sedikit terpotong.
__ADS_1
Netra nya bergulir menatap para pria di sana. Ia terkejut saat Wildan masuk ruang. Dengan cepat ia menyungging senyum ke arah pria itu. "Wildan, tolong aku! Aku tidak bersalah, mereka semua menyakiti ku." Berderai air mata, kembali memulai drama berharap pria itu menolong dan memarahi Chris dan sahabat lainnya.
"Kau kenal wanita itu?" tanya Nando pada Wildan yang menatap remeh Jessy.
"Aku?" tunjuk nya pada diri sendiri, "Jangan bercanda, aku tidak kenal wanita kasta rendah. Atau mungkin dia pernah terlibat ONS, aku lupa." Jelas Wildan mengatakan itu dengan wajah keras penuh emosi.
Jessy terhenyak, langsung menunduk. Wildan tidak pernah sekalipun berkata kasar, terlebih sampai menjatuhkan harga diri Jessy. Meski pria itu tahu Jessy bukan dari kasta atas. Namun pria itu menopang hidupnya dengan baik.
Isi kepala Jessy tiba-tiba memutar kembali kenangan bersama Wildan. Sikap lembut, perhatian, kasih sayang pria itu sangat tulus. Memberi segala nya tanpa limit. Kepala Jessy menunduk semakin dalam. Rasanya percuma untuk meminta maaf. Ucapan Wildan menusuk tepat ulu hati. Jessy berpikir sejenak mungkin pria itu juga merasakan sakit atas sikap dan cinta palsu nya.
Jessy menggigit bibirnya keras. Sudah kepalang malu. Mata nya terlihat merah. Raut wajah nya kacau. Dua menit selanjutnya, ia merasa mata nya seperti tersengat dan terbakar.
"Ah, mata ku tolong! Argkh..." teriak panjang serta sakit terus meluncur dari mulut Jessy.
Wanita itu terus menggeleng, menutup wajah dengan kedua tangan. Terlihat sangat kesakitan. Dea menekuk alis dalam. Ia berpikir wanita itu hanya pura-pura. Sekali lagi ia terus melihat gelagat Jessy.
Dea mencoba mengingat sesuatu yang ia rasa—, kelopak Dea melebar ia ingat Jessy memakai softlens. Saat di atas plafon banyak debu dan sangat kotor Jessy terus mengusap mata untuk bisa melihat dengan baik. Terlebih bisa saja serbuk amunisi tadi mengenai mata Jessy juga.
"Cepat, tolong dia keparat!" teriak Dea. "Dia pakai lensa mata. Di plafon banyak debu, ia terus mengusap mata. Terlebih mungkin saja serbuk amunisi sialan mu itu sedikit masuk." Jelas Dea.
Wildan iba tidak tega melihat dan mendengar Jessy menjerit sakit. Sekali pun Jessy jahat pada nya, tidak mengubah fakta mereka pernah menjalin hubungan. Wildan mendekat. Ia terkejut lingkar mata Jessy dan kelopak wanita itu sudah bengkak. "Chris, dia benar kesakitan"
Chris memutar mata jengah. Ia masih marah, tidak mungkin ia membiarkan j*l*ng itu pergi begitu saja. Tapi dia bukan iblis yang diam ketika ada seseorang sakit. Chris berucap tanpa suara pada Wildan dengan jari membentuk 'Ok'.
Semua lengah, Dea si licik menggunakan waktu hitungan detik untuk ambil alih senjata api milik Jessy dengan gerakan kilat. Secepat itu juga Dea menodongkan senjata api tepat di belakang kepala Wildan ketika berniat membantu Jessy.
Jessy semakin menjerit kuat merasa kesakitan. Hanya bisa pasrah. Dan Wildan kedua tangannya sudah terangkat.
🌹🌷🌹🌷
Note:
Hifi : Melakukan TOS
Cocked : Kokang (pada senapan)
Trigger : Pelatuk
.
.
.
Jangan lupa jejak
__ADS_1