
Tangan kecil Ega melipat baju sang kekasih. Ada dua pasang baju Chris juga Ega. Senyum manis cerah mampir memberi hangat di hati lain. Satu sudut bibir si pria berkedut senang. Chris kekasih nya baru saja tiba di rumah sakit. Sore ini ia sengaja pulang cepat menjemput sang kekasih.
"Kau bersemangat sekali?" Tangan Ega melipat kemeja terhenti. Menoleh ke belakang, mendapati sosok terkasih berdiri di ambang pintu dengan telapak masuk dalam kantong celana.
Ah, dia ketahuan.
Sejak kapan pria itu di depan pintu sana?
Semburat merah muda mampir di pipi si gadis. Tersenyum lebar ia merentang tangan saat Chris jalan mendekat.
"Aku sangat menantikan hari ini. Maaf, aku sudah merepotkan semua orang, membuang waktu berharga mereka untuk temani aku di sini." Jawab Ega lirih dan muram.
Chris mengusap punggung kekasih nya. "Mereka menyayangi mu." Begitu ucap nya, lalu melepas dekapan.
Ega kembali melipat kemeja, masukan ke dalam tas pakaian. Semua sudah selesai, gadis itu sangat tidak sabaran untuk segera keluar meninggalkan rumah sakit.
"Aku mau bertemu Rei sebentar, kau mau ikut?"
Baru saja di sebut, Rei muncul mengetuk pintu dan masuk. "Apa aku mengganggu?"
Ega menggeleng memberi senyum senang. "Terima kasih, sudah sabar jadi dokter ku."
Mengulur tangan diterima baik oleh Rei.
"Kau bukan termasuk pasien yang sulit diajak kerja sama. Seandainya sulit bekerja sama, kau pasti belum pulang." Canda nya dan mereka tertawa.
"Terima kasih juga, sudah jadi dokter baik untuk istri ku." Chris mengedip satu mata.
Rei mendengus, geli setiap kekasih Ega menyebut kata kepemilikan itu. "Masih saja, memang kapan kalian nikah?"
"Kurang lebih empat bulan lagi." Balas Chris datar.
Mata Ega membulat, ia bahkan tidak tahu. "Jangan bercanda, aku pasti banyak revisi. Pekerjaan ku numpuk di kantor—"
"Jangan protes aku sudah tunggu lama."
"A.apa maksud nya lama? Kau belum minta persetujuan ku?"
Chris mendesah lelah, sebal sekali kekasihnya tidak aku menurut. Memang nya menahan itu gampang. "Tidak mau tahu, aku sudah datang ke pusara ibu, ayah serta nenek mu. Meminta izin, kau tahu mereka setuju."
Raut wajah Ega memegang. Merinding.
Bagaimana bisa Chris tahu mereka setuju?
Bola mata itu memutar sebal. "Ini sepihak, kau tidak bertanya dulu pada ku."
"Aku sudah. Kau lupa saat di taman aku jelas mengatakan 'sepulang kau dari sini kehidupan baru mu akan datang'. Kau kira itu apa?"
"Aku tidak berpikir ke sana. Maksud ku kehidupan baru itu. Hm—itu hm,, karena aku baru siuman dari koma, iya begitu." Balas Ega tidak mau kalah.
"Ku bilang jangan protes."
Gadis itu menahan jalar merah muda di pipi. Ia masih harus mencari tahu apa maksud ucapan Chris. Tapi belum juga membuka suara, sudah di suruh bungkam.
Apa tadi dia bilang? Jangan protes, kenapa aku tidak boleh. Eh, tunggu! Apa Chris sudah rencanakan semua? Kalau iya pria itu sangat menyebalkan.
Rei mendengus melihat harmonis Ega dan kekasihnya. Dokter tampan melipat satu tangan didepan dada, dengan tangan lain bertopang menyentuh dagu. "Aku sudah bisa bayangkan rumah tangga kalian akan sangat romantis dan harmonis." Kalimat mengejek untuk menghentikan pertengkaran mereka.
Ega memberi bibir maju berbeda dengan Chris lebih memilih tertawa, menepuk manja puncak kepala Ega. Pria itu sangat sadar, Ega seperti itu karena terlalu tiba-tiba. Mungkin juga gadis itu tidak siap. Tapi mereka harus secepatnya resmi, jika tidak dinding pertahanan Chris akan runtuh di kala lemah. Ketika bersama Ega mendadak si hormon sialan datang melesak. Membendung rasa sinting dalam diri.
__ADS_1
"Sudahlah yang penting sekarang kau harus lebih berhati-hati. Jangan paksa diri mu untuk terus berjalan, jika kaki mu gemetar atau letih, istirahatlah."
Ega mengangguk antusias. "Sampaikan salam ku pada paman. Beberapa waktu lalu beliau sempat menjenguk ku, paman bilang dia harus berobat jalan. Dia terlihat pucat."
"Ya, ayah sakit paru-paru. Tidak mau di rawat katanya tidak bisa tidur di rumah sakit. Padahal perawat di sini muda dan cantik." Mengusung kalimat humor.
Gelak tawa mereka terdengar penuhi ruang kamar inap Ega. Tidak lama Genma datang membawakan tas pakaian dan izin keluar lebih dulu.
Sebelum benar-benar pergi, Chris dan Rei saling berjabat tangan begitu pun Ega. Dokter tampan itu juga mengatakan pasti akan datang di pernikahan Ega, karena dia diundang lebih dulu.
🌟🌟🌟
"Desain mu cantik, aku semakin cinta."
Taka mengecup pipi Kania.
Taka baru saja datang satu jam lalu, Kania duduk di bawah sofa sedang menggambar desain cincin pernikahan Chris dan Ega.
Oh iya hampir lupa.
Pasangan Kania dan Taka akan resmi dua Minggu lagi. Pernikahan mereka sudah di bahas kurang lebih tiga bulan lalu. Tepat nya sebelum kejadian naas menimpa Ega.
Mika dan Steven senang mendengar keputusan Taka, juga memberikan kebebasan untuk Taka dan Kania mengatur siapkan konsep untuk pernikahan mereka. Mika juga membantu sedikit saat Taka dan Kania sibuk dengan pekerjaan.
Seminggu setelah pembicaraan Chris kesal. Kenapa harus kakak nya lebih dulu? Mika dan Steven tertawa, mereka membolehkan Chris untuk menikahi Ega setelah tiga bulan pernikahan Taka. Seperti Chris kecil dapat mainan mobil-mobilan hot wheel. Pria itu langsung berbinar cerah, sumringah tampak bersemangat. Mengundang tawa geli meluncur dari bibir pasangan paruh baya.
Taka duduk di belakang sang kekasih, melingkarkan tangan pria itu mengecup tengkuk Kania.
Kania terkejut, ia melemaskan bahu menoleh ke belakang menangkap senyum menggoda milik Taka. Kania menepuk dua pipi Taka pelan. "Jangan nakal, aku sedang bulanan."
Taka tertawa kencang meraih tangan Kania untuk duduk miring diatas pangkuan nya. "Tidak masalah itu berarti, malam pernikahan aku dapat."
Taka keluarkan sesuatu dari jas. Kotak cincin pernikahan mereka. "Ini punya kita."
Kania berbinar senang, membuka kotak hitam dengan pita cantik. Melihat hasil desain sendiri. "Kau tidak beri tahu aku. Kita bisa ke sana bersama."
Taka kembali mengecup pipi kekasihnya. "Sebelum sampai, teman ku menghubungi, cincin sudah siap. Jadi aku putuskan langsung ambil."
Kania bersandar manja di pundak Taka. Menatap penuh senyum sumringah mengelus cincin berlian itu.
Taka menutup kota itu. "Aku iri, kau lebih perhatikan cincin dari pada aku."
Kania tertawa. "Lalu?"
Taka mendengus mengapit dagu memagut bibir Kania lembut. Kania mengelus rahang Taka. Mereka selalu terbuai, membuat suasana romantis membuat satu orang pembobol pin kamar Kania berdeham memberi kode.
"Pergi ke kamar pasangan sialan."
Poldi geram niat hati ingin tidur tenang. Begitu masuk mendapat mimpi buruk untuk tidur nya.
Taka berdiri tertawa kencang meraih tangan Kania melangkah masuk ke kamar. Sebelum pintu benar-benar tertutup, kepala Taka menyembul dari celah pintu. "Selamat tidur." Melambai penuh ejek pada Poldi.
"F*ck." Poldi menutup pintu kamar kencang, ia butuh air dingin sekarang.
🌟🌟🌟
Ega mengelus sofa bed di ruang tamu, apartemen. Menitikkan air mata terharu sendiri. Ini sebuah anugerah tidak ternilai. Masih di beri kesempatan untuk datang lagi ke tempat ini. Mengusap air mata ia merasa Chris memeluknya dari belakang.
"Welcome back sweety." Bisik nya lembut.
__ADS_1
Ega semakin terharu mengusap telapak besar pria pujaan. Bersyukur semua sudah membaik. Berharap tidak ada lagi cobaan di luar batas kekuasaan hati.
Tubuhnya berbalik selipkan kedua tangan nya dan bertumpu pada pinggang pria itu.
"Thank you," menaruh kepalanya bersandar manja di dada Chris.
Mendadak pria itu berdebar, aroma Rosemary hadir serempak menyerahkan logika. Napas pria itu kian memburu, memberanikan diri lebih menunduk membenamkan hidung di surai rambut si gadis. Menutup mata menghirup aroma manis dalam-dalam, darah Chris berdesir. Harum ini merangsang aktivitas sarat otak memberi sensasi liar bergolak dalam bayang.
Menelan Saliva kering, ia kesulitan bernapas sekarang. Tanpa sadar pria itu menggeram rendah. Mengeratkan dekapan dengan ibu jari nya mengusap punggung dan tengkuk si gadis.
Ega mengerut dahi, menggigit bibir kecil. Niat hati ingin menengadah telapak tangan Chris menahan pergerakan nya.
"Ada apa?" tanya Ega bingung merasa aneh.
Chris diam tidak menjawab. Memilih mengumpat dalam hati, memaki diri sendiri.
Oh, Sial.
Chris menunduk meraih bibir Ega memagut sedikit kasar. Gadis itu bingung walau sempat meringis ia mengikuti gerak kekasih nya. Menuntun Ega berbaring di sofa bed. Chris terus menyesap, membelit, menggeram. Sulit terkendali, ia tidak mengira efek shampoo Ega bisa di bilang luar biasa. Atau memang libido sialan Chris yang tidak tertahan.
Tangan Chris nakal melesak masuk ke dalam sweater merah muda Ega. Gadis itu panik sendiri, membuka mata ia mengerjap. Bibirnya masih dalam pagutan Chris. Ia sendiri merasa lemas, tidak mampu melepaskan. Tangan Ega menghentikan tangan Chris mengelus perutnya.
Oh please, selamatkan aku!
Chris terus mencumbu tanpa berhenti. Ega semakin pusing kehilangan akal.
Dalam detik berikut nya Chris melepas bibir Ega, pria itu tersenyum geli di leher si gadis. Suara perut Ega terdengar keras.
Aku selamat, terima kasih perut.
Ega meneguk liur kering. Chris masih menindih nya. Menebar uap hangat pada leher, membuat Ega meremang dalam waras dan sinting bersamaan. Belum ada tanda-tanda pria itu pergi dari atas tubuhnya. Masih mengatur napas semakin terdengar memburu di telinga si gadis.
"C-Chris,"
"Sebentar lagi," bisik nya rendah.
Ega menggigit bibir, mengatur napas sama berat. Jari Ega mengetuk-ngetuk pundak Chris.
"Sudah ku bilang sebentar lagi."
"Tapi aku tidak yakin, ada yang aneh di posisi ini."
Chris diam sesaat, ia bicara sesekali menekan bibir pada kulit leher Ega. Ia terkekeh merasakan tubuh Ega menegang.
Suara bel apartemen berbunyi. Setengah tubuh Chris bangun. Memandang wajah manis kekasihnya, mengecup kening lembut Chris sekali lagi berbisik. "Aku tidak sabar,"
Lalu bangun dan berjalan ke arah pintu. Ega duduk dengan alis berkerut. Membuka tiga jarinya mengulang kata Chris barusan. Tiga kata cukup ambigu. Dan Ega terus saja memikirkannya.
"Apa maksudnya?"
🌷🌹🌷🌹
.
.
.
Tbc
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak