Pacar Pertama Calon Kedua

Pacar Pertama Calon Kedua
Pacar Pertama Calon Kedua 29


__ADS_3

"Bisa saya bicara dengan suami atau pihak keluarga?" ketika dokter kembali bersuara setelah beberapa saat.


Chris menekuk alis dalam, hanya diam menatap manik dokter tersebut.


Sang dokter mendesah. "Hidup pasien sekitar tiga puluh persen."


"Apa maksud—"


"Tuan memotong ucapan saya terlalu cepat, tadi saya ingin bilang mungkin hidup nya tidak akan lama, mengingat respon jantung nya sangat lemah. Jadi bisa kita bicara di ruangan saya?"


Chris dengan wajah basah dan bingung mengangguk. "Aku ikut," Taka sangat khawatir dan takut, jika adik semata wayang tidak bisa mengontrol emosi.


Melihat punggung kedua putra menjauh, Mika sangat berharap semua bisa membaik. Saat suster keluar dari ruang operasi Mika menghampiri.


"Suster, tolong beri tahu kami satu hal, apa anak ku akan baik-baik saja? Paling tidak aku butuh sesuatu yang membuat hati ku sedikit lega." Dengan suara bergetar. Berharap suster bisa mengerti dari keadaan.


Melihat keluarga pasien begitu banyak yang menunggu dalam cemas. Suster itu mengangguk dan memberi penjelasan sedikit  kemungkinan hal yang bisa saja terjadi, melalui kacamata nya.


Mika langsung membekap mulut nya, begitu juga semua yang ada di sana semakin di kuasai rasa sedih. "Terima kasih," wanita paruh baya itu mengusap air mata.


"Selebihnya tunggu kabar dari dokter, saya permisi dulu, harus menyiapkan ruang rawat  dan juga peralatan yang dibutuhkan pasien."


"Beri dia kamar terbaik dan peralatan terbaik. Aku segera ke administrasi."


Suster mengangguk patuh, pergi dari sana di ikuti Kania dan Mika untuk langsung mengurus administrasi.


Rani, Tata dan sahabat lain nya masih menunggu di sana. Sampai semua kembali dan Ega siap di pindah ke kamar.


🌟🌟🌟


Dua hari berlalu, Chris mengusap ujung jari kecil tidak berdaya. Ada luka kecil di sana. Air mata kembali keluar dari iris sebelah kanan. Menatap wajah pucat dengan beberapa bagian tubuh berbalut perban, alat penopang hidup serta transfusi darah dan infus juga tertanam di kedua tangan.


Ingin rasa nya ia merengkuh si pemilik tubuh yang sedang bermimpi panjang. Mengobati rasa cemas dan rindu dalam hati, yang selalu berbisik semua akan baik-baik saja.


Begitu kah?


Pilu kembali menyapa. Tidak ada perubahan berarti dari kondisi si gadis. Dua hari juga ia berjaga di sana, tanpa lelah Chris terus menunggu. Jari panjang Chris kembali mengusap bergerak pelan, ia takut menyakiti.


"Bisa kau gerakan jari mu, pupil dalam kelopak mu, atau suara lenguh kecil mu. Beri aku penawar hati." Dada nya mengetat, "Aku sangat merindu, kalau ada langit di atas langit. Rindu ini, tidak terbatas dari rindu yang pernah ku punya semakin membentang dan menyiksa. Jika kau bermimpi bertemu dengan ku yang menunduk. Aku ingin tangan mu, membawa kepala ku untuk menatap mu." Ia gagal lagi untuk tidak menangis. Tidak kuasa menahan rasa takut dan sakit bersamaan.


Mengecup pelan ujung jari pucat lemah. Kelopak matanya bergerak gelisah menahan sisa air mata. Sia-sia wajah basah lelah itu sudah lebih dulu terlihat sang ibu yang mengintip lirih dari balik jendela.


Mengusap wajah, Chris kembali bicara. "Ega, apa kau bermimpi bertemu dengan ku. Aku yang nyata di sini menunggu mu. Kembali Ega, aku rindu, aku rindu." Pilu nya. Meremas kuat sisi ranjang rawat.


Kepala itu menunduk. Pundak kuat ikut bergetar dengan banyak air mata. Menarik napas sesak, ia kembali menekan kelopak mata. Meraih jari kecil pucat itu lagi. Dan gagal lagi, pandangan nya buram dada nya penuh sesak. Baju hijau khusus itu terkena tetesan air mata.

__ADS_1


"Ega," mencoba kembali bersuara. Namun suara nya tertahan. Bibir nya bergetar tidak sanggup, ia tidak sanggup melihat gadis tercinta nya seperti ini. Yang ia mampu lakukan menyentuh jari itu. Memandangi dalam rapuh.


Mika kembali terisak di luar ruang rawat. Menatap penuh iba pada sang putra yang menangis di dalam sana. Hati nya teriris putra nya sudah mencintai seseorang yang tulus. Namun takdir menguji rindu dan sayang nya.


"Mika, kita pulang dan istirahat. Sudah dari pagi kau di sini jangan sampai kau ikut lelah dan sakit." Steven penuh perhatian, suara pria paruh baya itu mengalun datar.


Kania baru saja datang bersama Taka. Mereka hari ini sangat sibuk. Kania dengan kontrak dan jadwal pemotretan. Sedangkan Taka harus mengambil alih sementara untuk perusahaan Chris. Walau sebagian di bantu dengan sang ayah, tetap saja jatah terbesar masuk ke wilayah Taka. Dan ia tidak ambil protes.


"Benar Bu, biar malam ini kami yang menemani Chris." Kania mengelus lengan Mika lembut.


Mika mengangguk, mengusap wajah basah dan menoleh lagi pada sang putra yang masih setia menunggu keajaiban.


"Jika terjadi sesuatu, cepat kabari ibu." Terisak sejenak. "Aku berdoa, Ega cepat membuka mata. Membayar lelah dan rindu  Chris, anak ku. Aku tidak sanggup melihat anak itu, dia biasa nya konyol dan manja sekarang rapuh seperti ini, aku tidak sanggup." Menangis dalam dekap suaminya.


"Kami pulang dulu," ucap sang ayah membawa istri nya untuk berjalan  menjauh, jika tidak sang ibu akan terus bersedih.


Taka menarik napas. Menoleh pada jendela besar, melihat sang adik duduk di sana. Ibu nya benar. Chris, dia pria besar dengan sifat konyol dan manja. Bukan pria rapuh seperti di dalam.  Hatinya kembali berdesir pilu.


Kania bergelayut manja di lengan kekasih nya. Mengelus lengan panjang itu dengan usapan sederhana. Pandangan mereka bertemu, Kania bisa melihat sesaat, sesak itu berbaur rasa cemas berlebih.


"Semua pasti membaik, yakin saja semua pasti membaik." Memberi senyum menghantar rasa nyaman.


Tanpa berucap dengan senyum dan satu tangan yang bebas. Taka balas mengelus punggung tangan Kania. Mengecup pelipis sang kekasih ia tahu kekasih nya mencoba menghiburnya walau rasa khawatir menari di dalam dada.


🌟🌟🌟


Ia menahan napas, tiba-tiba jantung nya berdenyut perih. Tulang di tubuh nya serasa ikut terhempas, melihat Ega terpental sejauh lima belas meter. Menghantam dan berguling di aspal panas. Beruntung sebuah mobil mini bus dapat berhenti dengan cepat beberapa meter dari tubuh Ega yang sudah tergeletak.


Selang beberapa menit para pengemudi keluar bermaksud menolong dengan menghubungi polisi dan rumah sakit terdekat.


Singgih mengangguk, "My pleasure." Meminum kopi dalam kemasan botol yang di beli Taka untuk mereka semua.


"Apa masih motif yang sama? Gila, dia gila!" Nando menggeleng pias. Semua di batas nalarnya.


"Dia salah sasaran, Ega tidak pernah berbuat apapun yang bisa membuat nya harus memiliki  dendam laknat." Timpal Taka santai.


Pria itu tahu sifat calon dari sang adik, tidak pernah membuat hal yang—atau menambah suasana semakin panas. Ega lebih memilih diam, dari pada harus meneriaki isi pikiran nya atau pun hati nya yang teriris.


"Fu*kin' b*tch," Chris mengumpat keras.


Wildan mendesah, semua semakin di luar batas. "Jangan hanya mengutuk, kau bisa langsung menyeret nya masuk ke neraka paling bawah."


Manik hitam itu melirik sinis, Chris meluruskan punggung dan kaki panjang lalu bersandar.  "Aku tidak ingin tangan ku kotor."


"Ini sangat keterlaluan, dia jadi pembunuh hanya menuntaskan hasrat."

__ADS_1


"Kau benar, dia ibarat malaikat pencabut nyawa berjalan. Mengintai dari jauh, Shiiit. Aku sama sekali tidak berpikir dia iblis."


Mereka bertanya, dan marah berjamaah. Mendengar penuturan Singgih. Sore ini pria itu menghubungi. Meminta berkumpul selagi pacar mereka bisa menemani Ega.


Tangan Chris terkepal. Rasa lelah  berganti kilat api. Menghantam sisi sofa kencang. Membuat suara debam tertanam.


Chris masih bersandar dengan menutup mata, bayangan kondisi mengenaskan sang kekasih  muncul. Seketika  geraham nya mengetat sampai garis rahang itu terlihat tegas dan wajah keras.


Kelopak nya terbuka. Mereka semua saling lirik pandang mendapati tatapan tajam. Bergidik. Seolah tatapan Chris mengeluarkan laser merah dan mampu membelah apapun yang pria itu lihat.


"Persiapkan semua." dua kata mutlak terucap dari bibir merah Chris.


Ia tidak akan melepas target. Dalam dunia bisnis saja Chris tidak akan mau melepas. Terlebih ini berurusan dengan nyawa kekasih nya.


"Apa yang—"


"Kau tahu, kau sudah pasti tahu." Memotong cepat ucapan sang kakak.


Taka mendesah berat. Ia seharusnya tahu tanpa perlu bertanya lagi, tapi juga tidak di pungkiri rasa khawatir itu ada.


"Kau bisa memberi tugas ini pada orang lain. Kau tidak perlu turun tangan sendiri, benar?" Hanya menegur santai berharap sang adik tidak keluar batas.


"Sudah ku bilang, aku tidak ingin tangan ku kotor." Menatap serius ke semua sahabat dan kakaknya di sana. Memberi tatapan intimidasi pada Wildan yang ia yakini pria itu mengerti maksud nya. "Besok, aku mau besok." Tambah nya.


Alis Singgih menyatu tajam. Terlalu terkejut. "Besok? Chris terlalu cepat—"


Chris melirik dari ekor mata sadis. Ia mendesis sinis. "Besok, kau dengar aku." Perintah nya, tidak ingin satu bantahan  meluncur dari mulut sahabat atau pun kakak nya.


Tidak ingin membuat suasana semakin gelap, Singgih dan lain nya mengangguk.


Chris berdiri dan berlalu keluar dari sana tanpa bicara apapun lagi.  Semua yang ada di sana tersentak. Saat suara pintu terbanting kuat, merasa sikap dingin Chris muncul seperti dulu.


🌟🌟🌟


Chris keluar dari ruang rawat inap. Wajah  basah masih setia menghiasi wajah pria tampan itu. Mendesah lelah ia duduk di antara bangku ruang tunggu. Tangan nya memijat pangkal hidung rasa nya lelah. Ia takut pada harapan semu.


Tapak sepatu membuat atensi pria itu menoleh. Satu bogem mentah dia terima dari pria yang baru saja datang. Menatap penuh intimidasi dan ingin membunuh.


Chris langsung tersungkur di atas lantai rumah sakit yang dingin, mengusap bibir terlihat sedikit bercak darah di punggung tangan. Ia meringis dari rasa sakit akibat pukulan pria itu yang tidak main-main.


🌹🌷🌹🌷


.


.

__ADS_1


.


Tbc


__ADS_2