
Chris melepas pin dasi menusuk tangan Dea untuk melepas Ega. Berhasil. Ega terbatuk kerongkongan nya sangat sakit. Air mata mengalir di sudut mata, dadanya ikut sesak. Pandangan Ega mulai buram tidak butuh waktu lama sinar mata nya meredup menyimpan iris cantik si gadis dalam dekapan Chris.
Chris panik menepuk pipi terkasih. "Ega, Ega!!"
"Kau memang tidak waras." Rendi mengerang frustrasi, "Seharusnya kau berduka, kenapa membuat masalah, sialan." Umpat nya tepat di depan Dea.
Geraham Chris mengetat. "Aku tidak akan pernah memaafkan mu, bila terjadi sesuatu pada kekasih ku." sinis Chris menghunus kedua netra Dea. Menggendong Ega segera mencari pertolongan.
Netra Rendi mengikuti arah ke mana Chris pergi. Berdiri kaku layak patung. Bingung.
Di sisi lain ia harus tetap di sana menemani Malik juga mengurus semua persiapan berkas jenazah putra-nya.
Malik keluar melangkah gontai bersandar pada dinding dingin. Kepala pria itu tertunduk bahunya bergetar kuat. Menggeleng kepala seolah tidak terima sang buah hati telah meninggal dunia.
Malik mengusap kedua mata dengan satu telapak lebar. Melirik pada satu wanita laknat sedih di sana. Detik itu juga muak nya tersulut menatap nyalang Dea. Ini semua karena si j*l*ng itu. Dia yang membuat Malik harus kehilangan buah hatinya.
Tanpa peduli pada suster dan tim dokter yang sudah keluar membawa jenazah berjalan menjauh menuju kamar mayat.
Malik mendekati Dea. Pandangan mereka bertemu menatap nya dingin membuat saluran pernapasan Dea penuh kristal es dan siap mati membeku.
"Anak ku memilih mati dan itu keputusan yang tepat, dia tahu kau tidak layak disebut ibu tidak anak ku atau dari pria lain. Kau sama sekali tidak pantas p*la**r." Suara itu merendah berbaur dingin membuat tubuh Dea semakin membeku.
πππ
"Ega sadar lah." Mengusap jemari kekasihnya hati-hati.
Selepas di periksa dokter umum Ega mendapat kamar inap. Chris duduk di kursi samping ranjang menggenggam telapak halus Ega dengan punggung tangan terpasang selang infus.
Merogoh celana bahan, klik nomor yang biasa di hubungi.
πMansionπ
Hari sudah malam jam di tangan pukul 09.15 pm. Taka mengendarai mobil sesuai kecepatan berlaku. Seharusnya ia tidak pulang dan mengendarai mobilnya sendiri.
Dendi mendapat kabar kalau istrinya sudah seharian di rumah sakit tapi belum ada tanda-tanda si jabang bayi akan lahir. Wajah panik Dendi tertangkap Taka. Pria sedikit gondrong itu mengerti rasa panik Dendi. Taka memberi izin untuk pulang lebih dulu.
Taka baru saja pulang dari perjalanan dinasnya di Bekasi. Dia terlihat lelah. Masih di ruang tamu bokong nya menyatu pada sofa panjang lalu berbaring di sana.
Mika berjalan ke ruang tamu dengan membawa segelas teh hangat. Wanita paruh baya itu mengerut dahi melihat si tampan sulung tertidur di sana. Senyum manis nya terbit kebiasaan Taka tidak berubah dari dulu jika kelelahan akan tertidur di sofa.
Mika melangkah pelan tanpa suara takut mengganggu. Jari Mika mengelus pipi dan kepala si sulung penuh sayang.
Mika menatap sendu wajah Taka yang terlelap. Si sulung yang sudah menjadi pria dewasa pandai dalam segala hal tapi tidak untuk wanita. Taka tidak seperti adiknya yang playboy, Taka tipe lelaki setia jadi tidak salah jika ia merasa sangat sakit saat dikhianati.
Siapa di dunia ini yang tidak sakit bila di dusta.
Entah apa yang menghantui mu. Stop menulis, kenapa harus lagu itu.
Sudah lebih tiga puluh menit Mika menemani putra sulung yang terlelap. Sesekali menyeruput teh yang ia buat juga membaca tabloid langganan.
Suara lenguh dan gerak kecil Taka membuat fokus Mika beralih. Setiap gerak Taka dari menguap. Mengusap mata tidak terlewat oleh mata cantik Mika.
Kaki panjang turun. Kelopak mata Taka mulai terbuka, ia kaget melihat sang ibu menatapnya dengan senyum geli di wajah.
"Kau nyenyak sekali sayang," sapa Mika.
"Aku sangat lelah, Bu." Masih dengan suara khas orang bangun tidur.
Taka berdiri mencium pipi ibunya, Mika tersenyum mengusap pipi Taka.
Aku bangga pada kedua anak ku, mereka selalu sopan dan tampan.
Ponsel Taka bergetar, merogoh celana panjang bahan hitam.
"Yo." sapaan singkat Taka seperti biasa. Kening si tampan berkerut. "Tenanglah, aku baru sampai rumah, mau mandi dulu, ok." memutus sambungan telepon.
"Kau mau pergi? Apa ini kencan tengah malam?" Mika mengerling geli saat wajah Taka yang sedikit merona.
__ADS_1
Taka mendengus, Kepala itu menggeleng. "Bu, Chris di rumah sakit dan butuh pakaian-"
Mika kaget mendengar kata rumah sakit memutus ucapan Taka. "Adik mu kenapa?" raut panik tercetak di wajah ayu nya dengan telapak meremas lengan Taka.
Berjalan menaiki anak tangga menuju kamar dengan Mika di sisinya.
"Dia tidak bilang apapun, aku ke sana setelah mandi, dan bawa pakaian ganti untuknya," meraih gagang pintu kamar.
"Ibu akan kemas." Sahut cepat masuk ke kamar putra kedua nya tepat di depan kamar Taka.
πππ
Sedari sore ia belum mengisi perut. Setia menunggui kekasihnya. Chris mengusap wajah lelah, kembali menatap wajah pucat yang masih setia menutup mata.
Tangannya terulur mengelus wajah dan rambut terkasih. Menggenggam jemari lemah tak berdaya itu mengangkatnya pelan dan mencium.
Rahang Chris mengetat menatap luka merah kebiruan di leher mulus kekasih. Bekas cengkraman Dea sangat jelas juga lecet yang mulai menghitam karena goresan kuku panjang.
Emosi nya kembali di posisi on. Menyadari gejolak emosi naik pria tampan itu menutup mata. Hembusan napas berat tidak teratur keluar dari bibir. Melirik dari ujung mata pada jam di tangan. Hampir tiga jam Ega pingsan.
Chris berdiri membungkuk.
"Ega buka mata mu, jangan membuat ku khawatir." Mengelus pipi pucat itu, mencium lama, lagi dan lagi.
Pintu terbuka netra Mika dan Taka melebar, dilihat dari jarak sejauh itu Chris terlihat seperti mencium bibir Ega.
"Kau mengambil kesempatan di saat dia pingsan."
Donjuan itu membuka mata kesal cibiran suara dibalik punggungnya. Tubuh tegap itu berbalik ingin memaki namun yang terjadi ia salah tingkah kepergok basah Mika.
"Aa, I-ibu aku hanya memandang," menggaruk pipi yang tidak gatal.
Mika menggeleng skeptis. "Memandang?! Dalam hal apa yang kau maksud?" menatap geli tingkah putra bungsu.
Mengusap tengkuk yang tiba-tiba tegang Chris memasang wajah pura-pura bersalah, kemudian mencium kedua pipi Mika.
"Ganti pakaian mu, aku juga membawa bekal, ibu tahu kau pasti belum mengisi perut." Mengulur paper-bag.
Mika mendekati Ega melihat dari dekat wajah ayu calon menantunya yang bisa membuat playboy seperti Chris sangat ingin memiliki. Bibir tipis Mika membentuk seulas senyum.
Ia memang Jelita, pantas saja Chris sangat memuja.
Mika meringis saat menangkap sesuatu di leher Ega. Tidak sangka dengan perbuatan Dea.
Sebelum sampai kamar rawat Ega. Mereka bertemu Rendi dan Malik sedang mengurus administrasi.
Rendi bercerita semua yang terjadi, ibunya terkejut atas kejadian menimpa kekasih putranya. Di saat yang sama Dr. Anggi datang memberi tahu pada Rendi untuk kondisi psikis Dea.
Mika kenal dengan wanita berkaca mata itu. Dea anak dari sahabat suaminya. Mereka sudah lama tidak bertemu tapi Mika masih mengingat nama itu.
Mika menggenggam tangan Ega hati-hati. Mencoba memberi rasa nyaman. Taka duduk di sofa berbagi pesan dengan Kania kekasih barunya. Selesai berbagi kabar ia mendekati sang ibu.
"Bu." Panggilnya lembut.
Mika menoleh. "Taka, kenapa Dea bisa kejam padanya? Dea mantan Chris, benar?" tanya nya penasaran.
Taka menahan napas sebentar, menggulung bibir ke dalam. "Bukan bu, itu karena dia mantan istri Rendi."
Mika menoleh cepat. Sangat terkejut. Bagaimana pun tidak sepantasnya Dea melukai Ega. Ia memang tidak tahu pasti apa yang terjadi. Tapi melihat Rendi begitu membela Ega pasti sesuatu telah terjadi.
Mulut Mika sudah terbuka ingin bertanya lebih. Fokus Mika teralih pada pintu kamar mandi yang terbuka. Si bungsu sudah terlihat lebih segar.
Pintu kamar ruang inap kembali terbuka Rendi masuk bersamaan. "Kau tidak ada urusan di sini," sapaan ketus Chris membuat Rendi mendengus ejek.
"Tentu aku ada urusan, tapi tidak dengan mu." Balas santai.
Ega melenguh perlahan membuka mata. Menoleh menangkap beberapa orang sedang menatap khawatir dirinya.
__ADS_1
Chris mendekatinya. "Syukurlah kau sudah sadar, kau membuatku khawatir," memeluknya erat.
Meraih air putih di nakas ia memberi pada Ega. Pria tampan itu ikut meringis saat Ega meneguk air putih susah payah dengan air mata sedikit di sudut mata.
Ega ingin bersuara namun tak bisa, bibir setia merapat merasa otot di leher begitu perih luar dalam, air matanya menetes kembali, menggeleng pelan ia menatap Chris.
Chris mengusap air mata Ega. "Jangan paksa bersuara kalau sakit," Ega mengangguk pelan, beralih menatap tamu yang ada di sana.
Melihat Mika dan Taka. Ega terkejut sedikit membungkuk badan guna memberi hormat.
Senyum hangat terbit dari ibu Chris membuat Ega sedikit canggung.
"Istirahat nak, jangan paksa dirimu," Mika mengelus tangan Ega.
Rendi melangkah mendekati Ega kemudian tersenyum.
"Syukurlah kau sudah sadar," tersenyum juga mengelus pipi Ega.
Chris berdecak sebal. Tidak terima Rendi menyentuh kekasihnya. "Jangan sentuh dia, kau tidak punya hak!" pelan tapi dalem.
Rendi melotot. "B*j*ng*n ini, memang kau punya?" balas Rendi tak kalah sengit.
Chris mengangkat kedua bahu cuek. "Sebentar lagi, tunggu undangan ku," mengedip sebelah mata penuh kemenangan.
"Cih,"
"Kau lihat itu, adik mu cemburu." Taka terkekeh mendengar celoteh sang ibu.
"Rendi." Chris mode serius, "Malik-"
Rendi menghela napas. "Kau tenang saja. Dia baru saja membawa jenazah putra nya untuk pemakaman, dia juga titip salam untuk mu tidak bisa menjenguk Ega,"
Chris mengangguk. "Ku harap semua yang terjadi bisa jadi pelajaran untuk mu, Dea dan Malik," kata itu meluncur tulus.
Rendi menatap nya membuang napas kasar "Ya, aku menyesal." Melirik menatap Ega lalu memberi senyum. Hatinya lega.
Chris mengerti ia menepuk pundak Rendi beberapa kali dan tersenyum, "kalian tetap sahabat ku." Rendi balas senyum dan mengangguk.
"Baiklah, sebaiknya kita keluar. Biar, Ega istirahat." Ucap Mika mengelus lengan Ega.
"Cepat sembuh adik ipar." Taka menggoda membuat pipi Ega merona.
"Pergi sana, pengganggu." Usir Chris.
Rendi dan Taka mendelik mendapat pengusiran. Mika mencubit pipi putra nya gemas.
Pintu ruangan tertutup. Ega melirik Chris memberi isyarat untuk pulang dan istirahat.
Chris menatap datar pengusiran Ega.
Apa-apaan itu.
Pura-pura tidak melihat isyarat Ega. Memilih mengambil bekal yang di bawa ibunya.
Duduk di samping ranjang. "Aku tidak akan pulang sampai kau sembuh, kau perlu mengisi perut, ibu ku bawa banyak."
Ega mendesah kekasihnya memang keras kepala. Percuma. Menerima suapan dan mereka bergantian menyuapi.
Tidak pernah terlintas di dalam benak. Chris mempunyai rasa kepadanya. Ega berpikir perhatian Chris hanya sebatas atasan dengan bawahan. Atau memang pria itu selalu melakukan hal yang sama kepada setiap perempuan.
Setelah kejadian di taman waktu lalu ia masih tidak percaya seakan semua yang terjadi adalah mimpi.
π·πΉπ·πΉ
.
.
__ADS_1
.
Tbc