
"Ingat, Dokter jelek itu bilang hanya sebentar." Chris mengingatkan, mendorong kursi roda sampai ke tengah taman.
Ega membuang napas jengkel. Chris masih saja cemburu dan ketus pada sepupunya.
Ega sendiri terkejut saat bertemu Rei sudah menjadi dokter. Rei terlihat lebih tinggi serta berwibawa. Pembawaan nya yang santai mendapat tempat tersendiri diantara para suster atau pun dokter perempuan.
Ega sempat mendengar adanya gosip tentang Rei menjalin hubungan dengan salah satu dokter di sana. Tapi pria itu menggeleng tegas, dia masih ingin sendiri. Menurutnya melibatkan perasaan saat bekerja itu akan menyulitkan. Kepala Ega terangguk setuju, mengingat kisahnya bersama Chris seperti itu.
Kondisi Ega berangsur membaik, penghalau gerak leher pun sudah terlepas. Ega lega dan bebas, rasanya kulit sekitar leher iritasi dan gatal memakai benda itu terus-menerus.
Kepala Ega menengadah, melihat langit tampak cerah. "Rasa nya seperti sewindu. Aku rindu cahaya dan langit terang ini." Menyapa langit lewat senyum manis merekah.
Berhenti di tengah taman rumah sakit. Memandang keadaan sekitar taman. "Semesta merindu mu, terbukti mereka menyambut mu dengan langit cerah. Matahari pagi seakan tersenyum hangat melihat mu sehat." Duduk di sebelah kekasihnya.
Ega merenggangkan otot kedua tangan ke atas, memejamkan mata menghirup udara sebanyak-banyaknya, menghembus karbondioksida perlahan, ia kembali tersenyum. Isi paru-paru Ega telah berganti dengan udara lebih segar.
"Aku rindu tempat tinggal ku," pandangan Ega lurus menatap pohon jambu besar tak jauh dari tempat mereka duduk.
"Bersabarlah sebentar lagi, jika kau menurut akan pulang cepat."
Nasihat itu berulang kali ia dengar. Selama di rumah sakit Chris menjelma seperti ibu-ibu cerewet dan protective terhadap anaknya yang nakal tidak menurut. Lucu memang mengingat karakter Chris yang jauh dari kata peduli. Dan sikap pria itu selalu bisa menebar hangat dalam hati.
Melihat bagaimana daun-daun bergerak tertiup angin, ia sangat rindu hal ini. Pohon di sana ada tiga tapi hanya satu yang besar. Ada bunga di pohon itu sebagai calon buah. Hmm... Jambu membayangkan rujak, segar juga!
"Kalau lihat jambu air, aku ingat rujak." Celetuk Ega, hanya ingin membuka percakapan.
"Pulihkan dulu kesehatan mu," balas Chris datar.
Ega hanya melirik dan tersenyum kecil. Masih pagi tapi taman ini sudah ramai, banyak pasien datang untuk berjemur. Taman rumah sakit terbilang luas, dengan kebun bunga bermekaran cantik warna-warni mampu menyegarkan mata.
"Kenapa hari ini tidak berangkat kerja?" tanya Ega penasaran. Matahari sudah terbit dan Genma belum datang seperti biasa.
Chris menggeleng, "Aku ingin bersama mu, tiga hari kemarin aku selalu datang larut. Dan kau sudah tidur."
Gadis itu melipat bibir sebentar. "Kau juga butuh istirahat."
Kedua alis Chris terangkat. "Aku cukup istirahat, tidur empat jam dan memeluk mu sudah membuat tubuh ku kembali segar." Menggoda ia mengedipkan sebelah mata.
Wajah Ega bersemu merah. Ah, iya benar, tiga hari ini saat diri nya bangun, pertama ia lihat tangan Chris di atas perutnya. Tidak lama Ega membuka mata pria itu ikut terbangun, mandi dan setelahnya pergi setelah sarapan.
Setiap sore dan pagi sekitar jam 06.00, Genma mengantar pakaian ganti untuk Chris, tidak lupa juga membawa sarapan. Ega sudah menyuruh Chris pulang tapi pria itu menolak. Perdebatan kecil terjadi, Chris tetaplah Chris. Pria keras kepala sejuta kharisma.
Hah, untung ganteng.
"Aku sudah dengar kabar tentang Jessy. Turut sedih dan prihatin," Ega murung, menoleh pada sang kekasih. "Dia terlalu gelap mata, menutup hati dari kasih sayang Wildan. Memilih mengejar mu, Jessy sangat mencintai mu."
Chris menggenggam jari Ega, ingin terbuka dan bercerita sedikit tentang masalah dirinya dan Jessy. "Saat SMA kami satu sekolah. Dia selalu di bully, aku menolong nya beberapa kali. Beberapa bulan selanjutnya kami semakin dekat dan dia mulai salah paham. Menyebar gosip kalau aku dan dia sepasang kekasih, tentu aku marah. Dia juga selalu mengganggu ku baik di rumah—di bar. Aku mulai pindah ke apartemen untuk menghindar."
Chris membuang napas, menatap sekeliling lalu fokus pada anak laki-laki lucu memegang robot dalam pangkuan sang ibu menemani ayah si anak berjemur. Iris hitam Chris kembali bergulir memandang wajah Ega. "Satu tahun lebih aku bersembunyi, terkadang jika ada Jessy ikut berkumpul aku harus pura-pura pulang ke apartemen Nando atau Taka. Aku senang saat Wildan mengajak Jessy berkencan dan bertunangan. Sampai satu fakta hadir menusuk telinga. Sesudah kecelakaan Wildan, Jessy mabuk saat pesta ulang tahun yang pernah aku ceritakan. Dia meracau hanya manfaatkan Wildan untuk selalu bertemu dengan ku. Aku marah bagaimanapun Wildan tulus pada nya. Dia memberi saudara ku racun,"
__ADS_1
"Apa dia tidak tahu alamat apartemen mu?"
Chris menggeleng. "Tidak, dia tidak pernah tahu! Jika dia tahu, aku pastikan dia menyelinap masuk duduk nakal di atas ranjang dengan memakai lingerie. Ah sial, aku jadi mual." Memijat pangkal hidung kencang.
Ega tersenyum pahit, mengingat sisi playboy sang kekasih. "Yah, kau benar. Dan kau akan tergoda sama seperti waktu itu." Ega memasang wajah muram.
Alis Chris terangkat satu, mencari di mana raut cemburu tersemat jelas di wajah sang gadis yang kini membuang wajah. Tubuh Chris maju, "Kau cemburu?" wajah Ega semakin merona matang, wajah mereka terlalu dekat. Ya ampun, ini tempat umum.
"Tidak, aku tidak punya hak mengatur hidup mu." Balas Ega getir.
"Kau punya. Kau kekasih ku"
Kepala Ega menggeleng, "Aku hanya kekasih bukan istri mu."
Seringai Chris mampir, memberi efek lain dalam jantung Ega. "Kau mendengar itu?" tanya nya pada Ega.
Gadis itu menekuk alis dalam, menatap Chris penuh tanya. "Apa?"
"Pejamkan mata mu," bisik Chris lembut.
Walau bingung, Ega menuruti.
Chris menyelipkan rambut panjang Ega pada telinga, berbisik sesuatu yang manis. Kalimat pendek mengantar rasa membuncah bahagia. Kurva indah di bibir Ega merekah sempurna. Kelopak Ega terbuka menatap binar serta berkaca-kaca pada Chris sang pujaan hati.
Tidak butuh waktu lama untuk Ega mengangkat kedua tangan, menyatu dalam gulung di tengkuk pria pujaan. Rasa bahagia mendorong Ega memeluk pria itu di taman tanpa rasa malu pada sekitar nya. Di balas tanpa ragu serta bonus satu kecupan di kening si gadis.
"Hah, jiwa muda memang beda," celetuk pasangan paruh baya dengan senyum geli melihat Chris dan Ega berpelukan.
"Aku kira Chris berangkat kerja," menaruh paper bag di atas nakas.
Pasangan paruh baya itu duduk di sofa, menunggu Chris dan Ega kembali ke kamar. Setelah melihat adegan manis di taman, mereka memutuskan untuk tidak mengganggu.
"Chris terlihat beda di samping gadis itu. Dia sepertinya berubah total." Steven membuka suara.
Selama ini pria paruh baya itu juga mengira jika Chris akan bosan seperti biasa. Namun kali ini tebakan Steven salah. Putra keduanya memilih setia, mempertahankan hubungan dengan gadis itu ke dalam tahap lebih serius.
Mika tersenyum senang. "Aku berharap Ega bisa bertahan dengan sifat Chris. Dia playboy tapi manja juga egois. Anak itu tidak akan pernah mengalah sekali pun dengan Taka kakak sendiri, Chris akan selalu minta di dahulukan."
Steven setuju, "Anak kita sudah besar. Mereka sudah sibuk dengan dunia baru. Kita tinggal mengulang masa indah kita berdua." Tiba-tiba Steven berucap gombal membuat Mika merona serta geli bersamaan.
"Jangan merayu ini masih pagi," Mika pukul bahu Steven main-main.
Steven mengulas senyum nakal, merangkul mesra sang istri. Memberi satu kecup manis di pipi Mika.
Pintu terbuka Chris dan Ega bergeming di ambang pintu. Menangkap aksi romantis dari pasangan paruh baya di sofa kamar. Mereka terlihat seperti paparazi menemukan bahan gosip tanpa kamera dan notes di tangan.
Mika merona dan salah tingkah sedangkan Steven berdeham melepas rangkulan. Pasangan paruh baya itu mencoba menyapa dengan gugup.
"Pagi," Steven menyapa garing.
__ADS_1
"Ah, kalian sudah kembali. Ibu bawa sarapan." Mika melepas canggung.
Chris mendengus geli melihat wajah merona sang ibu, melirik sekilas pada sang ayah dan pria itu memilih membuang muka berpura-pura fokus pada ponsel.
"Kalian berharap apa? Tentu kami kembali Ega harus istirahat. Lagi juga ini kamar rawat bukan kamar hotel kalian bisa pesan di seberang sana." Chris menyindir pedas.
"Eh, anak kurang ajar. Siapa yang mengajarkan mu begitu?"
"Ayah," Chris menunjuk sang ayah dengan dagu. Steven mencebik kesal kenapa dia selalu dijadikan tameng untuk hal berbau mesum itu.
Chris mendorong kursi roda Ega masuk. Membantu sang kekasih untuk duduk di ranjang. "Kau sarapan dulu, obat mu sudah siap." Mengendik pada kumpulan obat di nakas samping paper bag.
"Iya,"
Ega memberi salam pada ibu dan ayah Chris. "Ayah dan ibu apa kalian sudah lama? Maaf tadi aku ingin jalan-jalan sebentar juga menjemur badan."
"Tidak apa, kau memang harus banyak berjemur. Lihat kulit mu jadi kuning seperti bayi kurang vitamin D." Steven terkekeh, itu mengingatkan mereka saat Taka lahir dan musim hujan.
Chris mencibir, "Kalian tidak ikut berjemur. Siapa tahu kurang vitamin D juga."
"Tidak perlu, untuk vitamin 'D' aku sudah dapat semalam," balas Steven santai.
"Aku berharap isi vitamin 'D' belum kadaluwarsa—"
"Hentikan debat mesum kalian." Sungut Mika menunjuk wajah kedua nya bergantian dengan mata sedikit melotot. "Dasar cabul." Umpat Mika.
Steven dan Chris terkekeh wajah Mika sudah seperti udang panggang. Dan Ega hanya mengerjap tidak mengerti percakapan Chris dan Steven.
Mika mendekati Ega dengan box makan di tangan. "Kau makan dulu sayang, ibu buat bakso untuk mu."
Ega menerima box dengan rasa senang dan kaget. "Terima kasih, Bu!" Kemarin setelah makan siang ia menonton acara kuliner bakso. Ega meneguk liur kering tanpa sengaja ia bergumam ingin makan bakso.
Mika tersenyum manis senang melihat reaksi dari si calon mantu, "Sama-sama habiskan itu dan minum obat mu." Mengelus pundak Ega.
Netra Mika bergulir menatap Chris yang masih menahan raut geli. "Kau juga sarapan anak nakal," ketus nya. Chris tidak bisa menahan tawa dia tahu sang ibu masih merasa malu.
Sesekali menyuap Chris mendengarkan alasan Steven tentang perubahan jadwal launching produk baru. Chris memberi masukan sedikit dan ide itu di sambut senyum ramah sang ayah.
Ega sangat menikmati bakso buatan Mika. Sesekali menjawab dan bertanya untuk timbal balik. Mereka terlihat sudah sangat akrab.
Selesai sarapan Chris membantu Ega minum obat. Sebelum obat larut dalam tubuh memberi reaksi berupa kantuk, pintu terbuka menampilkan sosok pria dengan wajah cemas ke arah Ega.
"Ega, syukurlah kau sudah sehat, aku sangat cemas." Memeluk Ega tanpa melihat aura hitam mengisi kamar.
.
.
.
__ADS_1
Tbc