
"Selamat Tata." Ucap penuh bahagia lolos dari kedua sahabatnya.
Rani merengut. "Jangan nangis. Nanti tamu berpikir lain tentang pengantin wanita terlihat muram di hari bahagia," ledek Rani mengusap pipi Tata penuh hati-hati dengan tisu.
Ega ingin kembali menangis di saat seperti ini. Melihat satu lagi teman menempuh hidup baru dan bahagia. Tarikan napas terdengar tertahan di tenggorokan.
Melihat celoteh kedua sahabatnya. Mereka masih di kamar rias khusus pengantin. Selepas ijab perias meminta pengantin untuk berganti pakaian, lebih berwarna sebelum banyak tamu yang datang.
Perias wajah juga ikut melempari canda, membuat suasana jadi lebih cair. Mereka berempat dengan si asisten perias yang tidak kalah cekatan.
Nando lebih dulu selesai dan menunggu diluar bersama yang lainnya. Semua mengira akan ada ijab ulang. Di luar dugaan pria bermata cokelat sangat lancar saat mengucap depan penghulu tadi.
Chris di samping Ega sempat berbisik jenaka. "Wow. Keren. Sepertinya aku harus hafal dari sekarang,"
Ega tidak bisa menahan tawa. "Untuk apa?" Chris menjewer telinga Ega, "Kenapa tidak peka?" Ega menahan tawa untuk tidak meledak. "Sebentar lagi ya, kau harus siap." Cibiran si gadis terdengar membuat, Chris kembali menjewer telinga.
"Oh. Ya ampun," Rani mendesah geli, saat melihat Ega senyum-senyum tidak jelas. "Tata yang menikah, kau yang melamun jorok!" Ega mendelik. "Sialan, itu kau." Semua yang ada di dalam tertawa lepas.
"Selesai, ayo ratu kita ke aula." Ajak Ega dan Rani menuntun Tata pelan seperti bayi belajar jalan.
Senyum Nando merekah menyambut pengantin wanitanya. "Cantik, sangat cantik." Chris dan Saka menanggapi beda, "Jangan tertipu, itu rayuan untuk nanti malam." Mereka tertawa kencang di balas pukulan di kepala masing-masing.
Menjelang siang aula sangat padat tamu. Banyak juga yang berfoto. "Ega." Panggil Rani.
"Aku di panggil Saka, kau tunggu di sini sebentar."
"Ok." Melihat Rani pergi terburu dan berbelok ke arah lift.
Chris mendekat. "Mana Rani?"
"Baru saja pergi, katanya dipanggil Saka." Chris mengangguk, "Oh, pasti mereka di lantai 10, sedang makan. Saka juga lelah, kami bergadang semalaman. Kau mau ke sana?" tawar Chris dan dahi si gadis berkerut, "Nando, sengaja menyewa beberapa kamar lantai 8 untuk keluarga jauh. Khusus untuk kita sahabatnya satu kamar di lantai 10 tadi."
Ega menggeleng. "Di sini saja, aku ingin melihat Tata. Dia sangat cantik."
"Kau jauh lebih cantik," lempar rayuan receh. Ega mendengus geli.
"Serius."
"Gombal,"
"Serius."
"Ya aja,"
"Kenapa seperti itu? Kau—"
Bahu Chris di tepuk keras. Laki-laki dan dua perempuan, di balik punggung Chris saling menyapa ramah. Mereka teman SMA, senang juga bisa reuni. Dari arah depan Rani dan Saka terlihat lagi batang hidungnya. Berbaur dan saling lempar canda seperti biasa.
"Kita pulang ya," Saka berujar genit.
Tata dan Nando tersenyum dan mengangguk. "Terima kasih, seminggu ini kalian sangat membantu." Nando tulus. Sahabatnya membantu persiapan di satu minggu sebelum hari pernikahan.
"Tidak gratis dude, kau harus bayar. Beri kami ponakan yang lucu." Mereka tertawa. Nando memasang wajah suram, "Hah, tapi hari ini aku tidak di jatah. Bulanan sialan itu datang tadi siang," Tata mencubit perut Nando.
Mereka tertawa lagi sebelum berpisah.
"Kalian hati-hati," ucap Tata lamat.
Tata, Rani dan Ega saling melepas peluk, senyum dan melambai saat menjauh.
Mereka pasti akan bahagia Ega berucap dalam hati.
__ADS_1
🍁🍁🍁
Aktivitas pagi ini sangat padat. Ega harus kembali mengulang jadwal si bos. Jadwal yang rapi harus di susun ulang karena pembatalan sepihak dari perusahaan lain.
Chris seharian tidak di tempat. Ia pergi bersama Genma untuk pantau langsung pembangunan gedung baru dari proyek besar. Selepas dari sana akan rapat pemegang saham di perusahaan Malik. Dan berlanjut untuk acara amal nanti malam.
Ega memberi tahu semua lewat email. Di kantor gadis itu sama sibuknya. Memeriksa banyak berkas dari tiga divisi. Membuat kerutan muncul di wajah si manis.
Selesai periksa, Ega segera beranjak dari tempat duduk, kembalikan berkas yang menurut nya ada masalah.
"Ya ampun, aku salah nama tujuan dan ada beberapa belum selesai pengiriman. Untung belum sampai ke tangan bos." Ririn bagian surat jalan dinas menyesal. "Terima kasih banyak, Ega" Gadis itu mengangguk ramah.
"Kalau revisi selesai, biar aku periksa ulang,"
"Ok."
Lift terbuka Ega melangkah santai menuju ruang kerja. Kelopak mata si gadis melebar mendapati Jessy duduk di sofa menyilang kaki.
"Berapa kali kau menyerahkan tubuh mu?" tanpa basa-basi pertanyaan jijik lolos dari mulut medusa.
Ega menatap sinis dan diam. Duduk di kursi kerja bersiap mengetik laporan selanjutnya.
"Bicara b*d*h." Bentak jessy tepat di samping Ega.
Ega menutup mata dan berdiri. "Aku tidak mengerti, siapa yang kau maksud?" suara nya di buat tenang.
Jessy melipat tangan angkuh, "Jangan sok suci." Mendesah lemah, "Aku tahu Chris tidak akan menempel kalau kau tidak memberi imbalan."
Bibir Ega menipis. "Kalau kau sangat ingin bermalam dengan nya, kau hanya perlu datang dan goda dia, bukan datang ke sini dan mengacau."
"Oh, kau terlalu berani untuk ukuran buruh rendah."
Ega melempar tawa sinis. "Ku rasa kedudukan itu lebih baik dari pada 'sampah'."
Pintu terbuka. Jessy melotot terkejut Chris masuk dengan wajah garang. Menolong Ega untuk berdiri. Memberi tatapan Elang yang siap mencabik tubuh Jessy.
"Apa yang kau lakukan?"
Iris Jessy bergerak gelisah. "Kau salah paham, sekretaris mu lebih dulu mengatai ku," bela nya.
Satu alis Chris naik. "Aku tidak peduli. Sekarang enyah dari sini, pergi." Usir Chris sangat muak.
Jessy tidak terima dia di usir. "Chris —" setengah berteriak.
"Pergi atau aku panggil keamanan untuk menyeret mu." Ucapnya sedingin mungkin.
Jessy kesal keluar dengan tangan terkepal. Ia akan membalas lihat saja nanti.
"Kau kembali? Bukan nya ada rapat di kantor Malik?" tanya Ega beruntun.
Senyum Chris timbul. "Semua berjalan sangat cepat dan lancar, kau rindu?" Ega tersenyum di tarik dalam dekapan panjang.
Genma menyesal temani si bos masuk ruangan dan diabaikan.
🌟🌟🌟
Rani dan Saka mendengus serta memutar malas mata mereka. Anak bontot Mika yang katanya tampan itu ternyata bisa sangat over protektif.
Mereka berjalan beriringan melewati setiap toko yang ada. Matanya pekat Chris memberi tatapan tajam pada setiap pria yang tertangkap basah melirik kekasihnya.
"Maklum baru laku." Saka ketus. Rani tertawa. "Kau benar, tapi lucu juga bertahun-tahun berteman, baru lihat dia punya setia." Saka mencubit hidung Rani gemas.
__ADS_1
"Jika ada nominasi pasangan gibah, kalian pasti menang." Ucap Chris sengit.
Rani dan Saka kembali tertawa puas wajah lecek Chris sangat asyik untuk di goda.
Masuk ke salah satu tempat makan ala Korea mereka pesan sesuai selera. Menunggu pesanan datang Saka dan Chris hanya sibuk memperhatikan dan mendengarkan obrolan kedua gadis.
Ponsel Chris berdering. Pria itu meminta izin untuk menjawab, setelah Ega mengangguk dia berjalan ke arah toilet.
Ega perhatikan tingkah Chris menerima telepon dengan sendu. Tubuhnya mulai keringat dingin, jari nya saling bertaut di bawah meja. Rani melihat itu memberi kode pada Saka, namun pria itu peka.
Mencebik kesal ia membuka aplikasi instagram, suara cempreng Rani sukses membuat Ega terkejut terlepas dari lamunan.
Rani menanggapi gosip artis yang muncul di beranda. Ega sesekali tersenyum dan memberi komentar.
Rani bertanya tentang gaun pengantin terindah menurut Ega, Rani menunjukkan beberapa desain baru milik nya. Butik Rani hampir tiga minggu ini resmi di buka.
Ega tidak pemilih dalam mode, ia tipe yang sederhana. Menyukai dua dari enam desain baru Rani. Gaun yang di pilih sangat sederhana jauh dari kesan mewah tapi sangat cantik dan elegan. Rani masih antusias menyimak pendapat Ega tentang desain gaun nya. Ia cukup senang mendapat kritik dan saran terlebih dari sahabat sendiri.
Pesanan mereka datang tatapan Ega ke arah kamar mandi Chris belum juga keluar dari sana.
Kenapa lama sekali?
Sebenarnya siapa yang menghubungi?
Mulai terusik rasa gelisah. Sampai ia harus menahan sesuatu yang ingin keluar di sudut mata.
Menatap kosong makanan dia atas meja tanpa niat menyentuh. Menoleh netra nya melihat Chris berjalan ke arah meja. Kekasih nya menarik bangku, duduk tanpa mengucap apapun.
Ega melirik dalam diam. Menatap lamat sampai ia bisa melihat ada bulir bening kecil di dahi kekasih.
Chris mengerut kening heran.
"Ega, makanan mu sebentar lagi dingin." Ega sedikit salah tingkah. Dengan buru-buru ia mengambil sumpit lalu mengapit makanan sedikit payah, dan ia semakin kesal.
"Ega."
Gadis itu menoleh dan menatap Chris sedikit sebal. "Aku mau makan, jangan ganggu!" menarik napas pelan.
Chris menekuk alis, melihat wajah Ega terlihat kesal. "Ega."
Gadis itu mencebik. "Apa?"
"Sumpit mu terbalik," mata gadis itu melebar menatap sumpit di tangan, meringis kelakuan minus–nya.
B*d*h.
Berdeham sebentar. "Kau juga, harus makan," balik sumpit menyuap sayuran dan potongan kepiting itu ke dalam mulut.
Chris terkekeh, mengelus puncak kepala Ega gemas. Baru satu suap ponsel nya kembali berbunyi tapi kali ini sebuah pesan yang masuk. Suara napas berat terdengar. Chris balas santai tanpa tahu Ega gundah.
Pikiran Ega mulai bercabang namun segera di tepis, ia harus percaya pada Chris. Percaya pria itu setia.
Air mata yang sedari tadi di tahan menggenang, dengan cepat dia berdiri dan mengatakan ingin ke toilet. Mencuci muka mencoba tenang.
🌷🌹🌷🌹
.
.
.
__ADS_1
Tbc