Pacar Pertama Calon Kedua

Pacar Pertama Calon Kedua
Pacar Pertama Calon Kedua 38


__ADS_3

Langkah cepat Rendi di gulung gelisah sepanjang lorong rumah sakit. Hampir satu bulan terakhir pria itu ada di Canada bersama Malik. Perusahaan Malik di Canada mengalami perkembangan pesat. Membuka cabang dan mencari penanam saham baru juga investor untuk penambahan.


Perusahaan Rendi memiliki menduduki rating di nomor tiga. Malik melakukan pengajuan kerja sama baru. Dari kerja sama mereka yang pertama terbilang sukses besar dan bisa meraup untung hampir di atas perkiraan. Sebelumnya Rendi sudah memberi tahu Ega. Menyuruhnya menjaga diri baik-baik sampai dia kembali.


Firasat Rendi tidak meleset sedikit pun.


Hari ini  dia sudah kembali, tanpa istirahat dari bandara ia langsung ke rumah sakit menjenguk Ega. Hidan mengikuti langkah Rendi, pria itu sudah memberi tahu kamar rawat mantan nyonya.


"Ega, syukurlah kau sudah sehat, aku sangat cemas." Memeluk Ega tanpa melihat aura hitam mengisi kamar.


"Aku sudah tidak apa-apa." Balas Ega menepuk punggung Rendi.


"Sudah ku katakan jangan sembarang menyentuh kekasih ku bereng*ek." Jiwa cemburu Chris berkilat, hampir memberi bogem mentah di wajah Rendi.


Mika langsung menutup mulut dengan kedua tangan. Steven maju melerai. "Dude, santai ini rumah sakit." Penuh peringatan, sang ayah menjadi bijak.


Mereka semua terkejut, melihat seorang pria datang dengan wajah penuh cemas. Tanpa permisi memeluk Ega serta berucap lirih.


Rendi mengulas senyum remeh. "Cih, bedeb*h Ega ku anggap sebagai adik sekarang." Celetuk Rendi kalem.


Chris memasang wajah sinis, "Bereng*ek tetap bereng*ek, itu bukan alasan untuk mu memeluk kekasih ku sesuka hati."


Rendi membuka kedua tangan lebar mencoba memeluk Ega sekali lagi, sangat senang menggoda Chris si pemarah. Belum sampai ia mendekap Ega, si pemarah lebih dulu menyentak bahu Rendi kasar.


"Bereng*ek," umpat Rendi namun tidak lama mengulas senyum geli.


Chris menepuk-nepuk lengan Ega. "Bu belikan aku kembang tujuh rupa. Ega harus mandi kembang. Gadis ku bisa terkena sial lagi." kalimat drama Chris mencairkan suasana.


Rendi merotasi mata malas. "B*j*ng*n tidak berakhlak." Sungut Rendi, lalu menyapa kedua orang tua Chris.


Kedua orang tua Chris menanggapi dengan terkekeh kecil. Steven dan Mika tahu Rendi mantan suami Ega.


Ega menyembur tawa kecil mampu mengalihkan kedua pria tampan berseteru. Dia paham sifat kekasihnya. Pria itu mencoba menjadi benteng untuk Ega tidak tersakiti.


Oke, dilihat dari sudut pandang Rendi seperti masih ingin terus  menggoda Chris. Situasi gerah ini akan berlanjut jika tidak ada yang menengahi. Oh, ayolah dia baru saja minum obat ingin segera istirahat bukan mendengar—


"Kau lebih tidak beradab."


Rendi memercik tawa keras memegangi perut. "B*Jing*n dungu, sesama pemain jangan berkata seolah kau paling suci." Serta-merta mengusap ujung mata seolah Rendi tertawa sampai menangis.


Mengejek sekali.

__ADS_1


Chris memasang wajah datar,membalas kalimat Rendi dengan suara kelewat biasa. "Kau benar aku suci dan kau bang**t."


Rendi tersulut, kelopak matanya melebar tidak terima ucapan Chris. "Sialan—"


Suara Rendi tertahan di kerongkongan, saat suara lembut dengan intonasi ketus melecut. "Bisa kalian diam?"


—sampai kapan mereka berdebat. Ega menarik napas kesal. Kepalanya terasa semakin pusing, terlebih efek obat sudah mulai bereaksi melemaskan otot tubuh.


Kedua pria itu membeku menemukan presensi Ega menatap sinis. Seolah Ega memiliki tenaga untuk melempar mereka  keluar dari kaca lantai sepuluh.


Kedua orang tua Chris sekilas bergeming. Menahan tawa, mendapati ekspresi kedua pria  tengah adu mulut langsung bungkam.


Chris mengusap tengkuk. Melangkah menghampiri Ega. "Baiklah kau memang harus istirahat, anggap tidak ada pria laknat menjenguk." Sedikit mengulas tawa kecil mampu tertangkap telinga mantan suami Ega.


Ega merotasi bola mata jengah. Ya Tuhan, mau sampai kapan mereka terus berdebat. Dalam hati si gadis meronta dongkol, kesal sendiri.


Rendi mendengus keras, mengusap wajah lelah. "Aku laknat dan kau—"


"Kalian terlihat romantis sekali. Seperti pasangan muda adu mulut karena saling cemburu. Wow, sangat cocok. Jika perlu aku bisa daftarkan kalian berdua ke KUA! Bagaimana?" Melipat  bibir ketat dengan kedua alis terangkat sebal.


Steven dan Mika melepas tawa kencang. Percikan kalimat sarkas Ega mampu menggelitik isi perut.


Berbeda dengan Rendi dan Chris. Kedua pria tampan itu saling bertaut pandang sesaat lalu berekspresi mual. Sampai Rendi benar-benar harus ke kamar mandi membuang isi perut. Dan Ega merasa puas berhasil membuat suasana hening.


"Kau berkata seolah aku gay?" Chris berseru setelah mencerna baik ucapan sang kekasih.


Kedua bahu gadis itu terangkat acuh, "Aku hanya pikir kalian cocok."


Seringai nakal Chris muncul. Tubuh jangkung itu membungkuk sampai jarak wajah mereka dekat. Ega menelan ludah kering. Takut sendiri melihat seringai di wajah Chris.


"C-Chris kau mau apa?" terputus-putus dan merinding.


Lidah merah Chris menjulur keluar, membasahi bibir sendiri. Menatap lurus pada iris Ega "Mungkin kau lupa ingatan, atau apa itu sebutannya? Ah iya. Amnesia, benar? Selama kau sakit aku tidak pernah menyicip bibir mu. Dan kau berpikir aku gay." Iris hitam si pria bergulir menatap bibir tergigit kecil, mengusap dengan lembut.


Berbisik rendah nan sensual. "Dengan senang hati aku buktikan, aku masih normal." Satu telapak lebar Chris masuk di selah bantal dan tengkuk. Semakin mengikis jarak wajah, napas halus mereka menyambut hangat di pipi.


Mika menahan napas, membekap mulut sendiri. Steven mendengus meraih tangan Mika keluar dari kamar. Anak keparat itu memang tidak berakhlak Steven mengumpat dalam hati.


Rendi membuka pintu kamar mandi, satu langkah kaki Rendi tertahan mengambang di udara. Bersamaan iris cokelat madu  melebar serta mengumpat dalam hati, dia datang bukan untuk melihat adegan sialan itu.


Baritone lain berdeham. Dokter Rei datang untuk memeriksa. "Kalian bisa lakukan itu nanti." Suster di belakang Rei menutup setengah wajah dengan papan di tangan. Terlalu malu melihat adegan itu.

__ADS_1


Ega salah tingkah, "Kami tidak lakukan apa-apa!" seru nya menggigit bibir kecil dengan wajah merah matang menahan malu.


Rei melirik Chris. Kekasih Ega mendesah samar. "Ya, kau benar nanti malam akan ku kunci." Rei menggeleng kepala mendengar jawaban Chris.


Jelaga Rendi bertaut dengan Chris memasang wajah penuh ejek. Duduk di sofa santai. Menunggu dokter dan suster memeriksa Ega.


🌟🌟🌟


Galih menarik napas lega. Manda masih menangis dalam pelukan Ega.


"Maaf Ega, saat dengar kabar kau siuman pesawat ku sudah berangkat. Juga persiapan pernikahan adik ku, aku jadi telat menjenguk mu." Saling mengusap pipi.


Ega tersenyum manis. "Tidak apa, aku mengerti. Dulu saja kau super sibuk terlebih sekarang sudah resmi menjabat sebagai istri Galih. Aku tahu kesibukan mu, Man!"


"Terima kasih, kau memang terbaik." Mereka sama-sama tertawa.


Melihat dua orang di sana tertawa bibir Galih tertarik membentuk senyum. Suami Manda melirik kekasih Ega membuka kulkas meraih tiga minuman dingin memberikan satu pada Manda.


"Ega tertidur lama, apa tidak terjadi sesuatu?" pertanyaan itu meluncur saat Chris mendekat.


Memberi satu lagi minuman kopi dingin kemasan botol pada Galih. Chris duduk di sofa kecil. "Tidak, semua baik. Dokter mengatakan proses penyembuhan Ega terbilang cepat. Ega juga sudah melakukan fisioterapi dua hari ini."


Memutar penutup botol Chris meneguk minuman kopi itu sedikit. Alis nya berkerut rasa kopi nya sedikit aneh. Ah, sial. Ini rasa alpukat. Menutup lagi minuman kopi itu. Ia berdiri kembali membuka lemari pendingin meraih lagi minuman kopi dan membaca nya jeli.


Galih menatap bingung. "Kenapa dengan itu?" menunjuk dengan dagu minuman kopi sudah di buka.


Chris menggeleng geli, "Itu kesukaan Taka, rasa alpukat. Selera nya memang aneh." Cibir nya.


Percakapan lain mengalir begitu saja. Satu persatu sahabat mereka datang memenuhi kamar. Kania dan Taka juga datang menambah ramai suasana. Hati Ega menghangat. Senang hari ini semua datang berkunjung. Ega semakin tidak sabar untuk segera pulih, Berkumpul di tempat seharusnya berbagi macam cerita bahagia dan sedih seperti dulu.


💖💖💖


🌷🌹🌷🌹


.


.


.


Tbc

__ADS_1


Tinggalkan jejak


__ADS_2