
Ega gadis manis janda kembang Rendi, rutuki bayangan laknat yang menyesap masuk menggoda. Menggelengkan kepala menggigit pipi dalam. Tangannya terus mengetuk kepala dengan pulpen beberapa kali geram sendiri.
Isi kepala gadis itu dipenuhi bayangan sexy si bos saat mandi beberapa waktu lalu. Fokusnya terbelah. Tentu. Bahkan mengetik pun jemari nya kaku.
Oh my. Ini pesona bos yang sangat memikat atau memang dirinya yang berubah menjadi gadis mesum penikmat roti sobek.
Oh, shiit.
'Kenapa aku bisa se-mesum ini,' menjatuhkan wajah di atas lipatan kedua tangan depan komputer.
Bergumam tidak jelas menyebut kata b*d*h dan mesum berulang kali. Komputer masih menyala menampilkan jurnal kegiatan Chris yang belum selesai dia ketik.
Ck, ini semua pasti karena Rani, yang selalu menyelipkan cerita mesum ketika bersama Saka.
Mengingat beberapa kata yang Rani ucapkan saat makan malam kemarin.
'Aku tidak bisa menolak tubuh nya yang sexy', hanya bicara seperti ini saja aku merindukannya.
"Ck, mesum."
Meluruskan tubuh ia sedikit tersentak. Melirik ragu ke samping mendapati sepasang sepatu besar pria. Kepala Ega menengadah kaku hatinya berdesir kala sepasang iris menatapnya lembut.
Sejak kapan Chris di sana, aku tidak dengar pintu terbuka, apa dia dengar ?
Meneguk liur kering. Sungguh ia akan malu jika benar tertangkap basah sedang mesum.
"Apa aku mengatakan sesuatu?" tanya nya ragu serta gelisah.
Chris menggeleng. Iris mereka bertaut dalam diam, tidak ada yang berkedip , tidak juga memutuskan kontak.
Chris berdeham. Bingung. Bibirnya setia merapat. Menyampaikan perasaan nya pun sangat takut. Tidak seperti dulu, lancar seperti jalan tol tanpa pikir panjang dan takut penolakan. Ya, penolakan itu intinya.
Restu sang ibu sudah di tangan. Yang hilang sekarang nyalinya.
Ke mana nyalinya!?
Chris menipiskan bibir sebelum bicara. "Ega, aku ingin mengajak mu makan malam. Aa, kalau kau ada acara aku tidak apa, tidak masalah, ah iya tenang saja lanjutkan pekerjaan mu. Jangan pikirkan tentang tadi, iya jangan." Tergagap sendiri.
Berbalik badan pria tampan itu mengusap tengkuk yang tidak pegal, menggigit bibir bawahnya kecil. Melangkah mendekati meja kerja. Keringat dingin muncul didahi. Ia menarik napas mencoba menenangkan debaran jantungnya.
Sekali lagi takut ditolak. Itu sumber utama.
Membuat Ega mengulum senyum geli. Bos tampan playboy itu sedikit aneh. Mengambil berkas dari bagian pemasaran yang dititipkan padanya, menyerahkan berkas lalu tersenyum.
"Aku mau, rezeki tidak baik jika ditolak," ucap Ega pelan dan lembut.
Senyum manis Ega menular pada Chris. Pesona dewa tercetak jelas di sana membuat Ega sedikit menahan napas.
Tangan Chris terulur membuka berkas membacanya sebentar dan mengangguk.
"Siang ini aku ada urusan, nanti sore aku jemput." Baritone itu lembut, "Sudah masuk jam makan siang, gabung bersama teman mu," tambahnya.
Ega mengangguk. "Kau juga harus makan, suka lupa kalau sudah sibuk." Tangan Chris terulur menepuk puncak kepala Ega lembut.
"Aku senang kau khawatir padaku,aku pergi dulu."
Chris melangkah keluar ruangan dengan rasa bahagia dan senyum mengembang sempurna.
🌟🌟🌟
Ega mendesah lelah melihat jam kecil yang melingkar di pergelangan tangan. Hampir jam 07.00pm sudah waktunya makan malam.
Pintu ruangan terbuka Chris tersenyum dan masuk. "Kau sudah selesai?"
Ega mengangguk, "Ada dua berkas di meja mu dari tim divisi umum untuk kerja sama baru, satu lagi dari bagian keuangan merekrut beberapa data bank yang akan ikut mendanai proyek selanjutnya." Jelas Ega.
Chris mengangguk. "Kita pulang sekarang, aku akan menyuruh Genma untuk kirim email,"
"Ok." Merapikan meja kerja.
__ADS_1
Jarinya menekan mouse untuk save data yang telah dia masukan lalu tekan shutdown mematikan komputer.
"Mau makan apa?" saat mereka sampai di lift.
Ega memasang wajah bingung. "Bagaimana kalau di taman, di sana ada bazar pasti banyak tenda penjual berbagai makanan,"
Mencuri satu kedutan bingung di alis Chris.
Pintu lift terbuka. Keluar dari sana dan meneruskan pembicaraan mereka.
"Kau serius mau kesana?" tanya Chris sekali lagi. Dan Ega terkekeh penuh binar. "Iya, apa kau takut sakit perut?"
Gelengan kepala Chris membuat senyum Ega semakin merekah. "Aku belum pernah ke tempat seperti itu, aku hanya melihat tapi untuk masuk sama sekali tidak pernah," jujurnya.
Mobil itu keluar area gedung. Hanya ditemani hening. Mereka sama-sama canggung. Seharusnya Ega sudah terbiasa mengingat beberapa hari terakhir.
Bagaimana dengan Chris? Lucu. Pria itu sesekali menekan udara dalam dada untuk tidak terlalu grogi. Mengingat hari ini ia akan menyatakan perasaan nya.
Uwu. Goodluck boy.
Sampai di taman kota. Chris menarik sudut bibir geli melihat wajah Ega berbinar seperti anak kecil bertemu taman bermain.
Telapak tangan lebar meraih jemari Ega. Menarik atensi si gadis untuk menatap si tampan.
Pipi halus tidak gatal menjadi sasaran jemari lain Chris. "Di sini ramai, aku takut kau hilang," bohongnya.
Ega mendengus geli. Tapi tidak juga melepaskan. Mulai beranjak dari tempat parkir ke dalam taman mencari tempat untuk duduk.
Pengunjung bazar sangat ramai. Sulit mendapatkan tempat duduk. Beruntung. Di bagian barat taman jauh dari stand pedagang ada tempat duduk kosong untuk mereka.
"Kau mau makan apa?"
"Mmm ... Apa saja yang penting bisa bikin aku kenyang,"
Chris berdecak. "Semua makanan pasti bikin kenyang,"
"Tidak juga, coba saja kau makan biji bunga matahari walau 1 truk kau tidak akan kenyang."
Chris kembali membawa beberapa makanan kesukaan Ega. Tidak lupa dengan minuman botol. Acara makan malam sederhana tapi cukup membuat Chris senang.
Chris mengira Ega akan memilih restoran mahal saat tahu Chris yang mengajaknya. Tapi gadis ini berbeda. Ia menyukai hal sederhana.
Enam bulan waktu yang sangat lama untuk Chris. Mengakrabkan diri dengan seorang perempuan. Kalau di kilas balik, ia sama sekali tidak pernah melakukan hal itu.
Raut wajah si tampan tampak berpikir. Mulai merangkai kata yang ia pelajari beberapa waktu lalu dari Taka maestro pujangga.
"Ega." Pemilik nama menoleh menatap si pemanggil.
Angin yang cukup kencang membuat tangan Ega beberapa kali menyelipkan rambut panjang ke belakang telinga.
Mereka duduk bersebelahan, Chris menggeser tubuh sedikit lebih rapat. Jantung pria itu mulai berdetak kencang.
"Ega, bisakah kau menemani ku?"
"Ke mana?" polosnya.
Chris mendengus dia yang salah mencari kata atau memang Ega yang tidak paham. Mencoba menetralkan lagi rasa gugup pria itu berdeham sebentar. Iris nya melembut menatap lamat iris bening Ega.
Meraih tangan Ega mengelus jemari kurus itu, menaruh tautan tangan mereka diatas paha.
"Maksudku... maukah kau menemani ku di sisa hidupku?"
A.apa dia baru saja melamar ku, Ayah–ibu.
Hening tercipta. Suasana bising dari pengunjung, teriakan para penjual stand berbaur saling bersahutan.
Tak ada jawaban dari Ega membuat Chris merasa drop dan mulai berpikir kalau dirinya baru saja ditolak.
"Maaf kalau aku mengagetkan mu." Memaksa menyelipkan senyuman. Hatinya kecewa.
__ADS_1
"Chris." Panggilnya pelan menatap manik hitam lembut, "Kau tahu status ku—"
Chris memotong cepat, "Kau menerima ku?"
"A-a bukan begitu—"
"Kau menerima ku?" cecar lagi.
Ega menutup mata, menarik napas dalam membuang nya perlahan, "Dengar—"
"Katakan kalau kau menerima ku?" gigihnya mendesak Ega.
Ega mendengus kesal. "Chris, aku janda belum tentu orang tuamu setuju, terlebih aku orang biasa, bawahan mu di kantor."
Chris berdecak jengkel kenapa harus itu yang di jadikan alasan, kedua tangannya menangkup kedua sisi wajah Ega. "Ega lihat aku, apa aku peduli semua itu?"
Tatapan mereka bertaut lekat dengan getar jantung membuncah.
"Bagaimana dengan orang tua mu?" Ega sekali lagi mencoba menjelaskan hubungan mereka tidak akan mudah.
Tanpa menjawab Chris memajukan wajah, menyatukan kening mereka. Saling menyelami perasaan masing-masing.
Sedekat ini, Ega bisa merasakan deru napas hangat Chris menyentuh kulit wajah. Ega serasa diajak menyelami dunia si bos melalui tatapan lembut pria itu. Chris juga merasakan hal yang sama.
Perasaan senang menguar begitu dahsyat malam ini, kedua ibu jarinya setia mengelus kedua pipi Ega.
Sudah lama dirinya ingin melakukan ini lagi, mencium gadis yang sebentar lagi menjadi miliknya.
"Ega kau menerima ku?" tanya nya sekali lagi memastikan.
Senyum manis terukir, "Ya," satu senyuman lain mampir tepat didepan wajah si gadis.
"Aku mencintai mu," bisik nya tepat di bibir si gadis. Dibalas kata yang sama lalu sama-sama tersenyum.
Tanpa ragu Chris memiringkan wajah mencium kedua pipi Ega. Rasa nyaman mengalir begitu saja.
Biarlah taman kota malam ini menjadi saksi sisi romantis Chris yang tidak di ketahui oleh siapa pun.
Chris menjauhkan wajah sebentar, lebih merapatkan Ega dalam satu pelukan hangat. Mengusap lembut jemari Ega.
Menyelipkan satu tangan pada tengkuk si gadis merapatkan lalu memagut bibir ranum Ega dengan lembut.
Jantung mereka benderang keras seolah tertangkap jelas di telinga. Melepas ciuman Chris berbisik....
"Jangan takut lagi, jangan ragu lagi. Aku akan selalu setia untuk hati mu, aku mencintai mu Ega." Berbisik lembut.
Air mata Ega mengalir tanpa persetujuan. Memeluk pria yang resmi menjadi kekasihnya, isak kecil lolos. Dengan senang hati Chris membalas pelukan Pacar pertama.
Chris melepas pelukan, membuat Ega mendongak menatap calon kedua dalam hidupnya.
Ibu jari Chris mengusap pipi basah Ega. Pria itu tahu Ega masih memiliki trauma atas hubungannya dulu. Menyibak poni Ega mencium kening si gadis penuh kasih sayang.
Perlakuan istimewa Chris disambut isak.
"Jangan pernah pergi, aku genggam janji mu di hatiku, setia untuk ku." Lirih Ega.
"Percaya pada ku." Tuturnya lembut. Mencium puncak kepala kekasihnya.
Meraih dagu membenamkan kembali bibirnya pada bibir Ega. Memagut dengan gerakan lembut. Bibir manis Ega menjadi ekst*si baru.
Di taman. Dengan sinar bulan temaram ditemani udara dingin. Saling mendekap dan bercumbu. Hari ini, tanggal ini menjadi saksi awal kisah romantis Chris untuk gadis bernama Ega Pacar pertama serta kasih sayang Chris menjadi Calon kedua untuk si gadis.
🌷🌹🌷🌹
.
.
.
__ADS_1
Tbc