
"Ren. Rendi aku mohon, aku minta maaf jangan seperti ini, aku mencintai mu," terisak duduk memegangi perut yang masih terasa nyeri.
"Jangan membuat ku muntah,"
Dea semakin terisak bersamaan seorang suster masuk ke ruangan kamar inap dengan wajah panik.
"Maaf tuan, saya ingin memberi kabar. Bayi anda tiba-tiba ia sesak, dokter sedang menanganinya saat ini."
Wajah Dea pucat pasi menatap pias suster. Tanpa peduli rasa sedih Dea, Rendi keluar dari sana menuju ruang khusus perawatan anak.
Tatapan pria itu sendu bercampur nanar malaikat kecil yang sama sekali tidak mirip dengan nya sedang berjuang untuk hidup.
Air mata Rendi menetes, sakit hatinya bisa ia tahan. Tapi melihat malaikat kecil terbaring lemah di dalam sana membuat hati nya semakin di tusuk.
"Hidan beri tahu Malik, aku tidak mau kesalahan. Bagaimana pun anak itu darah dagingnya," tanpa menoleh.
Tanpa mengucap suara Hidan pergi.
Ibu jari Rendi mengusap kedua kelopak mata "Jangan pergi, aku tetap menyayangi mu, aku tetap menerima mu. Kau anak ku," menatap lurus bayi lemah terpasang banyak selang dan alat bantu pernapasan.
🍁🍁🍁
Malik mengusap wajah lelah setelah rapat selama dua jam dengan perasaan berdesir resah. Rapat telah usai, Malik masih di tempat nya tanpa ingin beranjak. Mendongak menatap langit ruang rapat , menutup mata getaran rasa yang berkecamuk dalam hati.
Apa yang terjadi!?
Suara pintu terbuka kelopak Malik terbuka, menatap siapa yang mengganggunya.
"Tuan." Sapa Zildan orang kepercayaan Malik.
"Ada apa?"
"Utusan Rendi ingin bertemu dengan anda tuan."
Sebelah alisnya terangkat. "Suruh dia masuk."
Hidan masuk berdiri depan pintu memberi salam hormat pada Malik. "Saya Hidan, tuan Rendi meminta saya menjemput anda,"
"Bilang pada bos mu, aku tidak ada urusan dengan nya," sinis Malik.
"Maaf tuan, saya hanya ingin memberi tahu kalau Nyonya Dea—"
Malik mendengus geram. "KAU MAU MENGACAUKAN HARI KU HAH, AKU TIDAK PEDULI LAGI DENGAN J*L*NG ITU." Memotong ucapan Hidan dengan marah yang meletup.
__ADS_1
Hidan menahan napas, telinga nya berdenging suara Malik benar-benar lantang. Hening. Hidan juga tak beranjak dari tempatnya berdiri. Melihat Malik tidak lagi bereaksi Hidan kembali membuka suara.
"Maaf tuan, saya datang membawa kabar. Datanglah ke Rumah sakit Ibu dan Anak di pusat kota ruang Flowless no 1120—8 anak anda sedang kritis, saya permisi."
Seketika tubuhnya membeku, bergetar, air mata meluncur tanpa di perintah.
Melangkah keluar ruangan. Menyusul Hidan, ia harus bertemu anak nya.
Ega duduk gelisah, beberapa waktu lalu ia bertemu Hidan di salah satu Supermarket. Hidan bercerita yang dialami Rendi.
Ega bersimpati atas masalah yang menimpa Rendi. Ia tidak pernah berharap semua ini terjadi. Ia selalu berdoa yang terbaik untuk sang mantan suami.
Takdir berkata lain, ia mengingat kala Rendi meminta maaf padanya, dan ingin memperbaiki semua. Jelas ia menolak keinginan pria itu.
Ega menolak halus Rendi. Ia memberi tahu hatinya telah terisi nama lain. Pria itu menanggapi dengan positif untuk mendukung Ega sebagai seorang kakak.
Ega menerima dengan tangan terbuka, hatinya lega sudah bisa menerima kehadiran Rendi berdamai dengan masa lalunya.
Chris menatap Ega tampak gelisah dan menghampirinya.
"Ada sesuatu?"
"Chris, aku mau minta izin, boleh?" tanya nya ragu menatap manik hitam Chris.
"Ke mana?"
"Aku ingin bertemu seseorang apa kau marah."
"Untuk apa aku marah, kau ingin bertemu dengan teman lama mu, siapa?"
Jantungnya berdebar gundah, iris gadis itu berpendar bergulir ke segala arah. Takut.
"Kau ingin bertemu siapa?" rasa penasaran muncul seketika.
"Janji tidak marah," menjadi sekretaris pribadi kekasihnya, ia tahu tabiat Chris.
"Hn." Pupus sudah kalau hanya ambigu itu terdengar sebagai jawaban.
Ega menutup mata sebentar, tangan mungilnya menggenggam tangan Chris. Iris nya bergulir menatap ragu manik hitam.
"Aku mau bertemu—"
"Rendi? Kenapa harus dia," belum juga selesai dengan ucapannya sudah diputus.
__ADS_1
Ega meneguk liur kering. Suaranya terputus.
"Kau sudah janji tidak marah," Ega menarik napas, "Aku mendapat kabar istrinya sudah tapi— itu orang lain," jelasnya membuat Chris mengerutkan dahi cukup dalam menatap penuh tanya pada Ega.
"Aku tidak mengerti!"
"Hidan bilang itu anak teman mu."
"Maksudmu?"
"Dia anak teman mu, anak Malik."
Netra Chris melebar, ia mengingat kembali saat Dea menikah dengan Rendi. Dea memang sedang mengandung.
Saat itu juga Malik sedang tidak ada di Jakarta. Wanita picik itu berhasil menipu Rendi sampai sejauh itu. Iblis licik.
"Aku antar ke sana," mengelus pipi Ega.
"Terima kasih," dengan senyum manis.
"Beri aku kecupan." Dengan seringai menyungging di sudut bibir.
Ega merona kenapa harus dia duluan yang mencium. Oh dia lupa pernah mencium Chris lebih dulu dan itu depan orang banyak.
Ega mendongak menatap mata hitam. Sedikit berjinjit untuk mencium pipi kekasihnya. Chris gerak cepat mendekap Ega memegangi tengkuk kepalanya.
Memagut bibirnya lembut dan dalam, sedikit lama mereka menikmati kelembutan yang tercipta. Chris melepas pagutan mereka, menatap dan menyentuh bibir ranum Ega yang masih basah lalu tersenyum.
"Itu cium." Ega merengut kesal.
"Itu kecup cuma sebentar, mau lagi?" goda pria itu dengan terkekeh.
Ega melotot juga merona.
Chris suka mode itu. "Aku mencintaimu Ega." Tambahnya dan mencium puncak kepala Ega.
Ega mengangguk kemudian mendongak mencium pipi kekasih tampan. Hatinya semakin bahagia. Semoga pilihan hatinya tepat dan untuk selamanya.
🌷🌹🌷🌹
.
.
__ADS_1
.
Tbc