
Galih paham Ega tapi kali ini ia bersikeras untuk tahu apa yang terjadi.
Saka menepuk pundak Chris. Kekasih Rani itu tahu Chris terlihat meletup dengan sikap diam Ega.
Chris mencoba menerka siapa dalang semua ini. Melirik Saka yang melempar dagu lalu melangkah pada balkon. Galih mengikuti langkah mereka.
Udara serta angin malam hari ini di kota Lombok hari ini cukup kencang dan dingin.
"Kau punya bayangan siapa yang melakukan ini?" bersandar pada sisi dinding balkon dengan tangan terlipat depan dada. Memandang lurus ke depan menatap kerlap-kerlip cantik kota Lombok.
"Aku—" belum sempat Saka mengutarakan pikiran. Galih datang berdiri di pinggiran pembatas balkon memunggungi Chris dan Saka kedua tangan dalam kantong celana.
Galih melirik Chris dari ekor mata. "Aku sepertinya tahu!" berbalik menatap tegas Chris.
Iris mereka terhubung saling melawan "Katakan?" terdengar perintah.
Galih mendengus sekali lagi sifat bossy Chris tidak berubah, "Jawab dulu pertanyaan ku. Apa tujuan mu?" memicing mata tajam.
Hening membentang Chris memilih bungkam.
Galih menilik Chris menahan ego level tinggi. Pria itu ingin tahu seberapa serius Chris pada Ega.
Mereka saling melempar pandang berkilat tajam. Mengabaikan udara dingin menusuk, seakan iris mereka pun dapat melakukan hal yang sama.
Saka memutar mata bosan. Tidak menyangka ia diapit manusia tembok di sini.
Jengah sekali.
"Jika tidak ada yang bicara sebaiknya kita masuk," tukas Saka jengah.
Chris melirik Saka, melemaskan bahu sedikit menggeser tubuh menghadap Saka dan Galih.
"Aku mencintai Ega, aku ingin membahagiakan nya." Chris berkata jujur.
Galih mendengus jengkel. Sangat bosan mendengar dalil yang sama. Bukan ingin menyamakan antara Chris dan Rendi. Argumen sama pernah ia dengar dari Rendi sebelum menikahi Ega. Dan sekarang telinganya menangkap hal serupa melecut dari mulut seorang playboy.
Muak sekali.
Galih terang-terangan mengumbar aura mengejek untuk Chris. Satu sudut bibir nya menyungging hambar.
"Aku pernah bertanya pada Rendi sebelum menikahi Ega. Ia memberi dalil yang sama," sahutnya tenang.
"___"
Galih menekan napas panjang, menghembuskan kasar sebelum bicara. "Jujur aku merasa kecewa dengan semua yang pernah diucapkan Rendi. Memberi harapan manis, yang nyatanya si bang**t itu tidak lebih memberi seteguk racun untuk Ega. Dari sana aku selalu protective bila ada pria yang mencoba mendekatinya," suara Galih tidak kalah dingin dari udara malam yang menusuk.
Ucapan Galih sukses membangunkan aura hitam bontot Mika, dengan kata lain Galih ingin mengatakan kalau perasaan Chris hanyalah main-main.
Rahangnya mengetat keras, Chris maju dengan tangan terkepal kuat ingin memberi bogem mentah Galih namun ditahan oleh Saka.
__ADS_1
"Chris... santai dude." Meraih kepalan Chris.
Galih menatapnya nyalang. "Aku ingin yang terbaik untuk adik ku, aku sadar tak mungkin selalu bersama nya. Selalu di sisi nya, terlebih aku akan menikah—" rahang Galih mengeras, "Apa aku percaya adikku tidak akan tersakiti? Terlebih pada Playboy b*j*ng*n seperti mu!" Galih mendesis geram.
Chris terhenyak ucapan Galih mengupas fakta. Wajar Galih meragukan perasaan tulus nya untuk Ega. Bukan hanya 1 atau 2 wanita yang pernah kencan dengan nya, ia bahkan tak bisa menghitung. Tapi perasaan ini nyata, ia bisa merasakannya.
Kepala Chris tertunduk, menatap keramik putih susu balkon hotel dengan nanar. Siapa yang tidak tahu reputasinya, selain ahli berbisnis ia juga ahli mengencani wanita.
Dalam diam Galih menelisik gerakan Chris yang memilih menunduk dengan mulut terkatup rapat. Pria itu sengaja menyuarakan isi kepala. Memancing Chris adalah tujuannya, ia akan menikah namun juga gelisah jika Ega terus di dekat Chris.
Chris menghela napas gusar mengangkat kepala, menatap Galih dengan tatapan tegas penuh keyakinan kalau dia memang memiliki perasaan tulus dan serius untuk bersama Ega.
"Kau bisa membunuh ku. Bila aku membuat hatinya terluka, kau boleh tidak percaya ucapan ku. Kau harus tahu ini yang kurasakan sekarang bukan sebuah perasaan biasa. Aku sakit melihatnya menangis, perasaan ku menghangat dan bahagia dengan melihatnya tersenyum," menatap lurus ke netra Galih.
Galih meneliti setiap kata yang diucapkan Chris. Mencoba mencari celah kebohongan diantara kata yang dia dengar.
Menipiskan bibir Galih tersenyum. Ia berharap apa yang di dengar dari Chris sebuah kebenaran. Galih tidak menampik Ega memiliki perasaan khusus untuk Chris. Saat ini ia hanya perlu berjaga sebagai seorang kakak.
Galih mengangguk "Aku pegang kata-kata mu dan kau—" tunjuk nya tepat di wajah Chris "—si bereng**k yang memenangkan jackpot, kurasa Ega, memiliki perasaan khusus padamu."
'Ega juga memiliki perasaan khusus padamu'
'Ega juga memiliki perasaan khusus padamu'
'Ega juga memiliki perasaan khusus padamu'
Galih dan Saka merinding geli serta jijik secara bersamaan melihat raut wajah Chris yang tiba-tiba berekspresi aneh.
"Saka, kau butuh temani dia ke psikolog." Galih menyembur pedas.
"Yeah, kau benar." Saka menyahut enteng.
Galih menggeleng keras. "Aku tidak jadi menitipkan Ega, ternyata kau punya sakit mental," Chris tampak tidak peduli terus tersenyum tanpa membalas ucapan pedas Galih.
"Kalian berdua memang tak pernah paham," Galih mendengus, Saka mencebik apa Chris lupa siapa diantara mereka yang lebih dulu dapat pasangan.
Wajah Chris berkilat serius. "Kau tadi mengatakan tahu siapa yang melakukan ini, katakan padaku!"
"Dea." Tegas dan dingin ia tahu sifat Dea sangat ambisius, walau hanya insting ia yakin wanita itu yang melakukannya.
"Kau yakin? Yang aku tahu ia sedang hamil besar tak mungkin melakukan perjalanan jauh," Saka penasaran.
"Kalian tidak mengenalnya. Aku lebih mengenalnya, dia teman kuliah ku juga sempat menyatakan perasaan nya tapi aku menolak, beruntung saat itu aku sendiri jadi tidak ada korban tapi salah satu teman dekat ku menjadi sasaran nya." Galih mulai bercerita saat dirinya kuliah dan berteman dengan Dea.
"Maksudmu?" Chris menuntut penjelasan.
Galih mendesah malas, "Di kampus aku dekat dengan Restu. Dea mencoba mencelakainya di toilet kampus, saat itu aku keluar kelas ingin ke perpustakaan. Di lorong toilet aku mendengar seseorang berteriak, aku mendobrak pintu itu. Apa yang ku lihat membuat ku merinding, Dea dan teman nya menyiksa Restu sampai—"
Galih mengusap wajah kasar pemandangan kacau Restu kembali dalam ingatan, "—setengah tubuhnya terekspos. Pakaian Restu di gunting, beruntung aku membawa jaket saat itu," Saka bergidik.
__ADS_1
"Rendi." Chris menggeram.
Galih tarik napas kuat lalu membuangnya perlahan, kepala nya menggeleng lemah. "Aku yakin Rendi sendiri tidak tahu hal ini," berbalik badan berjalan meninggalkan Saka dan Chris yang masih terlihat tak percaya.
"Aku masih tidak percaya, Dea tidak terlihat seperti psycho."
Chris melirik tanpa menjawab. Menghela napas dengan semua yang terjadi.
"Aku tak habis pikir, perempuan itu lebih kejam dari si ular Jessy." Suaranya rendah menahan marah.
Mereka masuk,melihat keadaan Ega yang sudah tertidur pulas. Galih melirik Chris sebentar.
"Aku percaya padamu, aku titip dia." Menepuk pundak Chris.
"Kau tak perlu mengatakan, aku tahu apa yang harus aku lakukan."
Galih tersenyum sedangkan Manda mencibir.
"Kau jangan macam-macam," ancam Manda lagi menunjuk Chris tegas.
"Tentu saja aku macam-macam" santai nya.
Galih membawa Manda pulang jika tidak ini akan panjang. Terlebih mereka harus bersiap untuk acara besok pagi.
"Begini saja, Chris kau pindah ke sini. Biar Tata dengan Nando, aku takut wanita gila itu kembali lagi." Saka mengusulkan.
"Aku akan mengambil—." Chris sudah berdiri namun ditahan oleh Nando.
"Tak perlu biar aku yang akan membawanya ke sini nanti. Pasti kalian belum makan, makanlah aku dan Tata sengaja membelinya,"
Nando membuka bungkus makanan yang mereka beli, tak ada yang bereaksi. Nando menghentikan kegiatannya.
"Aku tahu kalian cemas tapi jangan tidak mengisi perut, aku tidak mau repot."
Helaan napas dan jengah terdengar dari mereka bertiga. Mereka memang harus mengisi perut mereka yang sudah berbunyi sejak Galih dan Manda pergi.
Mereka terlalu malas untuk turun makan malam, yang ada di pikiran mereka saat ini hanyalah keadaan Ega.
🌷🌹🌷🌹
.
.
.
Tbc
Salaminezt
__ADS_1