Pacar Pertama Calon Kedua

Pacar Pertama Calon Kedua
Pacar Pertama Calon Kedua 31


__ADS_3

"Isi perut mu dulu. Dari pagi kau tidak mengisi perut. Kau juga perlu tenaga." Kania memberi pengertian untuk calon adik iparnya. Memberi satu kotak bento pada Chris.


Sudah sejak pagi menemani di sana. Tidak sekali pun melihat Chris berniat mengisi  perut. Walau sebatas kudapan ringan berupa camilan yang ia beli. Tidak, pria itu hanya minum dua cangkir cairan pekat yang masuk ke dalam perut.


"Terima kasih," ucap nya lemah, menerima kotak itu dan menaruh di atas pangkuan tanpa niat membuka.


Melihat tidak ada niat membuka dan makan walau satu suap. Calon kakak ipar nya menarik napas dalam dengan bibir menipis rapat. Menahan jengkel dan cemas, tapi ia tidak bisa memarahi. Terlebih menangkap wajah muram itu menunduk semakin dalam. Akhirnya, Kania memilih duduk di samping adik kekasihnya.


Ada jeda panjang mengisi menit-menit mereka. Tidak ada yang bersuara. Hanya bunyi tapak kaki dari suster penjaga dan beberapa orang yang melintas di lorong.


Kekasih Taka mulai paham sifat Chris. Pria itu cenderung lebih diam dan misterius saat ada masalah. Tidak seperti Taka. Kekasih nya sangat mudah di tebak jika sesuatu mengusik.


Bunyi alat medis dari balik pintu tertutup terdengar samar. Melempar jarum tak kasat mata ke setiap sel seluruh tubuh Chris. Saat ia harus menatap sosok di dalam sana. Banyak perban serta alat-alat yang terpasang.


"Apa kakak ku mengatakan sesuatu, tentang perusahaan?" suara pertama Chris mengalun rendah.


Kania menoleh memberi gelengan kepala lemah, "Tidak, dia tidak pernah. Mungkin tidak ada yang serius, dan dia bisa menangani sendiri."


Chris mengangguk, "Kakak ku, pria yang beruntung. Kau masih menyimpan rasa itu untuk nya. Ku rasa dia tidak sanggup bila melepaskan mu."


Wajah Kania memerah. Membuang wajah ke samping, ia sangat canggung bila membahas itu. Terutama dengan adik ipar nya. Tapi kenapa Chris membahas yang membuat nya berdebar. Ia yakin Chris menggoda nya karena Taka juga suka usil.


"Kenapa tiba-tiba?" suara wanita itu gugup.


Chris memberi satu kedut senyum, hampir tidak terlihat sama sekali. "Dia frustrasi, berpikir kalau kau dan Poldi bersiap menikah. Aku memberi tahu, dan reaksi nya di luar dugaan. Dia terlihat seperti anak ayam yang tidak lepas dari induk nya. See, aku benar!?"


Mereka terkekeh. Kania hampir tidak tahu tentang itu. Ia terus menyungging senyum malu. Meminum kopi dingin yang juga ia pesan bersamaan dengan bento di tangan Chris.


Kania masih belum bisa melepas senyum. "Aku sempat berusaha, membuang rasa itu jauh. Namun aku gagal. Entah kenapa setiap aku melihat ataupun mendengar nama—nya. Dada ini kembali berdebar, rasanya sebal, marah dan bahagia!" terkekeh sebentar,  "Aku juga tidak tahu kenapa? Semudah itu aku menerima nya, yang aku tahu hati ini benar-benar telah memilih kakak mu." Menjawab dengan wajah tertunduk malu tanpa mengurangi binar senang.


Chris tersenyum, "Itu karena hati mu kuat, menjaga perasaan itu pasti tidak nyaman. Harus ku akui,  Taka memang butuh wanita seperti mu."


Pujian si adik ipar kembali menoreh satu semu merah muda di pipi Kania. "Terima kasih, ku rasa itu berlebihan. Taka juga pria baik dan aku juga beruntung bisa menjalin ini bersama nya."


Chris melempar senyum penuh arti, "Kau harus tahu ini. Taka yang beruntung, dia sendiri bilang begitu berulang kali pada ku. Dan yah, sekarang aku percaya. Kalau dia memiliki seribu keberuntungan."


Kania hampir melayang mendengar nya. Taka, memang pernah berucap kalau ia beruntung di cintai oleh dirinya. Ia tidak berpikir sejauh itu arti dari ucapan sang kekasih. Hatinya kembali berdebar kencang serta menghangat.

__ADS_1


Bunyi bento di buka. Pandangan wanita itu bergulir dari sudut ruang.


Alis Chris hampir menyatu. Menatap wanita di samping nya dengan wajah bingung. Ia baru sadar calon kakak iparnya membeli satu box bento dan dua minuman dingin.


"Kau tidak—" saat satu sendok di tangan sudah terisi nasi dan lauk siap masuk mulut.


Kania menggeleng lagi. Melihat jam kecil yang melingkar di tangan. "Kau duluan saja, aku janji menunggu kakak mu. Taka sebentar lagi datang." Memberi gestur pada Chris untuk segera menyantap bento tersebut.


Chris hanya mengangguk, makan sedikit demi sedikit sampai habis.


🌟🌟🌟


Chris masuk ke dalam ruang rawat Ega. Duduk di kursi pinggir ranjang dengan hati berdenyut perih. "Ega," masih menatap sendu. Mengusap punggung tangan sudah sembuh dari luka ringan.


Membawa nya ke dalam genggam. Chris berbisik lirih. "Hari ini satu minggu, kau asyik bermain dalam mimpi.  Kau egois! Tidak rindu pada ku, hm? Benar kata Dilan, rindu itu berat. Tidak apa aku bisa menanggung nya apapun untuk mu." Ia terkekeh pahit. Menghantar sesak dalam dada.


Chris menarik napas panjang dan menghembus berat. Tatapan nya jatuh pada tangan dalam genggaman, "Dari sekian banyak hari. Aku selalu berharap di setiap hari ku selalu ada diri mu."


Hening menyapa. Chris hanya menatap wajah Ega. Kekosongan hati nya semakin terasa saat separuh jiwa nya pergi. Tangan kiri nya terangkat, wajah nya tiba-tiba mengeras. Menatap lagi tautan tangan mereka. Dia berdiri menatap wajah pulas pucat sang kekasih.


"Aku pergi sebentar. Kau istirahat ya. Aku pasti kembali." Ia berdiri, menatap wajah pucat terpasang alat bantu pernapasan.


Nando dan Saka menghampiri. Chris memakai  jaket kulit hitam. Si tampan menoleh pada Rani, Tata dan kakak iparnya. "Kami pergi, tolong jaga dia."


Mereka mengangguk. "Kalian, jangan berbuat di luar batas." Tata tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi.


Tiga pria tampan melenggang keluar rumah sakit.  Bugatti Veyron dengan gagah meluncur menuju  lokasi.


🌟🌟🌟


Jiwa Jessy sempat melayang beberapa saat lalu, dia di seret paksa dan berontak hebat. Salah satu pria di sana memberi obat bius dosis tinggi. Seketika kesadaran Jessy menghilang. Jessy melenguh, kepala nya masih tertunduk terasa sangat pening seperti habis terhantam benda keras. Tengkuk wanita itu kaku dan pegal. Memaksa diri untuk membuka mata. Buram dan berbayang, terus mengerjap mata kuat-kuat bekerja keras supaya bisa melihat dengan jelas.


Tunggu.


Sialan.


Ia sudah tersadar, mendapati kedua tangan di balik punggung tidak bisa bergerak bebas. Mata nya melebar dengan iris bergetar takut. Degup jantung berontak keras memberi sinyal antisipasi hal tidak terduga.

__ADS_1


Kepala nya menggeleng rasa pusing, masih membuat nya tidak nyaman. Iris mata terpasang Softlens dengan warna  Sterling grey cantik, mengamati ruang sempit temaram. Ada enam bangku dan meja panjang di sana. Beberapa botol minuman keras. Lemari besar dengan dua pintu, lemari bersusun warna-warni kecil dekat jendela.


Jendela ruang itu kecil dan sedikit tinggi. Tidak seperti jendela kamar pada umumnya.


Iris mata semakin melebar, mulut nya terbuka lebar. Melihat seseorang terikat, tidak jauh dari nya masih pingsan. Badannya gemetar sekarang. Bagaimana bisa ketahuan secepat ini? Ia menelan ludah kering. Keringat dingin mulai keluar. Sukses membuat tampungan udara dalam paru-paru menipis dan tersengal. Jessy, wanita itu merasa ketakutan.


Oh, sialan. Apa dia sudah tertipu?


Jessy kembali memutar kilas balik kejadian tadi malam. Yang tiba-tiba mendapat sebuah pesan bernada genit dari pria pujaan. Ia menggigit bibir kuat. Benar, mana mungkin pria itu mengirim pesan mesra pada nya. Hampir tidak pernah—ke semua wanita yang pernah berkencan dengan nya, tidak pernah.


Betapa bodoh dirinya! Kenapa bisa? Jessy, lupa satu fakta kalau Chris hampir jarang  berbagi pesan. Pria itu lebih sering di hubungi dan dicari. Jika merasa penting pun pria itu lebih memilih untuk datang langsung, bukan berbagi pesan.


Oh, tamat sudah riwayat nya!


Kata-kata kotor Jessy ucap dalam hati. Ia terus memaki diri sendiri. Kesal dengan sifat yang terlalu mudah terlena hanya dengan kata manis. Ia menunduk melihat tampilan nya sendiri, mengutuk sebuah keberuntungan  yang kini membawa petaka untuknya.


Lihat! Jessy dan penampilan terbaik nya,  untuk bertemu pria itu. Rasanya pakaian indah yang melekat pun sudah tidak lagi berguna. Mata abu-abu itu mulai memanas dan berair.


Isi kepala berbalut bayang indah, seketika melayang  jauh berganti rasa takut mencekam jiwa. Benak nya memutar tindak kejam yang bisa saja ia terima jika ia berdiam diri di sana. Sekujur tubuhnya kembali bergetar bersamaan keluar keringat dingin.


Jessy yakin jika keadaan sudah begini. Pria itu tidak segan berbuat kasar. Ia bisa saja melepas Jessy keluar dari sana, dengan catatan tubuh banyak cedera, atau yang lebih parah  tanpa nyawa. Oh, sialan. Cara kerja otak meletup bayang negatif, kembali membuat jantungnya semakin berdetak hebat. Menebar rasa panik berlebih. Napas Jessy terasa sempit, sulit dan sakit. Ia berharap emosi nya bisa mengurangi kecemasan yang berlebih.


Ah sial, ikatan tambang ini sangat kuat!


Jessy meringis sakit, saat memaksa tangan harus bergesekan pada tambang. Ia tidak boleh menyerah. Walau rasa perih di terima kulit mulus lengannya,  tangan Jessy terus bergerak, menoleh ke balik punggung berharap bisa lepas dari simpul ketat tambang besar.


Pepatah berkata sambil menyelam minum air. Tangan Jessy terus bergerak. Dengan iris mata terus berpendar mencari sela/ lubang  untuk lari atau paling tidak bersembunyi. Harus, ia pasti bisa!  Keluar dari ruang sialan ini. Tidak peduli pada sosok yang masih menunduk dengan tangan sama terikat.


Suara derap sepatu dan vocal Baritone dari luar. Memacu reaksi liar jantung Jessy. Ia merasa mati.


🌷🌹🌷🌹*


.


.


.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2