Pacar Pertama Calon Kedua

Pacar Pertama Calon Kedua
Pacar Pertama Calon Kedua 44


__ADS_3

Langit-langit kamar hotel menyapa netra hitam si pria. Kepala nya menoleh  menemukan sang istri masih tertidur pulas, di posisi miring menghadap ke arah nya dengan hidung hampir menyentuh lengan.


Senyum sumringah hadir di wajah si tampan menyambut mentari—eh, bukan ini sudah siang. Menyelipkan rambut Ega pada telinga. Dua punggung jari telunjuk dan tengah mengusap pipi si empu yang masih bergulung dengan mimpi.


Iris mata Chris menyusuri wajah damai sang istri. Jari telunjuk panjang si tampan bergerak menjamah berhenti pada tulang selangka. Senyum si tampan semakin melebar menjumpai tanda merah di sana. Iris nya bergeser ke bawah dari leher, dada atas Ega tidak tertutup sempurna juga ada tanda cinta Chris.


Jari telunjuk itu merambat masuk pada sisi selimut, membuka pelan tanpa harus mengganggu tidur sang istri. Deretan gigi rapi dan putih  Chris terlihat, pria itu senang menjumpai hasil karya di kedua squeezy  mainan baru pria itu.


Isi kepala nya mulai terbayang kejadian semalam dan pagi buta ini. Rasanya tidak percaya. Ia bisa langsung menyentuh seluruh aset Ega, ia menemukan lingkaran flek darah tipis di pistol air nya. Ah, mahkota paling berharga bagi gadis itu dia mendapatkan nya. Bangga tentu mengingat status janda melekat pada diri Ega.


Dalam hitungan jam mereka sudah melakukan beberapa kali. Terlebih kemarin malam, selesai mengacak jantung Chris melirik ke arah jam dinding. Seringai nya muncul, jam dua belas lebih tiga puluh delapan menit. Berarti dua jam lebih. Wanita nya pun langsung tidur pulas, Chris sempat berpikir sang istri pingsan.


Pagi dini hari, tangan Chris terulur ke sisi ranjang tidak mendapati Ega di sana. Pria itu membuka, mata langsung bangun turun dari ranjang tanpa kenakan apapun ia melangkah ke kamar mandi. Ega berteriak terkejut melihat Chris muncul tanpa busana, beraksi spontan menyemprot sang suami dengan shower di tangan.  Wanita itu mengira ada setan tuyul besar hotel penghuni mewah.


Memasang wajah mesum, satu sudut bibir Chris tertarik ke atas. "Kau mengajak mandi? Ini masih terlalu pagi! Bagaimana kalau di bathtube terdengar tidak buruk?"


Ega melongo, yang benar saja ini masih sangat-sangat pagi untuk mandi. Kepala itu menggeleng lucu, "Aku hanya ingin pipis, ku kira kau tuyul besar penghuni hotel."


Chris speecless, kalimat itu terdengar seperti pencemaran nama baik. Mereka di hotel bintang lima milik nya, dan istri nya baru saja komentar kalau ia memelihara tuyul. "Kau kira hotel ku tempat pesugihan!"


Melihat suami nya bersungut kesal Ega terkekeh.  Ternyata sang suami juga ingin buang hajat kecil. Ega membuang muka, benda di tangan suami nya itu tadi malam begitu keras dan nyata. Ega di buat panas dan liar.


"Sudah selesai pipis nya?" Suara Chris menyadarkan Ega dari lamunan.


Ega berpaling menyembunyikan ekspresi malu, "Hu'um, sudah."


Mendengar jawaban Ega, Chris menekuk alis. Ada yang aneh di nada itu, melihat Ega berjalan mendekat Chris menyentuh bahu memutar tubuh Ega berhadapan dengan nya.


"Kau tak apa? Apa ada masalah?"


Ega menarik napas, menatap sang suami. "Tidak, semua baik-baik saja."


Chris tidak percaya, ia berpikir apa mungkin semalam ia terlalu kasar. Ega tampak tidak nyaman. "Jangan bohong, sweety katakan!" perintah nya.


Tangan Ega terulur ke bahu, "Gendong."


Chris terkekeh angkat tubuh Ega, menggendong wanita itu di depan lalu keluar dari kamar mandi. Chris duduk di tepi ranjang bersama Ega di pangkuan. Tangannya bergerak membuka kancing piyama sang istri.


"Chris, lebih baik kita tidur lagi." Melihat kegiatan nakal si suami.


Satu alis Chris naik, "Baju mu basah, kau menyiram ku tadi."


"Maaf, aku terkejut. Kenapa juga tidak pakai baju?"


Chris melepas baju Ega, kepala nya mendongak menatap iris bening Ega. "Malas, aku pikir tidak ada orang lain selain kita untuk apa pakai baju."


Satu tangan Chris meraih rahang menyusup pada tengkuk mendorong kepala itu sampai bibir mereka bertemu. Ciuman lembut dan panjang, Chris berhasil membuka kembali pengait bra hitam. Menggeser sedikit sampai kedua Squeezy kembali menyembul.


Kedua telapak lebar nya merengkuh mengelus sepanjang punggung sang istri, memijat kecil di sana tidak lama mendorong tubuh Ega untuk lebih merapat. Pagutan mereka terlepas, Chris kembali mencecap leher.


Baru seperti ini Ega sudah merasa kembali bergairah. Oh, Chris benar-benar tidak membuat Ega tidur cepat.


Satu squeezy di remas, satu lagi ia isap lamban juga lembut di seluruh bagian merah muda mungil tidak terlepas dari lidah dan bibir panas Chris. Lama, tidak ada bosan menghisap gemas saat merasakan usapan telapak Ega pada otot bahunya mengencang. Terkadang ia juga melahap kedua ujung merah muda serta meremas secara bersamaan.


"Chrisshh,"


Desah sang istri mengusik rungu, Chris semakin nekat melanjutkan aksi nya. Satu tangan si pria turun, menyusup pada celana panjang sutra meremas benda belakang lebih besar dan kenyal di sana. Ega melenguh kepala nya menunduk ia menggigit bibir, melihat pistol air itu sudah mengeras; menegak; menunjuk ke arah nya. Merebahkan tubuh Ega,  kembali melukis kenangan indah di malam pengantin bersama dalam satu genggam semesta meraih puncak nikmat.


Ega melenguh, tidurnya terganggu cahaya masuk ke dalam ruangan. Kelopak nya terbuka mengerjap menyesuaikan cahaya yang masuk.

__ADS_1


Samar-samar suara televisi terdengar. Ia menyentuh kepala memijit kecil, rasanya sangat pusing. Iris nya berpendar menatap keliling kamar hotel, tidak menemukan sang suami hanya televisi menyala.


Chris muncul dari balik pintu kamar mandi. Pria itu tersenyum, mencium kening dan bibir sang istri. "Kau baru bangun atau dari tadi?"


"Baru," sahut Ega kalem.


"Aku sudah pesan makanan pada room service, minta diantar sekitar—" melirik jam pada dinding, "—sepuluh menit lagi."


"Ok, aku ingin mandi. Rasanya lengket sekali." Gumam nya melirik sang suami, dibalas dengan satu kedip mata genit.


"Kau ingin pesan sesuatu?"


Ega tampak berpikir, "Mungkin es krim."


"Ok,"


Tubuh Ega bangun melingkarkan selimut pada tubuh dan turun ranjang. Ide jahil Chris muncul menginjak selimut di lantai sampai merosot sempurna. Ega melotot, menoleh ke belakang mendapati sang suami angkat bahu acuh. Menyahut kain menutup tubuh nya asal, berlari ke kamar mandi.


Chris tertawa kencang melihat sikap malu sang istri. "Untuk apa malu, aku sudah melihat serta memberi tanda di semua bagian." Menggeleng kepala.


💖💖💖


"Apa es krim tadi kurang?" tanya Chris duduk di samping Ega, melebarkan satu tangan mendekap sang istri dari samping.


"Tadi ukurannya kecil."


Satu alis Chris terangkat, "Kau suka yang besar?"


Kepala Ega terangguk masukan es krim ke dalam mulut.


"Berarti kau suka pistol air ku?"


Chris terkekeh, "Ah, jawaban mu— iya!"


Ega menggeleng cepat. "Tidak,"


Chris mengubah posisi duduk menghadap sang istri. "Serius? Tidak suka?" Kepala Ega tetap menggeleng. "Kau menjambak rambut ku, meracau, menyebut nama ku saja dengan suara nakal mu—"


Wajah Ega merah matang, kenapa dari malam pertama suami nya ini senang sekali menggunakan kata—kalimat vulgar.


"—dan saat ku tanya 'enak?', apa kau lupa jawaban—"


Suara Chris terpotong Ega menjejal satu sendok penuh es krim masuk ke dalam mulut pria itu. Chris terbatuk-batuk dia tidak siap menerima es krim yang tiba-tiba masuk ke dalam mulut. Menekan es krim lembut dengan lidah sampai lumer. Selanjutnya Ega melotot, tanda Chris untuk diam.


Mereka sudah pulang, sekarang ada di apartemen Chris. Seharusnya mereka menghabiskan tiga hari di hotel tapi Ega tidak mau dengan alasan tidak bebas, dan ingin di rumah saja. Chris menuruti  membawa sang istri pulang ke apartemen nya, mengingat Ega juga belum pernah ke sana.


Ega tidak bisa lagi menolak. Sekarang sudah menjadi kewajiban nya untuk mengikuti ke mana sang suami membawa nya pergi.


Chris berdeham tidak perlu lagi di bahas, ia menyimpulkan tahu jawaban nya. "Sweety, tadi malam bertanya kau belum jawab." Mencari pembicaraan lain.


Dahi Ega berkerut, "Yang mana?"


"Di kamar mandi,"


Pipi Ega kembali merona mengira sang suami sudah lupa, ia sendiri bingung harus menjelaskan nya bagaimana.


"Sweety, kau ada masalah? Jangan sembunyikan apa pun, aku ingin kita saling terbuka."


Ega menggigit bibir kecil, menyendok es krim, masuk ke dalam mulut berakhir menggigit ujung sendok tetap menempel di mulutnya.

__ADS_1


"Ayolah, jangan sembunyikan apapun?" cecar Chris ia masih penasaran.


Ega mendesah, kepala nya bersandar pada bahu sang suami. Melipat bibir sebelum akhir nya membuka suara. "Aku—panas." Suara nya mengalun pelan hampir berbisik.


Jarak dekat Chris mampu menangkap suara kecil itu. Iris Ega bergulir ke atas punggung telapak Chris menempel di kening nya, dan ia tersenyum geli.


"Kau tidak panas, mana yang sakit? Apa kita perlu ke dokter?" Ega menahan senyum.


"Sweety, kau meledek  ku?"


Kepala Ega menggeleng dengan senyum tertahan di bibir nya. "Maksud ku, pipis ku  panas dan perih."


Chris terkesiap, jantung nya berdebar kencang. Apa dia keterlaluan? Apa dia menyakiti istri nya? Iris nya tertuju ke bagian itu. Tangan pria itu gemetar menyentuh hati-hati di sana.


"Suami ku, kau kenapa?" Chris terdiam memandang arah itu jarinya bergerak mengusap pelan di sana.


"Sweety, apa aku menyakiti mu? Apa begitu sakit? Jangan di tahan kalau perlu kita ke dokter?" wajah pria itu terlihat cemas, bermacam pertanyaan lolos dari pria itu.


Ega mengerjap mata. Benarkah suaminya sangat tidak ingin menyakiti nya? Suami yang selalu khawatir keadaan nya. Ega tanpa sadar menangis, semoga sikap manis, perhatian dan setia Chris selalu ada di setiap harinya. Membawa nama Ega di setiap langkahnya.


"Kita ke dokter?" Chris berujar panik mendapati sang istri menangis, hampir menggendong sang istri namun di cegah.


Ega mendekap erat sang suami. Tidak... tidak... ini bukan karena trauma nya dia, bukan! Ega menangis karena terlalu bahagia. Tidak pernah di sangka, kalau Chris bisa sangat sayang dan khawatir berlebih pada nya.


"Sweety," Chris berbisik lirih. "Maaf, apa aku memaksa mu?"


Ega menggeleng, "Aku tidak apa, ini memang perih dan panas kalau pipis. Mungkin karena pertama."


Chris mengusap air mata Ega penuh sayang, "Kau yakin? Tidak akan infeksi atau aku terlalu kasar?"


Ega terkekeh, mengusap air mata sebelum bicara. "Sangat yakin, aku tidak apa."


Chris masih tidak percaya, iris nya bergeser lagi melihat bagian tertutup rok itu. "Kau menangis, jangan membuat ku panik."


Ega menangkup wajah Chris, "Kau suami ku. Berhak atas diri ku, aku bahagia bisa menyerahkan memberi semua hak mu." Suara isak Ega membuat hati Chris terenyuh.


"Aku akan buktikan ucapan ku setia bersama mu." Chris berbisik yakin.


"Terima kasih, sudah mencintai ku." Ega bahagia, menurut nya jarang ada pria  seperti suaminya, mengecup lama pipi Chris lebih dulu ia berganti berbisik. "Aku mencintai mu."


Hati Chris tersengat senang selama ini Ega tidak pernah mencium juga ungkapkan isi hati lebih dulu, mencium puncak kepala sang istri. Chris tersenyum lebar membuat jantung Ega berdebar. "Aku lebih mencintai mu, istri ku!" Meraih bibir candu nya, membenamkan dalam pagut lamban.


Mereka berharap rumah tangga bisa langgeng, mendapat keturunan dan bahagia dengan cara mereka.


The End


Terima kasih sudah bersedia membaca karya abal-abal ✌️🙏.


Question : Ko chapter nya pendek?


Answear : Aku bukan author hebat, masih harus banyak belajar. Jadi chapter juga tidak bisa seperti tango. Berapa lapis? Ratusan 😂


Sekali lagi saya mengucapkan terima kasih untuk para Readers tanpa kalian cerita ini tidak akan berwarna 😘, Domo Arigatou minna-san 🙏 untuk menyukai cerita ini.


Stay gold baby,


Salaminezt


ViRuz04

__ADS_1


💖


__ADS_2