Pacarku Seorang Merman Tampan

Pacarku Seorang Merman Tampan
BAB 11 - Hari Pertama Di Semester Baru


__ADS_3

Vanya duduk meringkuk di atas tempat tidurnya sepanjang malam. Ia masih ketakutan mengingat kejadian tadi siang. Tiba-tiba teleponnya berdering tepat pukul jam dua belas malam.


Vanya mengangkat teleponnya. Dalam telepon tersebut terdengar suara laki-laki yang memanggil Vanya. Vanya menjawab telepon dari laki-laki tersebut dengan penuh emosi. Ternyata yang meneleponnya adalah mantan kekasihnya.


"Mau apa kamu menelepon jam segini? Lagi pula kita sudah tidak ada hubungan lagi!" ucap Vanya kesal.


"Jangan matikan dulu teleponnya Vanya! Aku ... aku minta maaf. Bisakah kita melupakan kejadian waktu itu dan menjalani hubungan seperti biasanya?" Leo berkata dengan tidak tahu malunya di telepon tanpa menyadari betapa sakit hatinya Vanya waktu itu melihat kekasihnya bersama orang lain.


"Hah? Apa kamu pikir semua wanita akan tertarik padamu lagi walau sudah disakiti olehmu? Tidak Leo! Jangan pernah berpikir aku mau melanjutkan hubungan kita lagi!" Vanya kemudian mematikan sambungan teleponnya karena sudah tidak tahan mendengar ucapan Leo yang menyebalkan.


"Haaah ... sebenarnya mau apa lagi dia meleponku? Tengah malam begini lagi. Sebaiknya aku blokir saja semua kontaknya," Vanya menghela napas panjang karena tak habis pikir mantannya tiba-tiba meneleponnya lagi.


***


Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas lewat. Namun, Vanya belum kunjung tidur karena masih merasa ketakutan. Tanpa sadar ia tertidur setelah waktu menunjukkan pukul empat dini hari. Tiba-tiba teleponnya berdering lagi. Kini waktu di jam dinding sudah menunjukkan pul enam tiga puluh pagi.


"Vanya apa kamu sudah bangun?" tanya sahabatnya dari telepon.


"Aaaahhh! Aku baru bangun Cilla. Memangnya kenapa?" tanya Vanya sambil memijat keningnya agar terbangun dari tidurnya.


"Apa kamu tidak ingat hari ini hari pertama pelajaran di semester baru?" teriak Pricilla dari telepon.


"Apa? Benarkah? Jam berapa sekarang? Aaah ... aku benar-benar tidak mengingatnya," teriak Vanya dengan panik.


"Sudah cepat bangun sana! Jangan sampai terlambat ya! Aku tunggu kamu di depan gerbang kampus." ucap Pricilla yang kemudian menutup sambungan teleponnya.


"Gawat! Aahhh! Ini gara-gara kejadian kemarin aku sampai tidak bisa tidur semalaman," Vanya kemudian bangun dari tempat tidurnya dan bergegas ke kamar mandi.


Baru saja beberapa langkah Vanya keluar dari kamarnya, kakinya tiba-tiba terasa sakit, "Awww! Aaah! Aku sampai melupakan lukaku gara-gara sudah kesiangan." ucapnya sambil meringis kesakitan.


Vanya lalu melanjutkan langkahnya ke kamar mandi dengan kakinya yang dijinjit. Setelah selesai, ia segera bersiap-siap untuk segera berangkat ke universitas tempatnya mengeyam pendidikan perguruan tinggi. Ia tiba-tiba merasa kebingungan. Ia tidak tahu harus bagaimana saat berjalan dengan jarak yang jauh nanti dengan kakinya yang terasa sakit.


Tiba-tiba, ia teringat dengan tongkat yang ia gunakan sewaktu kakinya patah dulu. Ia kemudian mengambil tongkat tersebut dan memakainya. Vanya lalu membuka gerbang rumahnya, ia terkejut melihat pecahan kaca yang masih ada di depan gerbang.


"Aahhh aku lupa membuang pecahan kaca ini. Sebaiknya aku buang dulu sebelum nantinya terinjak lagi," Vanya kemudian bergegas masuk ke dalam rumahnya dan mengambil kantong keresek. Setelah itu, dia memasukan semua pecahan kaca tersebut lalu membunganya ke tempat sampah.


"Sudah hampir terlambat menuju halte bus. Tidak mungkin aku bisa berlari dengan kaki yang terluka seperti ini." ucap Vanya sambil melihat jam tangannya di depan gerbang rumahnya.

__ADS_1


****


Sebuah mobil mewah tiba-tiba datang ke depan rumah Vanya. Seorang pria menggunakan pakaian serba hitam, kacamata hitam dan masker keluar dari mobil tersebut. Vanya sangat terkejut melihat pria itu keluar dari mobilnya lalu menghampiri Vanya.


"Ada apa dengan kakimu? Siapa yang telah melakukan hal ini padamu?" tanya Pria itu yang kelihatan panik karena melihat Vanya terluka.


"Eh? Apakah ini ... Tuan James?" Vanya menatap pria itu dengan tatapan kebingungan karena melihatnya menggunakan kacamata hitam dan masker.


"Iya ini aku. Kenapa kaki kamu jadi seperti ini? Apa ini gara-gara mantan kamu itu?" ucap James yang kemudian melepas kacamatanya sambil memerhatikan kaki Vanya yang terjinjit sebelah dan menggunakan sebuah tongkat.


"Aahhh! Aku akan segera terlambat. Kak James aku permisi dulu," teriak Vanya yang tiba-tiba teringat bahwa ia sudah akan terlambat.


"Tenang saja aku akan mengantarkanmu. Ayo aku bantu kamu jalan!" ucap James yang tiba-tiba menggendong Vanya.


"Eh? Tu ... turunkan aku! Malu dilihat tetangga aku, Kak. Kakak nggak perlu sampai gendong aku segala," teriak Vanya panik karena James tiba-tiba menggendongnya."


***


Di sisi lain, seorang pria memerhatikan aktivitas yang sedang Vanya lakukan. Pagi ini kebetulan ia melihat James menjemput Vanya dan menggendongnya masuk ke dalam mobilnya. Ia pun kemudian melaporkan kejadian tersebut pada seseorang melalui sambungan teleponnya.


"Hallo Nona Jasmine. Ternyata gadis itu masih belum jera juga. Dia masih berani mendekati Tuan James." ucap pria itu pada seorang wanita dalam sambungan telepon.


James kemudian mendudukkan Vanya di kursi depan mobilnya. Ia lalu menutup pintu mobil sebelah tempat duduk Vanya. "Mengapa aku merasa ada yang sedang mengawasi rumah Vanya? Sudahlah! Nanti aku akan menyuruh beberapa orang untuk mengawasi rumah Vanya secara diam-diam." gumam James.


***


James kemudian mengambil alih kemudi. Sepanjang perjalanan Vanya menatap James dengan tatapan penuh kebencian. Ia kesal karena James berbuat seenaknya pada dirinya.


"Kenapa kamu dari tadi menatapku seperti itu?" tanya James sambil melihat sebentar pada Vanya lalu fokus menyetir kembali.


"Haahhh ... apa kakak memang suka memperlakukan perempuan seenaknya? Aku sangat berterimakasih karena kakak mau mengantarkanku. Namun, kakak tidak perlu melakukan tindakan lebih jauh lagi seperti menggendongku tadi." ucap Vanya dengan kesal.


"Aku hanya membantumu agar berjalan dengan cepat. Apa kamu mau terlambat sampai ke kampusmu di hari pertama semester baru? Kamu pun belum menjawab pertanyaanku. Sebanarnya apa yang terjadi pada kakimu itu?" tanya James lagi pada Vanya.


Vanya hanya diam saja sebagai jawaban atas pertanyaan James. Ia enggan menceritakan kejadian yang dialaminya kemarin. James hanya menatapnya dengan perasaan khawatir.


"Baiklah jika kamu belum mau mengatakannya. Namun, jangan terlalu dijadikan beban dipikiranmu. Jika kamu perlu bantuan, aku tidak akan sungkan untuk membantumu." ucap James dengan lembut.

__ADS_1


"Mengapa pria ini begitu baik padaku? Aku jadi tidak enak untuk berkata kasar padanya. Apa aku harus benar-benar menuruti perintah sesuai surat itu?" batin Vanya sambil menatap James yang sedang fokus menyetir.


"Kenapa kamu terus menatapku seperti itu? Apa kamu menyukaiku?" tanya James yang mengetahui Vanya sedang menatapnya sambil tersenyum jahil.


"Apa? Mana mungkin saya sudah menyukai anda dalam waktu singkat." jawab Vanya sambil memalingkan wajahnya dari James sambil tersipu malu.


****


Mobil James kini sudah sampai di depan gerbang universitas tempat Vanya kuliah. Vanya kemudian turun dari mobilnya dan tidak lupa mengucapkan terima kasih padanya. James hanya membalas ucapan terima kasih dari Vanya dengan senyuman manisnya. Vanya pun tersipu malu melihat James yang tersenyum padanya. James pun kemudian segera memacu mobilnya meninggalkan Vanya di depan gerbang universitas.


Vanya kemudian berjalan menggunakan tongkat menuju gerbang kampus. Sahabatnya kini sedang memerhatikannya di depan gerbang kampus. Namun, ia tidak menyadari sahabatnya memerhatikannya. Vanya pun terus berjalan memasuki kampus sambil berjalan secara pelan.


"Sungguh sangat hebat! Vanya Apride diantarkan oleh seorang pria menggunakan mobil mewah dengan kakinya yang kini sedang terluka. Apakah dia yang menyakitimu?" ucap sahabatnya sambil menghampiri Vanya dari belakang.


Vanya kemudian menengok ke arah suara yang tak asing baginya. Ia sangat terkejut melihat sahabatnya itu tiba-tiba berada dibelakangnya, "Eh? Kenapa kamu ada disitu?" tanya Vanya.


Tiba-tiba, seorang wanita cantik dan bertubuh langsing menghampiri Vanya yang baru saja datang. Ia lalu mencela Vanya karena ia menggunakan tongkat. Lalu, ia pun tiba-tiba merebut tongkat yang digunakan Vanya untuk berjalan.


***


BERSAMBUNG.....


โ— LIKE๐Ÿ–’ dan tambahkan KOMENTAR๐Ÿ“ฉ agar author rajin update setiap harinya๐Ÿ™


โ— Mohon kritik dan sarannya semua reader๐Ÿ™


โ— Klik FAVORIT โค


โ— VOTE novel ini โ˜†โ˜†โ˜†โ˜†โ˜†


TERIMA KASIH.....๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™



SAMBIL MENUNGGU KELANJUTAN DARI NOVEL 'PACARKU SEORANG MERMAN TAMPAN', JANGAN LUPA UNTUK MEMBACA KARYA REKOMENDASI DI BAWAH INI !!! JANGAN SAMPAI TERLEWATKAN SETIAP EPISODENYA KARENA ALURNYA SANGAT MENARIK !!!


Author : Tie Tik

__ADS_1


Judul Karya : SUAMIKU CEO CILOK



__ADS_2