
Emosi Leo kini semakin tersulut. Dia lalu berusaha memukul wajah James karena tidak terima atas perlakuan yang ia lakukan padanya. Namun, tangan yang sedang melayang itu kalah cepat dengan tangan James yang menangkisnya lalu memelintirkannya ke belakang badannya.
"Lepaskan!" teriak Leo pada James yang memegangi keduanya tangannya.
"Tuan James, saya mohon anda lepaskan tangan pacar saya ini," pinta Wanita cantik itu.
James sama sekali tidak peduli dengan ucapan dari wanita cantik itu. Lalu ia berkata, "Jika kamu ingin aku melepaskanmu, cepat segera pergi dari sini!" perintah James pada Leo sambil memelintirkan tangannya dengan sekuat tenaga.
"Ah . . . baiklah aku akan pergi tapi lepaskan tanganku," ucap Leo sambil meringis kesakitan.
"Awas saja Vanya! Aku tidak akan membiarkanmu lolos begitu saja!" batin Leo.
Kemudian, James melepaskan tangan Leo. Ia lalu mengelap tangannya tersebut menggunakan sapu tangan disakunya. Leo pun segera pergi bersama dengan wanita cantik yang dibawanya. James menatapnya dengan penuh amarah ke arah Leo yang telah pergi dari ruangan tersebut.
"Sebenarnya berapa banyak wanita cantik yang sudah dia kencani. Dulu, dengan begitu bodohnya aku benar-benar mempercayai semua ucapannya. Namun, aku juga kini belum yakin bahwa James benar-benar menyukaiku. Aku takut dia seperti Leo yang pandai bersilat lidah," pikir Vanya sambil memerhatikan Leo yang telah keluar dari ruangan tersebut.
"Orangnya sudah pergi kenapa kamu masih terus menatapnya seperti itu," sindir James pada Vanya yang masih menatap ke arah pintu masuk.
"Eh? Apa?" Vanya tersadar dari lamunannya.
"Sudahlah tak perlu dipikirkan! Mari kita segera pulang!" ajak James sambil menggenggam tangan Vanya.
"Hmm . . . aku mau tanya satu hal," ucap Vanya secara tiba-tiba.
"Bertanya apa?" jawab James singkat.
"Apa kamu pengidap myshopobia?" tanya Vanya penasaran.
"Pft! Kemungkinannya begitu," jawab James sambil menahan tawanya
"Kok, mungkin sih? Terus kenapa lagi malah tertawa?" tanya Vanya dengan kesal.
"Nggak papa, kok. Sudahlah ayo kita pulang," sahut James mengalihkan topik pembicaraan. Ia seolah-olah tidak ingin Vanya mengetahui penyakitnya itu.
***
Mereka pun keluar dari ruangan tersebut. James terlebih dahulu membayar semua tagihannnya sebelum meninggalkan restoran. Setelah itu, mereka berdua bergegas menuju parkiran dan memasuki mobilnya James. Lalu, James pun mengemudikan mobilnya hingga sampai ke rumah Vanya dalam waktu beberapa menit.
Kemudian, ia membukakan pintu mobilnya untuk Vanya. "Eh? Terima kasih. Padahal aku bisa membukanya sendiri," gerutu Vanya kesal.
__ADS_1
"Aku hanya ingin memperlakukanmu secara istimewa. Apa itu tidak boleh?" tanya James sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Vanya.
"Sudah jangan bertingkah lagi! Bagaimana jika ada tetanggaku yang melihatku membawamu ke rumah. Hal itu akan sangat sangat merepotkan nantinya karena kamu seorang publik figur. Eh? Kalau begitu, apa tadi tidak ada yang memerhatikan kita?" Vanya tiba-tiba berteriak karena tersadar tadi mereka melakukan ciuman pada saat waktu masih senja.
"Tenang saja, tidak ada kok!" seru James sambil tersenyum.
"Dari mana kamu tahu tidak ada yang memerhatikan kita?" tanya Vanya ketus.
"Aku mengetahuinya dari kekuatan telepatiku. Haha! Aku tak mungkin berbicara hal yang tidak masuk akal seperti itu, walaupun itu adalah kenyataan yang sebenarnya," batin James menjawab pertanyaan dari Vanya.
"Cepat masuk sana! Waktu sudah semakin larut. Bukankah besok kamu masih harus kuliah?" pinta James pada Vanya.
Kemudian, Vanya pun berjalan menuju depan rumahnya dengan ditemani oleh James. James tidak lupa untuk mengucapkan selamat tinggal pada wanita yang dicintainya itu. "Selamat malam! Sampai berjumpa kembali di waktu lusa," ucapnya sambil mengecup kening Vanya.
Wajah Vanya pun memerah karena James riba-tiba menciumnya. "Selamat tinggal! Sudah sana cepetan pulang!" Vanya malah mengucapkan 'Selamat Tinggal' agar James segera pulang. James hanya membalas ucapannya itu dengan senyuman. Kemudian, ia menaiki mobilnya dan mengemudikannya ke arah jalan pulang. Lalu, Vanya pun memasuki rumahnya.
Di sisi lain, ada seorang pria berpakaian serba hitam yang sedari tadi mengawasi mereka berdua. Ia selalu melaporkan aktivitas yang Vanya lakukan melalui panggilan telepon pada seseorang yang ia panggil dengan nama Nona Jasmine. Termasuk kejadian panas yang Vanya alami malam ini.
Wanita yang berbicara dalam telepon itu pun amarahnya sudah tidak dapat dibendung. "Besok malam aku mau kamu mengikutinya dan lukai wajah sombongnya itu dengan pisau! Kita lihat, apakah dia masih akan menyukai seorang gadis yang wajahnya cacat. Jangan sampai perbuatanmu itu diketahui oleh orang lain! Lakukanlah dengan apik seperti biasanya," perintah Wanita Muda dalam sambungan teleponnya.
"Baik Nona Jasmine! Saya akan melakukannya sesuai instruksi dari anda," tegas Pria berpakaian hitam itu.
***
"Sadar Vanya status kalian itu jauh berbeda. Kamu tidak akan bisa berhubungan dengannya. Sebaiknya kamu segera menjauh darinya," ucap Vanya sambil memegangi kedua pipinya.
***
Malam pun sudah berganti menjadi pagi. Vanya pun bersiap melakukan rutinitas sehari-hari seperti biasanya. Rutinitasnya dimulai dari kuliah di pagi hari, mengerjakan tugas-tugas di siang hari, dan memulai pekerjaann paruh waktu di sebuah restoran barbeque pada malam hari.
"Apakah kamu sudah tidak takut lagi jika keluar di malam hari?" tanya sahabatnya yang mengikuti Vanya hingga ke tempat kerjanya karena merasa khawatir.
"Aku tidak apa-apa, Sil. Kamu tidak perlu mengkhawatirkanku," tegas Vanya pada sahabatnya itu agar tidak khawatir.
"Hoho! Apakah kamu tidak merasa takut lagi karena merasa sudah dilindungi oleh Ja .... " Vanya tiba-tiba menutup mulut sahabatnya yang tidak bisa menjaga rahasianya.
"Jangan dilanjutkan lagi ucapanmu itu! Ataukah kamu ingin melihat sahabat kesayanganmu ini menjadi sasaran bully dari netizen," tanya Vanya dengan raut wajah kesal sambil melepaskan tangannya yang menutup mulut sahabatnya
"Hehe! Aku minta maaf. Mulut ini benar-benar tidak bisa berhenti jika sudah ingin bergosip," seru Pricilla sambil tersenyum.
__ADS_1
"Kalau begitu aku pulang dulu, ya. Waktu pun sudah semakin larut. Aku tidak ingin dimarahi lagi oleh ibunda ratu yang suaranya bagaikan petir di siang hari itu," lanjut Pricilla sambil memegangi kedua bahunya menggunakan tangannya.
"Eh? Jangan bilang kaya gitu sama ibu kamu sendiri! Nanti kena karma loh!" canda Vanya.
"Heh! Apa kamu nyumpahin sahabatmu ini kena karma?" teriak Pricilla tidak terima atas ucapan yang Vanya lontarkan.
"Sebaiknya kamu pulang sana! Sebelum ibumu marah lagi seperti yang kamu ucapkan tadi," ucap Vanya mengingatkan sahabatnya kembali.
"Hah . . . baiklah aku akan pulang. Sampai jumpa besok di kampus!" seru Pricila yang lalu meninggalkan tempat Vanya bekerja.
***
Vanya pun bekerja hingga larut malam sampai restoran tersebut tutup. Kini waktu di jam dinding sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Vanya pun sudah diperbolehkan pulang dari tempat kerjanya. Ia berjalan menuju arah pulang ke rumahnya sendirian tanpa merasa takut sedikit pun. Saat Vanya melewati tempat yang sepi, tiba-tiba ada seorang pria yang mendorongnya dengan sangat kencang hingga Vanya pun terjatuh.
Kemudian, ia berusaha menengok untuk melihat siapa orang yang telah mendorongnya. Namun, tiba-tiba orang itu menyodorkan sebuah pisau yang mengarah tepat ke wajah Vanya. Beruntungnya James tiba-tiba datang dan menendang pria yang bermaksud mencelakai Vanya tersebut. Pria itu pun terjatuh hingga tersungkur ke tanah.
"Siapa orang yang menyuruhmu hah? Cepat katakan! Ataukah kamu ingin bernasib mengenaskan!" gertak James pada pria itu sambil menendangnya lalu menginjak dadanya menggunakan kakinya.
"Apa ini . . . James yang aku kenal selalu bersikap lembut itu?" batin Vanya merasa takut setelah melihat James yang bertindak sangat kejam.
***
BERSAMBUNG.....
โ LIKE๐ dan tambahkan KOMENTAR๐ฉ agar author rajin update setiap harinya๐
โ Mohon kritik dan sarannya semua reader๐
โ Klik FAVORIT โค
โ VOTE novel ini โโโโโ
TERIMA KASIH.....๐๐๐
SAMBIL MENUNGGU KELANJUTAN DARI NOVEL INI, BACALAH KARYA REKOMENDASI DI BAWAH INI !!! JANGAN SAMPAI TERLEWATKAN UNTUK MEMBACA SETIAP EPISODENYA KARENA ALURNYA SANGAT MENARIK UNTUK DIBACA !!!
Author : Susi Similikity
__ADS_1
Judul Karya : ISTRI KECIL DOSEN MUDA