Pacarku Seorang Merman Tampan

Pacarku Seorang Merman Tampan
BAB 35 - Merasa Cemburu


__ADS_3

Vanya pun berangkat ke universitas di pagi hari karena jadwal kuliahnya yang dimulai pukul sembilan pagi. Ia berangkat bersama Pricilla dengan diikuti oleh bawahan James secara diam-diam. Pembelajaran kuliahnya pun telah selesai tepat saat pukul dua belas siang.


Di halaman depan universitas ...


"Wah, ini adalah konferensi pers film movie terbaru yang akan dibintangi oleh James Haolin dan Bella Smith. Mereka terlihat sangat cocok ketika di potret sambil bergandengan tangan seperti ini," ucap seorang Mahasiswi penggemar James sambil melihat sesuatu di telepon genggamnya.


"Benar-benar! Apalagi mereka berdua sama-sama masih belum mempunyai pasangan. Film ini pasti akan melambung tinggi karena dibintangi oleh dua selebriti papan atas ini," timpal Mahasiswi di sampingnya.


Vanya dan Pricilla pun tidak sengaja mendengar ucapan para mahasiswi yang sedang membicarakan konferensi pers film terbaru dari James Haolin. Kebetulan mereka sedang berjalan di halaman depan universitas menuju ke tempat parkir. Sepanjang perjalanan, mereka terus saja mendengar para mahasiswi yang menyebut-nyebut Nama James Haolin.


Pricilla pun menjadi sangat penasaran setelah mendengar hal yang dibicarakan oleh para mahasiswi. Ia lalu mencari berita soal James Haolin yang terbit pada hari ini di internet. "Van! Lihat ini pacarmu dekat-dekat dengan perempuan lain!" Pricilla menyodorkan teleponnya ke Vanya.


"Biarkan saja, Sil. Kan itu merupakan pekerjaannya," sahut Vanya.


"Hoho! Apakah kamu benar-benar rela ketika melihat pacarmu tangannya di gandeng oleh wanita lain? Mungkin ketika kamu menjadi seorang penggemar akan menyebutkan hal seperti yang kamu katakan barusan tetapi kini statusnya dihatimu sangat berbeda jauh dengan yang dulu," goda Pricilla.


"Aku . . . aku tidak apa-apa, kok. Aku nggak akan berpikiran sempit seperti i ...." Vanya tiba-tiba menghentikan ucapannya sambil menengok ke arah gerbang masuk yang didepannya terdapat seorang pria sedang duduk di depan mobilnya.


"Eh? Leo? Mau apa dia kemari? Apakah menjemput Isabella?" ucap Vanya.


Pricilla pun menengok ke arah gerbang masuk karena penasaran dengan hal yang dilihat oleh sahabatnya. Ia sangat terkejut ketika melihat Leo sedang berdiri di sana. Ia lalu menepuk pundak sahabatnya agar tersadar dari lamunannya.


"Hey! Jangan perhatikan dia! Apakah kamu masih ada rasa padanya walaupun telah dicampakkan dengan sangat kejam?" tanya Pricilla dengan nada suara tinggi.


"Apa? Aku memperhatikan dia cuma penasaran saja mau apa dia kemari, bukannya masih ada rasa sama dia," tegas Vanya.


"Ooh .... Baguslah kalau begitu," sahut Pricilla.


"Itu . . . Kak Vano? Eh? Iya benar itu Kak Elvano," ucap Vanya tiba-tiba.


Pricilla terkejut atas apa yang diucapkan sahabatnya. "Vano siapa? Berapa banyak sih sebenarnya mantan pria yang kamu punya," tanya Pricilla.


***


Vanya pun tiba-tiba berlari ke gerbang masuk universitas seraya menghampiri pria yang dia panggil dengan nama "Vano". Pria tersebut pun menghampirinya saat melihat Vanya berlari ke arahnya. "Sudah lama, ya? Kira-kira berapa tahun kita tidak bertemu?" tanya Elvano.

__ADS_1


"Em . . . sekitar empat tahun Kak Vano. Bagaimana bekerja di sana apakah sangat menye ...." Pria itu pun tiba-tiba memeluk Vanya sehingga Vanya menghentikan ucapannya.


"Aku sangat merindukanmu adik sepupuku," ucap Elvano.


"Eh? Adik sepupu? Kok aku nggak tahu sih Van kamu punya keluarga yang masih peduli sama kamu?" tanya Pricilla tiba-tiba.


"Aku tahu semua tentangmu. Terima kasih sudah menjaga adikku dengan baik ketika aku tidak ada disini. Ah! Untuk pertanyaanmu barusan, aku jarang muncul di sisi Vanya karena aku bekerja di Eropa selama sepuluh tahun," sahut Elvano yang masih memeluk Vanya.


"Kakak! Tolong lepaskan pelukan Kakak yang sangat erat ini!" seru Vanya.


"Eh, maaf. Van, ayo tinggal bersamaku! Kakak akan mengurusmu dengan baik karena kini aku sudah mendapatkan pekerjaan yang bagus di Amerika," lanjut Elvano sambil melepaskan pelukannya.


"Em . . . soal itu . . . aku harus meminta izin kepadanya terlebih dahulu," sahut Vanya.


"Dia siapa?" tanya Elvano pada Vanya.


"Pacarku. Hehe! Aku tinggal dirumahnya karena rumahku kebakaran," sahut Vanya.


"Apa? Kebakaran? Kok bisa?" tanya Elvano terkejut.


"Kamu .... Ternyata kamu sudah besar, ya. Sebaiknya kamu jangan tinggal bersamanya. Kamu tinggal bersama Kakak saja. Kakak juga akan mengucapkan terima kasih padanya karena telah menjaga adik Kakak dengan baik," ucap Elvano.


"Nggak mau! Kakak tinggal sendiri saja. Lalu, sebaiknya Kakak segera mencari pasangan di usia Kakak yang sudah tidak muda lagi itu," sahut Vanya.


"Hoho! Kamu nggak mau jadi obat nyamuk, ya, Van. Sebaiknya Kakak memang harus merelakan Vanya yang tidak mau tinggal bersama Kakak ini," sahut Pricilla tiba-tiba.


Di sisi lain, Leo memperhatikan Vanya dari kejauhan. Ia memperhatikan Vanya yang sedang di peluk oleh seorang pria. "Sungguh wanita murahan! Dia yang menghinaku dengan sebutan binat*ang tempo hari sekarang malah dia yang terlihat seperti seorang jal*ng. Lihat saja beberapa hari lagi sebuah pembalasan dariku," gumam Leo.


Dari kejauhan Isabella datang menghampirinya. Leo pun tersenyum kepada kekasihnya. Mereka lalu menaiki mobil Leo dan pergi dari depan universitas.


***


Vanya pun pulang ke rumah James. Ia menolak untuk tinggal bersama Elvano dan mereka hanya bertukar nomor telepon untuk saling menjalin komunikasi. Vanya sangat terkejut melihat James yang sudah berdiri di depan kamarnya seraya menampakan ekspresi masam diwajahnya.


"Eh? Kamu sudah pulang? Katanya tadi pulangnya mau agak malam," tanya Vanya.

__ADS_1


James lalu menghela napas pelan. Ia mengatur napasnya agar nada bicaranya tidak terdengar seperti orang yang tengah dirundung emosi. "Aku . . . pulang lebih cepat," jawabnya singkat.


"Emm . . . kenapa wajahmu masam begitu?" tanya Vanya sambil menghampiri James lalu memeluknya.


"Aku nggak papa," jawab James lagi singkat.


"Haah! Aku tahu jika kamu mengeluarkan ekspresi seperti itu tandanya kamu sedang marah. Perasaan kita tidak ada masa ...." James tiba-tiba memotong ucapan Vanya.


"Siapa pria yang kamu peluk tadi?" James menatap Vanya dengan serius.


"Pft! Jadi, kamu marah karena hal itu. Eh? Tapi dari mana kamu tahu ...." James tiba-tiba memeluk Vanya dengan sangat erat sambil menyenderkan kepalanya di pundak Vanya.


"Dia kakak sepupuku yang datang setelah bekerja di Eropa. Katanya dia sekarang mau menetap kembali di Amerika. Aku pun sudah empat tahun tidak bertemu dengannya," lanjut Vanya sambil memeluk James kembali.


"Walaupun dia kakak sepupumu, tidak seharusnya kamu memeluknya seerat itu," sahut James sambil melepaskan pelukannya secara perlahan.


"Pfttt!" Vanya menahan tawanya karena merasa gemas setelah mendengar ucapan James barusan.


"Jangan mengejekku seperti itu! Aku benar-benar tidak suka jika kamu dekat-dekat dengan pria lain selain aku," gerutu James dengan kesal.


Secara tiba-tiba, James mengangkat Vanya dan membawanya ke arah kamarnya. Vanya meminta James untuk segera menurunkannya, tetapi James tetap bersikukuh membawa Vanya ke dalam kamarnya. Ia lalu menidurkan Vanya di atas tempat tidurnya.


***


BERSAMBUNG.....



โ— LIKE๐Ÿ–’ dan tambahkan KOMENTAR๐Ÿ“ฉ agar author rajin update setiap harinya๐Ÿ™


โ— Mohon kritik dan sarannya semua reader๐Ÿ™


โ— Klik FAVORIT โค


โ— VOTE novel ini โ˜†โ˜†โ˜†โ˜†โ˜†

__ADS_1


TERIMA KASIH.....๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


__ADS_2