
James hanya diam saja setelah mendengar ucapan Vanya tersebut. Ia tak mengeluarkan ekspresi apa pun maupun berbicara sepatah atau dua patah kata. Lalu, tiba-tiba ia menyenderkan kepalanya di pundak Vanya. Raut wajahnya pun kini kelihatan sangat lelah.
"Sepertinya aku sudah benar-benar menyukainya. Dimarahi olehnya pun aku benar-benar tidak bisa berkata apa-apa kecuali diam dan mengungkapkan isi hatiku melalui bahasa tubuh," batin James.
***
"Aku jadi tidak tega jika memarahinya terus-terusan seperti ini. Walau makhluk apa pun identitasnya yang sebenarnya, tapi dia juga pasti punya perasaan. Aku pun berhutang nyawa dua kali padanya. Jika dia memang seorang merman apa aku akan bisa menerimanya. Namun, ya, aku lihat saja nanti ke depannya bagaimana perkembangan hubungan kita. Aku pun tidak bisa membohongi perasaanku sendiri yang perlahan mulai menyukainya," batin Vanya.
Dia tiba-tiba mendorong James yang tengah bersandar dipundaknya, "James, jika kamu memang belum mau mengatakannya sekarang tidak masalah, kok. Aku akan memberimu waktu hingga kamu benar-benar siap mengatakannya," ucap Vanya sambil menatap James dengan tersenyum.
"Terima kasih, Vanya. Namun, aku merasa tidak enak jika membohongimu. Aku pasti akan mengatakannya. Aku janji," pungkas James pada Vanya.
"Sudahlah kita jangan bahas masalah ini lagi! Sebaiknya kamu segera pulang saja!" pinta Vanya.
"Baiklah aku akan pulang dulu," jawab James sambil tersenyum manis.
"Em . . . apa akhir pekan nanti kamu mau liburan ke pantai bersamaku? Rumahku pun tidak jauh dari pantai. Kamu nanti bisa menginap dirumahku sambil menikmati pemandangan pantai di malam hari," ajak James tiba-tiba.
"Aku tidak bisa menginap jika kita pergi sampai malam hari karena masih harus bekerja. Kalau di waktu siang pun palingan cuma ada waktu sekitar dua jam saja," jelas Vanya pada James.
"Hah . . . apa kamu tidak bisa libur sehari saja?" keluh James sedih karena tidak bisa menghabiskan banyak waktu dengan Vanya.
"Libur sehari pun aku akan kesusahan nantinya karena tidak punya uang untuk bekal sehari-hari ke depannya," jawab Vanya.
"Jika aku memberinya uang, mungkin dia akan menyangka aku merendahkannya. Namun, mana bisa terima aku jika kita hanya menghabiskan waktu selama dua jam saja. Baiklah,nanti aku akan mencari cara agar waktu liburan kita menjadi lebih lama," batin James.
"Hmm . . . aku setuju. Tidak apa-apa walau hanya dua jam saja. Kalau begitu, aku pamit pulang dulu," ujar James sambil tersenyum.
***
Kemudian, James pun pergi meninggalkan rumah Vanya. Vanya pun segera menutup pintu rumahnya untuk bergegas membersihkan diri dan segera beristirahat. Di luar rumah Vanya, James melihat salah seorang bawahannya yang sedang mengawasi rumah Vanya tanpa sepengetahuan Vanya. Ia lalu berjalan menghampirinya.
"Edward! Kenapa tadi kamu tidak memimpin anggotamu untuk melindungi Vanya? Hampir saja dia terluka. Beruntungnya aku datang di waktu yang tepat dan bisa menyelamatkannya," tanya James pada bawahannya dengan raut wajah penuh amarah.
__ADS_1
"Itu . . . anu . . . tadi kita berniat menyerangnya, Bos. Namun, kami kalah cepat dari anda yang telah maju duluan. Kami pun bersembunyi agar Nona Vanya tidak curiga," jawab Edward dengan gugup.
"Jika kamu dan anggotamu itu berbuat kesalahan satu kali lagi, aku akan benar-benar memecatmu," gertak James.
"Baik, Bos. Kami berjanji tidak akan melakukan kesalahan lagi?" jawab Edward sambil menundukkan kepalanya.
"Baguslah kalau begitu! Jangan hanya berbual saja! Buktikan jika kalian memang layak untuk bekerja di organisasi keamanan milikku!" seru James sambil berjalan meninggalkan anak buahnya lalu menuju mobilnya.
***
Akhir pekan pun telah tiba. Di hari Sabtu yang cerah ini, James mengajak Vanya pergi ke pantai kota San Diego untuk melihat keindahan lautnya. Vanya pun bersiap-siap terlebih dahulu sebelum James datang. Tiba-tiba teleponnya berdering. Ternyata Vanya mendapatkan telepon dari sahabatnya baiknya yaitu Pricilla.
"Ehmz! Cie . . . cie . . . yang mau jalan-jalan berdua nih. Ehmz! Ehmz!" goda Pricilla dalam sambungan telepon.
"Apaan sih! Kamu juga cepetan gih cari pacar lagi! Jangan kelamaan jomblonya!" seru Vanya pada sahabatnya.
"Iya iya . . . nanti aku akan cari lagi yang setampan, sekaya, dan seperhatian James Haolin," jawab Pricilla.
"Ataukah kamu bersama James Haolin saja? Biarkan nanti aku bersama orang lain," ucap Vanya tiba-tiba.
"Ya nggak bolehlah! Dia itu milikku!" tegas Vanya.
"Haha! Sekarang saja kamu mengakuinya milikmu. Beberapa hari yang lalu kamu bilang tidak dan maunya hanya jadi penggemarnya saja," goda Pricilla lagi pada Vanya.
Tiba-tiba, mobil James mengelaksoni Vanya dari depan rumahnya. Vanya pun segera berbicara pada Pricilla bahwa James telah menjemputnya, "Sil udah dulu, ya! James udah jemput tuh," ucap Vanya.
"Jangan lupa untuk ciu*an di bibir pantai yang indah, ya! Kan romantis tuh, haha!" goda Pricilla.
"Apaan sih? Aku tidak akan melakukannya lagi! Sudah dulu, ya, Sil," jawab Vanya sambil menutup sambungan teleponnya.
***
Vanya pun berjalan keluar dari rumahnya sambil membawa sebuah tas kecil yang ia gendong di punggungnya. James pun telah menunggu Vanya di depan gerbang rumahnya, "Ayo kita berangkat! Agar waktunya tidak terbuang sia-sia," seru James.
__ADS_1
Vanya dan James lalu memasuki mobilnya. Lalu, James pun mengemudikan mobilnya menuju arah jalan ke pantai di kota San Diego. Hanya butuh waktu setengah jam saja untuk sampai ke pantai dari rumah Vanya.
Mereka lalu turun dari mobilnya. James menggunakan kacamata hitamnya agar tidak ada orang yang mengenalinya bahwa itu adalah James Haolin yang merupakan seorang publik figur. Vanya berlari mendahului James karena sudah tidak sabar untuk menikmati pemandangan pantai.
"James ayo sini! Ayo cepat," ajak Vanya sambil berlari.
"Haha! Dia berlarian kesana kemari seperti orang yang jarang ke pantai saja. Hmm . . . ngomong-ngomong . . . sejak kapan, ya, kita menjadi lebih dekat seperti ini hingga dia pun kini memanggil namaku. Padahal, beberapa hari yang lalu dia masih memanggilku dengan sebutan kakak," gumam James sambil berjalan cepat mengikuti Vanya.
Vanya kini sedang berdiri di bibir pantai, ia sedang memandang pemandangan laut kota San Diego yang indah. Ia merasa ingin mengambil beberapa foto untuk dijadikan kenang-kenangan. Kemudian, Vanya mengeluarkan teleponnya dari dalam tasnya.
"James apakah kamu bisa mengambil beberapa foto untukku?" tanya Vanya sambil memberikan teleponnnya.
"Hmm . . . baiklah. Mari aku fotokan!" jawab James sambil mengambil telepon milik Vanya.
Lalu, Vanya pun berdiri di pinggir pantai yang terdapat ombak kecil. James memberikan kode agar Vanya bersiap untuk difoto, "Satu . . . dua . . . tiga . . . ." "Cekrek!" suara kamera telepon Vanya yang berbunyi.
Tiba-tiba, ada ombak besar yang datang menghampiri tempat Vanya berdiri. Vanya pun segera berlari ke arah James, "Aaa! Ada ombak besar," teriak Vanya panik. Secara tidak terduga, kaki Vanya tersandung batu lalu terjatuh hingga menindih tubuh James dan bibir mereka pun saling bertabrakan.
Brug!
James tidak menyia-nyiakan kesempatan langka yang datang tersebut. Bibir yang selalu ia harapkan untuk ia cium, kini berada didepannya tanpa ada jarak satu senti pun. Ia langsung mencium bibir Vanya yang berada didepan bibirnya itu. Vanya sangat terkejut karena James tiba-tiba menciumnya.
***
BERSAMBUNG.....
โ LIKE๐ dan tambahkan KOMENTAR๐ฉ agar author rajin update setiap harinya๐
โ Mohon kritik dan sarannya semua reader๐
โ Klik FAVORIT โค
__ADS_1
โ VOTE novel ini โโโโโ
TERIMA KASIH.....๐๐๐