Pacarku Seorang Merman Tampan

Pacarku Seorang Merman Tampan
BAB 36 - Surat Undangan


__ADS_3

Di depan gerbang universitas Vanya ...


Beberapa menit sebelum Vanya pulang ke rumah James. James berniat menjemput Vanya setelah dia pulang kuliah. Namun, James melihat Vanya sedang memeluk seorang pria di depan gerbang universitasnya.


Supir yang menyetir mobilnya James pun melihat kejadian tersebut. James terlihat sangat marah melihat kejadian itu. Ia lalu menyuruh sopirnya untuk mengemudikan mobilnya kembali ke arah rumahnya.


***


Di rumah James ...


Secara tiba-tiba, James mengangkat Vanya dan membawanya ke arah kamarnya. Vanya meminta James untuk segera menurunkannya, tetapi James tetap bersikukuh membawa Vanya ke dalam kamarnya. Ia lalu menidurkan Vanya di atas tempat tidurnya.


James lalu menindih tubuh Vanya. Sesaat ia terpengaruh oleh hawa nafsunya tetapi tiba-tiba teleponnya berdering. Ia lalu segera mengangkat teleponnya.


"Haah! Untung teleponnya berdering. Aku harus segera keluar dari kamarnya," batin Vanya.


***


James sedang berbicara dengan orang yang meneleponnya di balkon lantai tiga rumahnya. Terdengar teriakan seorang wanita paruh baya dari sambungan teleponnya. James pun menjauhkan teleponnya dari dekat telinganya.


"Hey, anak nakal! Kapan kamu mau pulang, hah? Apakah kamu tidak merindukan mamamu?" ucap Ibu James di sambungan telepon.


"Aku sibuk, Ma. Aku ...." Sebelum James melanjutkan ucapannya, Ibu James terlebih dahulu memotong pembicaraan.


"Jangan banyak alasan! Dengan seorang wanita lain kamu punya waktu, apakah dengan mamamu sendiri kamu bisa berkata sibuk?" teriak ibunya James lagi.


"Wanita lain siapa, Ma? Aku tidak membawa ...." James tiba-tiba teringat dengan Vanya yang ada dirumahnya.


"Apa mungkin wanita yang di maksud Mama adalah Vanya? Namun, bagaimana bisa Mama mengetahui tentang Vanya," batin James.


"Sudahlah, jangan banyak alasan lagi. Malam Minggu nanti pulang ke rumah dan bawa wanita itu kemari," pungkas ibunya James.


"Haah! Sepertinya Ibu Ratu ini menyelidiku secara diam-diam. Atau ada salah satu bawahanku yang juga sekaligus menjadi mata-matanya," batin James sambil melamun dan sama sekali tidak mendengarkan ucapan ibunya di telepon.

__ADS_1


"Hey! Kenapa malah diam saja? Dengar nggak ucapan Mama barusan," teriak ibunya James bagai petir yang bergema di siang hari.


Tanpa sadar James mendekatkan teleponnya ke telinganya, sehingga suara teriakan ibunya terdengar sangat jelas sampai membuat telinganya sakit. "Aah! Mama bisa nggak jangan berteriak seperti itu," ucapnya.


"Apa? Kamu sudah tahu salah masih berani memerintah mamamu?" seru ibunya James.


"Aku . . . tidak berani, Ma," sahut James.


"Em . . . apa yang tadi Mama ucapkan?" tanya James.


"Haah! Mama meminta kamu pulang ke rumah pada hari Sabtu malam Minggu. Jangan lupa bawa hadiah ulang tahun, ya!" sahut ibunya James.


"Eh? Siapa yang berulang tahun, Ma? Apakah Jessie dan Jennie?" tanya James kembali.


"Dasar anak nakal ini! Apa kamu lupa dengan tanggal ulang tahun mamamu?" Tiba-tiba ibunya James berteriak lagi.


Tiba-tiba, Vanya membuka pintu balkon lantai tiga. Ia menghampiri James sambil berbisik perlahan karena tidak mau mengganggu pembicaraannya dengan orang yang sedang meneleponnya. "James! Siapa yang meneleponmu begitu lama seperti itu?" bisik Vanya dengan pelan.


James pun berbalik. Ia melihat Vanya yang menghampirinya dan memanggilnya. Ia lalu tersenyum sebagai balasan atas pertanyaan Vanya.


"Nah, bagus kalau begitu. Jangan lupa bawa calon menantu mamamu,ya!" Ibu James kemudian menutup sambungan teleponnya.


***


Kemudian, James menghampiri Vanya. Ia lalu mencium kening kekasih yang menghampirinya itu. "Apakah kamu sangat penasaran? Namun, aku tidak akan memberitahumu sebelum kamu menjelaskan secara jelas kenapa kamu berpelukan dengan pria tadi," goda James sambil tersenyum nakal.


"Apakah kamu masih cemburu soal yang tadi? Aku kan sudah menjelaskannya. Dia hanya kakak sepupuku! Apakah kamu tidak percaya kepada ucapanku? Ya sudah kalau kamu tidak mau memberitahuku. Lain kali aku pun tidak akan jujur padamu," teriak Vanya dengan kesal lalu berbalik meninggalkan James.


James pun menyusul langkah kekasihnya yang sedang dirundung amarah tersebut. Ia lalu memeluknya dari belakang. "Jangan marah! Aku hanya bercanda. Tadi ibuku yang menelepon dan memintaku datang ke acara ulang tahunnya di malam Minggu nanti. Dia pun memintaku untuk membawamu," ucap James dengan lembut.


"Tapi . . . pasti disana akan sangat banyak wartawan karena ibumu pun adalah nyonya besar dari seorang pengusaha ternama Mike Haolin. Para wartawan juga pasti tidak akan melewatkan kesempatan untuk meliput acara megah tersebut karena seorang superstar ternama adalah putra mereka, pastinya akan sangat banyak wartawan yang akan mewawan ...." James tiba-tiba memotong ucapan Vanya.


"Jadi, apa maksud dari ucapanmu yang panjang lebar ini? Apa kamu tidak mau menghadiri acara tersebut bersamaku?" tanya James.

__ADS_1


"Iya, aku tidak mau ikut," jawab Vanya singkat.


Kemudian, James membalikkan badan Vanya. Ia lalu menatap Vanya dengan serius. Dia pun menghelas napas dalam sebelum berbicara. "Haah! Kamu anggap aku apa sebenarnya?" tanya James.


"Eh? Kenapa kamu bertanya seperti itu? Aku hanya tidak mau menjadi pusat perhatian para wartawan," sahut Vanya.


James tiba-tiba menyenderkan kepalanya di bahu Vanya sambil memeluknya. "Aku hanya merasa kamu tidak menganggapku sebagai kekasihmu. Kamu selalu menganggap dirimu seperti penggemarku bukan kekasihku. Kamu selalu menyuruhku memakai masker atau pun kacamata ketika kita bersama di depan umum. Aku ingin orang-orang tahu bahwa aku adalah pacarmu," jawab James merajuk.


Vanya lalu mengangkat kepala James perlahan. Ia lalu memegang pipi kekasihnya menggunakan tangannya. "Dengar ya, James. Kamu itu sangat penting bagiku. Aku menyuruh kamu melakukan itu semua juga demi kebaikan hubungan kita. Kita pasti akan menjadi pusat perhatian jika kamu tidak memakai masker di tempat umum. Lalu, jika para penggemarmu tahu, itu akan menyebabkan mereka berhenti menjadi penggemarmu dan mereka pasti akan menye ...." James tiba-tiba memotong ucapan Vanya lagi.


James lalu menurunkan tangan kekasihnya yang sedang memegang pipinya. "Aku akan selalu melindungimu jika ada orang yang berani menyakitimu. Aku tidak peduli jika mereka benar-benar pergi karena tidak suka melihatku mempunyai seorang kekasih. Aku hanya ingin kamu yang tetap berada disisiku," ucap James sambil menatap Vanya dengan serius.


"Haah! Baiklah aku akan ikut denganmu. Jadi, jangan memasang ekspresi sedih seperti itu lagi," sahut Vanya tersenyum manis.


"Terima kasih kamu sudah mau memahami keinginanku," sahut James singkat.


"Haah! Sudah, ya, kita tidak perlu bertengkar lagi. Aku harap ke depannya kita bisa saling memahami satu sama lain, supaya dalam hubungan kita tidak terjadi lagi banyak pertengkaran," ucap Vanya.


Lalu, James memeluk Vanya dengan erat. Vanya pun kembali memeluk kekasihnya tersebut.


***


BERSAMBUNG.....



โ— LIKE๐Ÿ–’ dan tambahkan KOMENTAR๐Ÿ“ฉ agar author rajin update setiap harinya๐Ÿ™


โ— Mohon kritik dan sarannya semua reader๐Ÿ™


โ— Klik FAVORIT โค


โ— VOTE novel ini โ˜†โ˜†โ˜†โ˜†โ˜†

__ADS_1


TERIMA KASIH.....๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


__ADS_2