
PERHATIAN TERDAPAT ADEGAN 18+ !!!
DI MOHON PEMBACA TETAP BIJAK KETIKA MEMBACANYA !!!
***
Tiba-tiba Vanya terjatuh karena ada ombak besar yang datang ke tempat di mana ia berdiri. Ia lalu berlari ke arah James. Dia tidak sengaja tersandung batu yang menyebabkan ia terjatuh dan menindih tubuh James lalu bibir mereka pun bertabrakan.
Brug!
James tidak menyia-nyiakan kesempatan langka yang datang tersebut. Bibir yang selalu ia harapkan untuk ia cium, kini berada didepannya tanpa ada jarak satu senti pun. Ia langsung mencium bibir Vanya yang berada didepan bibirnya itu. Vanya sangat terkejut karena James tiba-tiba menciumnya.
***
"Umh! Umh!" Vanya berusaha melepaskan bibir James yang tiba-tiba menciumnya. Namun, James malah memeluk Vanya dan terus menciumnya. Vanya pun emosi lalu mencium bibir James kembali sambil menggigitnya.
"Ah!" James melepaskan bibirnya dari bibir Vanya karena ia tiba-tiba menggigitnya. Vanya pun segera bangun dari atas tubuhnya James, "Apa-apaan sih kamu! Ini tuh di tempat umum, jangan bertindak sembarangan seperti barusan," gerutu Vanya kesal.
"Lalu, apakah jika berada di rumahku kamu mau melakukannya?" goda James sambil berbisik di dekat telinga Vanya.
Telingan Vanya pun memerah. "Ya, mau di mana pun aku tetap tidak mau!" tegas Vanya sambil wajahnya tiba-tiba memerah karena malu.
"Haha! Sepertinya telinga dan pipimu yang tiba-tiba memerah itu menegaskan bahwa kamu ingin melakukannya, walau mulutmu berkata. Lain di mulut lain di hati, ya," goda James lagi sambil tersenyum nakal.
"Kamu .... Sudahlah! Aku cape meladenimu yang terus menggodaku itu," ucap Vanya kesal.
"Kalau begitu mari kita lanjutkan perjalanan kita di pantai ini! Aku ingin mengajakmu ke tempat lain. Lalu, ini telepon milikmu," seru James sambil memberikan telepon milik Vanya.
Vanya lalu melihat-lihat hasil fotonya yang tadi dipotret oleh James. "Wah . . . sungguh foto yang cantik. Kamu sangat berbakat menjadi fotografer," puji Vanya pada hasil potret James.
"Hmm . . . aku memang berbakat dalam berbagai bidang," ucap James di samping telinga Vanya.
Telinganya pun kembali memerah, "Apa-apaan sih kamu! Bisa kan jangan terlalu dekat pada telingaku ketika berbicara," ujar Vanya kesal, tapi wajahnya memerah.
"Mari kita berjalan ke sebelah sini," ajak James sambil menggenggam tangan Vanya.
Vanya pun mengikutinya berjalan hingga sampai di depan mobilnya. "Eh? Kok ke depan mobilmu sih! Memangnya kita mau ke mana lagi?" tanya Vanya penasaran. "Kita mau ke rumahku," jawab James sambil tersenyum.
__ADS_1
"Apa? Ke rumahmu? Eh? Gak mau!" tolak Vanya dengan keras.
"Apa yang kamu pikirkan di otak kecilmu ini? Aku tidak akan berbuat apa-apa kok. Aku hanya ingin menunjukkan pemandangan pantai yang indah dari lantai tiga rumahku," ucap James sambil mengelus-ngelus kepala Vanya.
"Ooh . . . begitu. Ya sudah, ayo pergi," ajak Vanya sambil segera masuk ke dalam mobilnya James karena merasa malu.
"Ada-ada saja pemikirannya itu. Namun, itu sebuah ide bagus sih jika dilakukan sambil melihat pemandangan pantai," gumam James sambil tersenyum.
***
Kemudian, James masuk ke dalam mobilnya. Ia lalu mengemudikan mobilnya menuju ke arah rumahnya yang berada di kawasan perumahan elit yang jaraknya tidak jauh dari bibir pantai. Hanya perlu waktu tiga menit saja hingga sampai ke rumahnya James menggunakan mobil.
Vanya lalu diajak memasuki rumah James. Ia sangat terpesona dengan rumah James yang megah dengan arsitektur bernuansa seperti vila musim panas. Namun, Vanya tiba-tiba terkejut dengan beberapa penjaga berpakaian jas serba hitam, menggunakan kacamata hitam, dan bertubuh kekar yang berada di depan rumah James.
"Jangan takut! Mereka adalah orang-orang yang bekerja disini," ucap James sambil tersenyum manis menatap Vanya.
"Oh . . . ." jawab Vanya sambil melihat-lihat ke sana ke mari karena terpesona dengan pemandangan di rumah James.
"Ayo kita masuk ke dalam!" ajak James sambil membukakan pintu masuk ke rumahnya.
"Ayo kita keluar melalui pintu ini!" ajak James sambil membukakan pintu keluar di lantai tiga rumahnya.
Pemandangan pantai yang indah pun terlihat jelas dari balkon lantai tiga rumah James karena rumahnya yang menghadap laut. Vanya pun lalu berjalan ke pinggir balkon sambil menikmati angin pantai yang berhembus dan menyaksikan pemandangan laut yang indah dari atas rumah James. James pun tiba-tiba mendekatinya dan memeluk tubuh gadis kurus itu.
"Eh? Kenapa kamu tiba-tiba bersikap seperti ini?" tanya Vanya pada James yang tiba-tiba memeluknya.
"Bukankah ini yang biasanya setiap pasangan lakukan," jawab James sambil memeluk Vanya lebih erat dan tiba-tiba mencium lehernya.
Vanya pun kaget karena James tiba-tiba bersikap begitu agresif. Kemudian, ia melepaskan pelukannya James dan berbalik menghadap badannya. Secara tiba-tiba, Vanya memeluknya dan langsung mencium bibirnya James karena terbawa suasana.
James sangat terkejut karena Vanya tiba-tiba berinisiatip untuk menciumnya. Ia pun tidak menahan nafsunya dan melampiaskan pada Vanya. "Hah . . . hah . . . ." Vanya melepaskan bibirnya James sambil bernapas terengah-engah.
"Ramalan yang aku katakan beberapa hari yang lalu tidak salah bukan? Kita akan melakukannya dalam waktu tiga hari lagi. Kebetulan tiga hari lagi itu hari ini," ucap James sambil mendekatkan wajahnya dengan wajah Vanya. Kemudian, ia kembali menciumnya tanpa membiarkan bibir Vanya lepas darinya.
"Sudah cukup!" seru Vanya sambil mendorong James secara perlahan.
"Apakah kamu ingin berhenti sampai disini? Bukankah tadi kamu yang ingin memulainya?" tanya James sambil memegangi wajah Vanya.
__ADS_1
"Iya aku mau berhenti! Kalau tidak, mungkin aku bisa bertindak lebih jauh lagi!" teriak Vanya dengan wajahnya yang memerah.
"Aku tidak akan menolak jika kamu ingin melakukannya lagi," ucap James sambil mencium bibir Vanya kembali.
Vanya merasa badannya semakin panas karena sedang berkontra fisik yang intens dalam waktu yang lama. Ia pun tidak dapat menahan dirinya dan meladeni nafsu James yang semakin meluap-luap. James menatapnya dengan senyuman karena senang Vanya mau melakukannya tanpa adanya penolakan.
James lalu melepaskan bibirnya yang mencium bibir Vanya dengan napas yang terengah-engah. Kemudian, ia memeluk gadis dihadapannya itu lalu menciumi lehernya. "James, apakah kamu tidak berniat untuk berhenti? Aku takut aku tidak dapat menahan diri lagi," ucap Vanya dengan lirih.
Mendengar ucapan dari Vanya itu, ia lalu berhenti menciumi leher Vanya dan melepaskan "Maafkan aku. Aku benar-benar tidak bisa menahannya," jawab James sambil mengelap bibirnya dengan wajahnya yang sedikit memerah.
"Tidak apa-apa, sekarang sebaiknya segera kita hentikan," ujar Vanya sambil menundukkan kepalanya karena wajahnya masih memerah.
"Hmm . . . baiklah. Mari kita makan siang dulu. Aku akan memasak makanan untukmu," ucap James sambil tersenyum manis menatap Vanya.
***
James lalu menuruni tangga dari lantai tiga rumahnya menuju lantai satu. Vanya pun mengikutinya dari belakang. Mereka pun sudah sampai di dapur rumah James yang bernuansa sangat klasik. James menyuruh Vanya untuk duduk di meja makan, sedangkan ia akan memasak makanan untuk makan siang bersama Vanya.
"Eh? Apakah kamu benar-benar bisa memasak?" tanya Vanya penasaran sambil menghampiri James yang sedang mencuci sayuran.
"Tentu saja aku sangat ahli dalam hal ini. Kamu duduklah dan perhatikan saja dari kursi maja makan," pinta James sambil tersenyum dengan lembut.
***
BERSAMBUNG.....
โ LIKE๐ dan tambahkan KOMENTAR๐ฉ agar author rajin update setiap harinya๐
โ Mohon kritik dan sarannya semua reader๐
โ Klik FAVORIT โค
โ VOTE novel ini โโโโโ
TERIMA KASIH.....๐๐๐
__ADS_1