Pacarku Seorang Merman Tampan

Pacarku Seorang Merman Tampan
BAB 27 - Menjenguk Ke Rumah Sakit


__ADS_3

Saat James tengah menyuapi Vanya, tiba-tiba ada seorang wanita yang menerobos pintu ruangan dimana Vanya dirawat.


Brak!


"Vanya .... Apakah kamu baik-baik saja? Ya ampun, kenapa keadaanmu bisa jadi seperti ini? Lalu, perbuatan siapa ini? Awas saja, akan aku cabik-cabik wajah orang yang berbuat jahat padamu itu jika aku berhasil menemukannya nanti!" teriak Pricilla sambil memegang kedua pipi Vanya.


***


Belum juga Vanya menelepon Pricilla untuk memberi kabar keadaannya saat ini, tetapi ia sudah datang terlebih dahulu menjenguk sahabatnya.


"Itu . . . lepaskan Pricilla!" pinta Vanya sambil memegang tangan Pricilla yang memegangi pipinya.


"Eh! Maafkan aku. Hmm . . . apa ini semua gara-gara kamu?" Pricilla tiba-tiba menatap James dengan tajam.


"Bukan! Justru James yang telah menyelamatkanku," sela Vanya di tengah ucapan Pricilla yang terlihat akan segera memarahi James.


"Kenapa kamu membelanya? Udah jelas kan sejak kamu kenal dia, kamu selalu ditimpa kejadian buruk. Mendingan kalian itu nggak usah deket-deket lagi deh." Pricilla memberikan saran yang tidak masuk akal kepada dua sejoli yang sedang di mabuk asmara itu.


"Aku tidak mau!" tolak Vanya dengan tegas.


"Apa? Kamu masih mau bertahan sama dia? Bagaimana jika para penggemarnya tahu? Jatuh cinta pun kamu harus tahu kepada siapa orang yang tepat untuk kamu cintai!" teriak Pricilla memarahi Vanya seperti seorang ibu yang tidak merestui hubungan putrinya.


"Aku mencintainya!" teriak Vanya lebih keras daripada ucapan Pricilla barusan.


"Apa? Mencin .... " Pricilla tidak melanjutkan ucapannya karena James memotong pembicaraannya dengan Vanya.


"Kami saling mencintai! Saya harap anda bisa menerimanya karena itu keputusan yang sudah di ambil oleh kami berdua," potong James.


"Haah . . . baiklah. Namun, awas saja jika kamu tidak benar-benar melindunginya," sahut Pricilla sambil menunjuk-nunjuk James.


"Sil! Sudah dong jangan marah-marah mulu. Apa kamu cemburu karena sahabat baikmu ini sudah mempunyai pacar?" goda Vanya pada Pricilla yang tengah emosi.

__ADS_1


"Apa? Haah! Mana mungkin aku cemburu! Aku pun akan segera mendapatkan pacar kembali," seru Pricilla dengan kesal.


"Hmm . . . melihat kepribadianmu ini . . . kamu sangat cocok sekali jika berpacaran dengan Tomi," pikir Vanya.


"Hah? Siapa lagi itu Tomi," tanya Pricilla.


"Jangan asal menjodoh-jodohkan orang lain seperti itu!" Tiba-tiba Tomi sudah berada di dalam ruangan tempat Vanya dirawat.


"Ku pikir suara apa yang sedari tadi berisik. Ternyata suara Nenek Sihir," celetuk Tomi dengan raut wajah datar.


"Apa kamu bilang? Hey pria bongsor! Jangan sok kegantengan deh! Kamu pikir kamu siapa sampai berani menghinaku di pertemuan pertama kita," teriak Pricilla penuh amarah.


"Pft! Tuh kan kalian cocok! Walau saling keras kepala tapi kalian itu nyambung," goda Vanya sambil menahan tawa.


"Benar juga mereka berdua sama-sama cocok. Lalu, sama sama jomblo lagi," timpal James yang ikut menggoda Tomi dan Pricilla.


"Eh? Apa ini sikap yang kamu lakukan kepada sahabatmu sendiri? Sungguh tega!" gerutu Tomi tak menyangka James akan ikut-ikutan menggodanya.


"Hey! Aku itu tidak mengajakmu berbi .... " Sebelum Tomi melanjutkan ucapannya, James terlebih dahulu memotong pembicaraannya dengan Pricilla.


"Kamu kembali kesini untuk mengajakku ke kantor, kan?" tanya James kepada Tomi.


"Iyalah! Pekerjaanmu masih menumpuk di atas mejamu. Jangan harap hari ini kamu bisa libur! Aku bisa migran nanti jika mengatur ulang semua jadwalmu!" gerutu Tomi dengan kesal.


"Haah! Baiklah! Aku akan pergi ke kantor. Nona, jagalah Vanya dan jangan biarkan dia makan sembarangan karena kondisinya belum benar-benar pulih," pinta James sambil menatap Pricilla.


"Anda tidak menyuruh pun saya akan melakukannya," jawab Pricilla dengan ketus.


"Ada sebuah pepatah mengatakan 'Orang yang mempunyai sifat pemarah akan membuat penuaannya lebih cepat' " celetuk Tomi secara tiba-tiba.


"Apa kamu bilang?" teriak Pricilla kesal sambil menatap Tomi dengan tajam.

__ADS_1


"Sudah-sudah! Kalian berdua jangan berisik lagi!" James sudah muak mendengar Pricilla dan Tomi yang bertengkar. Ia pun menatap mereka berdua dengan sorotan mata dingin tanpa ekspresi yang terlihat mengerikan. Mereka berdua pun akhirnya diam.


James lalu berpamitan kepada Vanya, "Aku berangkat dulu, ya! Nanti sore aku akan menjemputmu pulang," ucap James dengan lembut sambil mengecup kening Vanya.


"Cih! Dasar pilih kasih!" gerutu Tomi dengan kesal melihat sahabatnya yang memperlakukan Vanya secara istimewa.


James dan Tomi pun akhirnya pergi meninggalkan ruangan tempat Vanya di rawat. Di dalam kamar hanya tinggalah Pricilla dan Vanya. Pricilla lalu menatap sahabatnya itu dengan sorotan mata penasaran. Sepertinya banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan kepada Vanya dalam benaknya.


***


BERSAMBUNG.....


โ— LIKE๐Ÿ–’ dan tambahkan KOMENTAR๐Ÿ“ฉ agar author rajin update setiap harinya๐Ÿ™


โ— Mohon kritik dan sarannya semua reader๐Ÿ™


โ— Klik FAVORIT โค


โ— VOTE novel ini โ˜†โ˜†โ˜†โ˜†โ˜†


TERIMA KASIH.....๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™



*******IKLAN PROMOSI !!!!!


SAMBIL MENUNGGU KELANJUTAN DARI NOVEL SAYA INI, MARILAH BACA KARYA REKOMENDASI DI BAWAH INI !!!! JANGAN SAMPAI TERLEWATKAN MEMBACA SETIAP EPISODENYA KARENA ALURNYA SANGAT MENARIK UNTUK DI BACA !!! DI JAMIN TIDAK AKAN MENYESAL !!! JANGAN LUPA TINGGALKAN LIKE DAN FAVORITNYA !!!


Author : Anisa Mufida


Judul Karya : MISTERI KEMATIAN RENATA

__ADS_1



__ADS_2