
Mereka berempat pun pulang ke rumahnya James dengan dikawal oleh bodyguard bawahannya.
Sesampainya di rumah James, James langsung mengantarkan Vanya ke kamar yang telah disiapkan. Kamar tersebut berada di lantai tiga. Tepatnya berhadapan dengan kamar milik James. Pricilla dan Tomi pun mengikuti James dan Vanya.
Krieeet!
James membukakan pintu kamarnya. Di dalam kamar tersebut sudah tersedia satu buah tempat tidur yang luas dengan seisi kamarnya yang penuh kemewahan. Sebuah komputer baru terpajang di meja beja belajar yang sudah disiapkan. Satu buah televisi berukuran besar sudah terpampang di dinding. Tidak lupa dilengkapi dengan sebuah AC yang disimpan di pojok atas kamar. Lalu, sebuah lampu gantung yang sangat mewah di pasang pada langit-langit kamar.
Vanya merasa seisi kamarnya sangat berlebihan. Ia menginginkan kamar yang biasa saja. "Apakah ini tidak berlebihan?" tanya Vanya sambil memerhatikan sekeliling kamar tersebut.
"Sudahlah terima saja. Pacarmu ingin memanjakanmu masa nggak diterima. Jangan kaya Si Leo itu. Pelit bener dia," sahut Pricilla.
Raut wajah James kini tiba-tiba berubah seperti orang yang tengah marah. Ia sangat tidak suka jika ada orang yang menyebut-nyebut nama Leo lagi. Ia menatap Pricilla dengan tajam dari belakangnya. Tiba-tiba, Pricilla merasa ada seseorang yang memerhatikannya.
"Eh? Kenapa, ya, seperti ada yang sedang menatapku?" Pricilla lalu berbalik badan. Ia sangat terkejut melihat James menatapnya dengan tajam. Kemudian, ia pun menyusul Vanya yang sedang melihat-lihat ke balkon kamar dengan terburu-buru.
"Wah! Bagus banget, ya, Sil, pemandangan laut dari sini," ucap Vanya.
"Haha! Iya-iya bagus banget," sahut Pricilla sambil tertawa dengan terpaksa.
"Nakutin bener sih tatapan Si James barusan. Vanya hebat banget bisa taklukin kulkas berjalan kaya Si James itu," batin Pricilla.
"Hmm . . . kamu kenapa, Sil?" Vanya tersadar tawa sahabatnya barusan terdengar dipaksakan.
"Apa? Aku nggak apa-apa. Ah! Vanya sepertinya aku masih ada urusan jadi aku pamit pulang dulu, ya," ucap Pricilla.
"Oh? Oke deh, pulang sana cepetan!" perintah Vanya.
"Eh? Apaan sih. Kamu udah nggak sabar ya buat mesra-mesraan," goda Pricilla yang membuat pipi Vanya memerah.
"Mesra apanya coba. Aku cuma pengen tidur siang karena masih sakit," sahut Vanya dengan kesal.
"Ya udah aku pamit dulu, ya," ucap Pricilla.
Tomi pun izin untuk pamit dari rumah James karena masih ada urusan di kantor, "Jangan lupa balik ke kantor lagi Pak CEO! Saya pamit untuk berangkat duluan," ucap Tomi.
"Ikut-ikutan aja kamu Pria Bongsor mau pulang," gerutu Pricilla sambil melirik Tomi dengan sinis.
"Hey Mak Lampir! Suka-suka hati lah mau pulang atau mau kemana juga. Jangan sok sibuk ngurusin kehidupan orang lain," sindir Tomi dengan nada mengejek.
"Hey awas kau, ya!" terik Pricilla sambil menunjuk-nunjik Tomi. Namun, Tomi malah berlari ke belakang badan James dan terus menghinanya. Pricilla pun tidak berani mengejarnya walau iya merasa sangat marah.
James pun menyuruh Tomi untuk segera kembali ke kantor karena merasa sangat bising dengan suaranya, "Cepat pergi sana! Jangan buat keributan di rumah ini," perintah James dengan ketus.
"Hiks, Pak CEO sungguh tega!" sahut Tomi.
__ADS_1
"Cepat!" James menatap Tomi tajam.
"Aku pamit pulang dulu, ya, Van," ucap Pricilla sambil memeluk Vanya.
"Iya-iya sana! Hati-hati di jalan, ya," sahut Vanya sambil melepaskan pelukan Pricilla.
Tomi pun akhirnya pergi. Begitu pula dengan Pricilla yang akhirnya pergi setelah kembali berpamitan kepada Vanya. Terlihat sepanjang perjalanan menuju pintu masuk rumah James kedua orang yang bagaikan kucing dan anjing itu terus beradu mulut tanpa henti.
***
"Pft! Mereka terlihat sangat cocok," ucap Vanya sambil memerhatikan Tomi dan Pricilla yang terus beradu mulut.
"Semoga saja mereka bisa segera menjalin hubungan seperti kita," sahut James sambil memeluk Vanya.
Vanya kaget karena James yang tiba-tiba memeluknya. Ia lalu berbalik menatap wajahnya, tetapi James malah tiba-tiba mencium bibirnya. Vanya pun berusaha mendorong badannya.
"Apa-apaan sih kamu? Sudah, ya, jangan main nyamber kaya gitu! Nanti kalau kebiasaan pas di depan umum gimana?" gerutu Vanya kesal.
"Hmm . . . kamu perhitungan banget sama pacar sendiri," sahut James dengan memelas sambil memeluk Vanya.
"Jangan ngerayu aku pakai ekspresi kaya gitu lagi! Sekarang aku nggak akan tergoda lagi!" gertak Vanya kesal.
James memandang wanita dihadapannya itu dengan senyuman kecil karena merasa lucu melihat ekspresinya ketika dia menggodanya. "Hehe! Iya-iya, Sayang. Apa kamu lapar? Aku akan memasak makanan untukmu," tanya James sambil melepaskan pelukannya.
"Hmm . . . makan apa, ya, enaknya siang-siang kaya gini. Eh? Tunggu dulu! Emangnya kamu nggak berangkat ke kantor lagi?" Vanya balik bertanya kepada James.
***
"James tunggu dong!" teriak Vanya.
Kemudian, ia berhenti karena kekasihnya memanggil namanya, "Iya ada apa, Van? Kamu hanya perlu menunggu di kamar, nanti aku akan mengantarkan makanannya ke kamarmu," sahut James dengan lembut.
"Tapi . . . aku bosan jika terus berada di kamar. Aku bantuin masaknya, ya," ucap Vanya.
"Nggak boleh! Kamu cukup duduk manis saja di dalam kamar," tolak James dengan keras.
Ia lalu tiba-tiba menggendong Vanya dan membawanya kembali ke kamarnya. "James turunin, nggak!" teriak Vanya sambil berusaha turun.
"Kamu itu masih sakit, coba jangan terlalu emosi kaya gini, dan bersikaplah dengan sedikit lebih tenang!" sahut James dengan lembut sambil mencium pipi Vanya.
Vanya pun akhirnya diam dengan pipinya yang memerah. James memerhatikan wajah gadis yang sedang digendongnya itu dengan senyuman puas karena sudah membuatmya tidak berbicara lagi. Kemudian, James menidurkan Vanya di kamar dan bergegas ke dapur untuk memasak.
***
Vanya pun beristirahat di tempat tidur sambil menunggu James kembali dengan membawa makanan, "Haah! Apa-apaan pria itu? Selalu saja tingkah lakunya tidak terduga dan membuat senam jantung," gerutu Vanya sambil memegangi kedua pipinya.
__ADS_1
"Awas saja kalau dia berani berbuat seperti itu lagi, akan aku cubit hidung mancungnya," gerutu Vanya lagi dengan kesal.
"Oh? Benarkah kamu akan mencubitku?" Tiba-tiba James sudah berada di samping tempat tidurnya sambil membawa makanan dan minuman.
Vanya lalu menengok dengan terkejut, "Eh? Bagaimana bisa kamu memasak secepat itu?" teriak Vanya yang terperanjat dari tempat tidur karena kaget.
"Bawahanku yang baik itu sudah menyiapkan makanan di dapur. Kamu tinggal memakan bubur ini sebelum dingin. Aku cicipi sedikit tadi rasanya enak, kok." James menyodorkan sebuah mangkuk berisi bubur kepada Vanya.
"Haah! Bubur lagi?" sahut Vanya sambil melihat isi mangkuk yang dibawa oleh James.
"Memangnya kenapa? Bukannya bubur untuk orang sakit? Sudah cepat habiskan atau kamu mau aku suapi lagi?" tanya James sambil menatap Vanya dengan senyuman manisnya.
"Hehe! Aaa . . . ." Vanya tertawa kecil lalu membuka mulutnya.
"Haah! Dasar manjanya!" seru James sambil tersenyum tipis.
"Hehe! Kan aku lagi sakit," jawab Vanya sambil tersenyum.
"Hmm . . . iya-iya aku akan mengalah karena kamu sedang sakit," sahut James dengan pasrah.
Drrrrt! Drrrrrt! Drrrrrt!
Tiba-tiba, telepon James yang ada disakunya bergetar. Ia lalu meletakkan mangkuk bubur di meja samping tempat tidur dan meminta izin kepada Vanya untuk mengangkat teleponnya terlebih dahulu. Kemudian, James keluar dari kamar Vanya.
"Haah! Ya sudahlah, aku makan sendiri saja," ucap Vanya sambil mengambil mangkuk bubur yang diletakkan oleh James.
"Kelihatannya dia enggan menyuapiku. Haah! Dia memang sangat ahli dalam urusan menggoda, tetapi kepekaannya benar-benar sangat rendah," gerutu Vanya.
***
James pun berjalan menuruni tangga hingga ke lantai dua rumahnya. Ia lalu mengobrol dengan seseorang melalui sambungan telepon. Tiba-tiba, raut wajahnya berubah menjadi kesal setelah mendengar ucapan dari orang yang meneleponnya tersebut.
***
BERSAMBUNG.....
โ LIKE๐ dan tambahkan KOMENTAR๐ฉ agar author rajin update setiap harinya๐
โ Mohon kritik dan sarannya semua reader๐
โ Klik FAVORIT โค
โ VOTE novel ini โโโโโ
__ADS_1
TERIMA KASIH.....๐๐๐