Pacarku Seorang Merman Tampan

Pacarku Seorang Merman Tampan
BAB 17 - Mulai Curiga


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang ke rumahnya dari tempat ia bekerja, Vanya tiba-tiba di dorong oleh seorang pria tidak dikenal. Pria itu pun bermaksud mencelakai Vanya menggunakan sebilah pisau yang dibawanya. Beruntungnya James tiba-tiba datang menyelamatkannya dan menendang pria yang bermaksud mencelakai Vanya tersebut sebelum pisaunya menggores wajah Vanya. Pisau yang dipegang pria itu pun terjatuh ke tanah setelah James menendangnya.


"Siapa orang yang menyuruhmu hah? Cepat katakan! Ataukah kamu ingin bernasib mengenaskan!" gertak James pada pria itu sambil menendangnya lalu menginjak dadanya menggunakan kakinya.


"Apa ini . . . James yang aku kenal selalu bersikap lembut itu?" batin Vanya merasa takut setelah melihat James yang bersikap sangat kejam.


Pria itu pun berusaha bangun, secara tiba-tiba ia menendang bagian wajah James karena tidak terima atas perbuatan yang telah James lakukan. "Bug!" James terjatuh hingga pipinya lebam. James sangat marah hingga ia memukul pria itu secara membabi buta tanpa memberikan kesempatan untuknya melawan.


Bak buk bek! Bak buk bek!


Ketika James sedang memukul pria itu, secara tidak sengaja Vanya melihat sebuah sisik berwarna biru seperti tato yang terdapat di pinggang sebalah kanan James. Ia bisa melihatnya dengan jelas karena baju James terus terangkat saat memukuli pria itu. "Ah . . . apakah dia benar-benar gila hingga memukuli pria itu secara membabi buta tanpa merasa kasihan padanya," gumam Vanya sambil merasa ngilu melihat James yang terus memukuli pria yang berusaha mencelakainya.


"Eh? Apakah itu sisik atau tato? Tapi . . . itu sangat jelas terlihat seperti sebuah sisik yang menggumpal. Apa aku nanti coba tanyakan saja padanya," gumam Vanya lagi sambil memerhatikan James yang bajunya terus terangkat hingga kulit di pinggangnya terlihat dengan sangat jelas.


Pria itu pun babak belur hingga kesulitan untuk berdiri. Ia pun lalu berlari ketakutan sambil berjalan tertatih-tatih meninggalkan James dan Vanya. "Ah . . . ekspresi wajah James terlihat sangat menakutkan sekarang," gumam Vanya sambil memerhatikan wajah James dengan gemetar ketakutan.


James tidak sadar bahwa Vanya masih berada disampingnya. Ia lalu menengok ke belakang dan melihat Vanya sedang menggigil ketakutan. "Kamu tidak apa-apa kan?" tanya James merasa khawatir sambil memegang tangan Vanya.


Vanya lalu menepis tangan James yang memegangnya, "Jangan sentuh aku!" pintanya singkat.


"Hah . . . aku minta maaf karena sudah membuatmu ketakutan. Aku tidak bisa membiarkannya berusaha menyakitimu seperti itu," ucap James dengan lirih.


"Terima kasih telah menyelamatkanku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku nantinya jika kamu tidak datang tepat waktu," ujar Vanya sambil menundukkan kepalanya karena masih merasa ketakutan.


"Cih! Di mana orang yang aku tugaskan untuk melindungimu itu? Namun, kamu tenang saja dan tidak perlu takut. Aku akan menyuruh beberapa orang lagi untuk menjagamu," tegas James sambil memeluk Vanya untuk menenangkannya yang sedang ketakutan.


Vanya hanya diam saja dan tidak mengucapkan apa pun. Ia masih merasa ketakutan atas kejadian yang baru saja dia alami. "Ayo aku antar kamu pulang," ajak James sambil memapah Vanya masuk ke dalam mobilnya.


***


Mereka berdua pun akhirnya sampai di rumah Vanya. James lalu membawa Vanya masuk ke dalam rumahnya. Kemudian, ia mendudukkan Vanya di kursi ruangan tamu.


"Jangan takut! Ada aku disini!" ucap James sambil memeluk Vanya.

__ADS_1


Vanya pun mulai memberanikan dirinya untuk kembali berbicara. Ia sangat penasaran pada sebuah tato berbentuk sisik yang terdapat di pinggang James. "Apa aku boleh bertanya sesuatu?" ucap Vanya secara tiba-tiba.


James terkejut karena Vanya tiba-tiba mengajaknya berbicara. Kemudian, James melepaskan pelukannya dan duduk di lantai sambil menghadap ke arah Vanya. "Apa yang ingin kamu tanyakan? Aku akan berusaha menjawabnya," sahut James sambil tersenyum dengan lembut.


"Tadi mengapa tiba-tiba kamu ada dibelakangku dan langsung menyerang pria itu?" tanya Vanya penasaran.


"Aku merindukanmu karena seharian kita tidak bertemu. Jadi, aku pun berniat mengunjungimu. Kemudian, aku pun menunggumu di depan rumah. Namun, aku tak kunjung melihatmu pulang walau waktu sudah larut malam. Aku pun berusaha menyusuri arah jalan pulang ke rumahmu dan tiba-tiba melihat ada orang yang berniat mencelakaimu. Lalu, aku bergegas keluar dari mobil dan menendangnya," jelas James pada Vanya.


"Pft! Masa dia benar-benar merindukanku walau baru satu hari kita tidak bertemu," batin Vanya sambil menahan tawanya.


"Oh . . . begitu. Apakah aku boleh bertanya satu hal lagi?" tanya Vanya lagi.


"Tanyakan saja apa yang mau kamu tanyakan. Aku tidak akan keberatan untuk menjawabnya," pungkas James sambil tersenyum dengan menatap wajah Vanya.


"Em . . . apakah dipinggangmu itu ada sebuah tato berbentuk sisik?" tanya Vanya dengan gugup.


James kaget mendengar pertanyaan dari Vanya. Ia lalu mencari berbagai alasan untuk membohongi Vanya. "Hah? Aku tidak mempunyai sebuah tato, kok. Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan hal itu," jawab James sambil menatap Vanya dengan tatapan kebingungan.


"Jangan berakting! Aku melihatnya dengan sangat jelas tadi. Jika kamu berbohong, aku benar-benar tidak mau menjalin hubungan denganmu lagi," gertak Vanya dengan raut wajah kesal.


"Aku tidak berani membohongimu Vanya! Aku benar-benar tidak mempunyai tato seperti yang kamu sebutkan tadi," ucap James menjelaskan.


"Kalau begitu bolehkah aku melihatnya?" tanya Vanya sambil menarik baju James.


James tiba-tiba menepis tangannya sambil mengelurkan ekspresi kesal, "Jangan sentuh!" gertaknya.


Vanya terkejut mendengar jawaban James. Lalu, ia menyuruhnya untuk segera pulang, "Pulanglah! Aku sudah lelah dan ingin segera istirahat," pinta Vanya sambil berdiri dan berjalan ke kamarnya tanpa melihat James sedikit pun.


James menyadari Vanya sedang marah padanya. Ia merasa kesal pada dirinya sendiri karena berbicara sembarangan hingga membuat wanita pujaannya itu marah, "Vanya tunggu dulu!" pinta James sambil memegang tangannya.


"Lepaskan! Jangan sentuh aku!" teriak Vanya sambil melepaskan tangan James.


"Hah . . . aku sungguh minta maaf. Aku tidak bermaksud menggertakmu tadi. Aku hanya kaget karena kamu tiba-tiba mau membuka bajuku," ucap James sambil berusaha memegang tangan Vanya kembali.

__ADS_1


"Sudah ku bilang jangan sentuh, ya, jangan! Apa kamu masih tidak mengerti juga? Aku sangat berterima kasih karena kamu telah menyelamatkanku. Untuk ke depannya, tolong jauhi aku! Jangan dekati aku lagi!" teriak Vanya dengan kesal.


"Vanya aku minta maaf. Tolong jangan bersikap seperti ini! Hah . . . baiklah jika kamu sangat ingin mengetahuinya. Aku akan mengatakan semuanya padamu. Ukiran sisik yang terdapat dipinggangku itu memanglah sebuah tato," ujar James menjelaskan.


"Aku akan memaafkanmu. Namun, apa aku boleh melihatnya secara lebih dekat?" tanya Vanya lagi karena masih merasa penasaran.


James kaget mendengar ucapannya Vanya. Ia memutar otak untuk memilih jawaban yang tepat untuk pertanyaan dari Vanya tersebut. Dia bingung antara memilih menolak memperlihatkannya dan membuat Vanya marah lagi atau tidak memperlihatnya dan rahasianya akan tetap terjaga.


"Aku . . . minta maaf, Vanya. Aku tidak bisa memperlihatkannya," ucap James sambil menundukkan kepalanya dan tidak berani menatap wajah Vanya.


"Berarti ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku. Tidak apa jika kamu tidak ingin memperlihatkannya. Aku menghargai pendapatmu itu. Namun, untuk ke depannya .... " Belum juga Vanya melanjutkan ucapannya, James tiba-tiba memeluknya dengan sangat erat.


"Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak berani mengucapkannya karena takut kamu akan sangat ketakutan ketika mengetahui rahasiaku yang sebenarnya," ujar James.


Vanya lalu mendorong James yang memeluknya secara perlahan, "Aku akan berusaha menerimanya jika kamu memang berniat berkata jujur padaku," ucap Vanya sambil memandang wajah James dengan serius.


James masih terdiam dan tak menjawab ucapan Vanya. Ia berusaha mengumpulkan nyalinya sebelum mengungkapkan rahasianya. "Apa kamu seorang Merman yang telah menyelamatku tempo hari saat berada di kapal pesiar?" tanya Vanya secara tiba-tiba. Ucapannya tersebut sontak membuat James sangat terkejut.


"Ah . . . maaf jika ucapanku tidak masuk akal. Saat itu . . . walau dalam keadaan setengah sadar, aku benar-benar melihatmu menyelamatkanku saat aku tenggelam. Namun, aku tidak menyangka kamu berkaki seperti ikan ketika di dalam lautan," ucap Vanya sambil mengingat-ngingat kejadian yang telah dialaminya.


James hanya diam saja setelah mendengar ucapan Vanya tersebut. Ia tak mengeluarkan ekspresi apa pun maupun berbicara sepatah atau dua patah kata. Lalu, tiba-tiba ia menyenderkan kepalanya di pundak Vanya. Raut wajahnya pun kelihatan sangat lelah.


***


BERSAMBUNG.....



โ— LIKE๐Ÿ–’ dan tambahkan KOMENTAR๐Ÿ“ฉ agar author rajin update setiap harinya๐Ÿ™


โ— Mohon kritik dan sarannya semua reader๐Ÿ™


โ— Klik FAVORIT โค

__ADS_1


โ— VOTE novel ini โ˜†โ˜†โ˜†โ˜†โ˜†


TERIMA KASIH.....๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


__ADS_2