
Vanya dan James yang tengah berpelukan terkejut mendengar suara orang yang tiba-tiba mengetuk pintu. Mereka lalu saling melepaskan pelukan masing-masing. "Kamu bukalah pintunya," pinta Vanya kepada James.
Kemudian, James berjalan ke arah pintu dan membukakan pintunya, "Silakan masuk, Suster!" ajak James dengan ramah.
"Eh? Apakah anda . . . James Haolin?" tanya Suster sambil memerhatikan wajah James. Sejak kemarin suster tersebut tidak bisa mengenali wajah James karena ia selalu mengenakan masker, sedangkan pagi hari ini James telah melepas maskernya.
"Silahkan masuk, Sus!" ajak James tanpa memedulikan pertanyaan sang suster.
"Ah! Saya mohon maaf karena telah berbuat tidak sopan," ucap Suster sambil membungkukkan badannya lalu memasuki ruangan tempat Vanya dirawat.
Suster tersebut segera memeriksa keadaan Vanya, "Selang oksigennya sudah bisa dilepas karena pernapasan anda sudah terdengar baik-baik saja. Nanti dokter akan kemari untuk memeriksa anda kembali. Saya mohon undur diri." Suster itu mencabut selang oksigen yang digunakan oleh Vanya, lalu membawanya keluar ruangan.
"Syukurlah kata Suster tadi kamu sudah baik-baik saja. Nanti setelah dari rumah sakit kamu pulang ke rumahku, ya!" James tiba-tiba mengajak Vanya untuk pulang ke rumahnya.
"Eh? Kenapa harus pulang ke rumahmu? Aku mau menelepon Pricilla dan sementara waktu tinggal dirumahnya," tolak Vanya dengan tegas.
"Jangan merepotkan dia! Kamu pulang saja ke rumahku. Aku masih khawatir orang yang berniat mencelakaimu tiba-tiba datang kembali. Jika kamu ada dirumahku dengan penjagaan yang ketat, aku jamin dia tidak akan berani melukaimu lagi," pinta James.
"Haah! Baiklah, aku pulang ke rumahmu. Namun, aku mau menelepon Pricilla untuk mengabarinya. Jadi, mana teleponku?" Vanya menyodorkan tangan kanannya meminta teleponnya kepada James. Vanya menduga James yang memegang teleponnya karena ia juga yang membawa Vanya ke rumah sakit.
"Teleponnya ku taruh dirumahku. Nih, pakai saja telepon punyaku. Apa kamu lapar? Aku akan membelikan beberapa makanan untukmu," ucap James sambil memberikan telepon miliknya.
"Terima kasih banyak. Makanan apa pun boleh asalkan makanan pedas," sahut Vanya sambil tersenyum nakal.
"Percuma saja aku bertanya padamu jika jawabanmu seperti itu." James lalu mencubit hidung Vanya.
"Aw! Apa-apaan sih! Aku kan cuma sesak napas bukannya sakit lambung. Jadi, makan makanan yang pedas itu nggak bakal ngaruh apa-apa," celoteh Vanya sambil memegangi hidungnya.
__ADS_1
"Aku pergi untuk membeli bubur terlebih dahulu." James menghiraukan ucapan Vanya. Ia lalu berjalan ke arah pintu dan keluar dari ruangan tersebut.
"Ish! Nyebelin! Dasar kulkas berjalan! Kadang senyum-senyum sambil tebar pesona. Kadang bersikap dingin tanpa menunjukkan ekspresi apa pun. Nyebelin! Untung aja suka. Kalau nggak, udah ku pukul tuh muka percaya dirinya yang selangit," gerutu Vanya kesal.
***
James pun kembali dengan membawa sebuah kantung keresek yang berisi bubur dan botol air mineral didalamnya. Ia lalu mengeluarkan bubur dari kantung keresek dan menyuruh Vanya untuk segera memakannya, "Makanlah selagi masih hangat!" pinta James sambil memegang kotak makanan berisi bubur didalamnya.
"Aaaa ...." Vanya tiba-tiba membuka mulutnya. James menatap Vanya dengan raut wajah kebingungan karena melihat tingkahnya yang tiba-tiba terasa aneh olehnya.
"Ish, dasar nggak peka. Sudahlah kemarikan buburnya padaku!" Vanya lalu merebut paksa bubur yang masih dipegang oleh tangan James.
"Pft! Kamu ingin aku menyuapimu, ya. Baiklah aku akan melakukannya," ucap James sambil menahan tawanya.
"Nggak perlu! Aku bisa makan bisa sendiri," sahut Vanya tanpa melirik James yang berbicara padanya.
Ia lalu mengambil kotak makanan yang dipegang oleh Vanya. James pun lalu mulai menyuapi gadis yang dicintainya itu. Vanya makan dengan lahap walau raut wajahnya masih terlihat kesal.
"Apa kamu tidak berangkat kerja? Sekarang kan bukan hari libur," tanya Vanya secara tiba-tiba.
"Aku nanti akan menyuruh Tomi untuk mengambil alih jadwalku hari ini. Jadi, aku bisa menemanimu disini," jawab James dengan lembut.
***
Tiba-tiba, ada seorang wanita yang berteriak sambil menerobos pintu masuk ruangan dimana Vanya dirawat.
Brak!
__ADS_1
"Vanya .... Apakah kamu baik-baik saja? Ya ampun, kenapa keadaanmu bisa jadi seperti ini? Lalu, perbuatan siapa ini? Awas saja, akan aku cabik-cabik wajah orang yang berbuat jahat padamu itu jika aku berhasil menemukannya nanti!" teriak Pricilla sambil memegang kedua pipi Vanya.
***
BERSAMBUNG.....
โ LIKE๐ dan tambahkan KOMENTAR๐ฉ agar author rajin update setiap harinya๐
โ Mohon kritik dan sarannya semua reader๐
โ Klik FAVORIT โค
โ VOTE novel ini โโโโโ
TERIMA KASIH.....๐๐๐
*******IKLAN PROMOSI !!!!!
SAMBIL MENUNGGU KELANJUTAN DARI NOVEL SAYA INI, MARILAH BACA KARYA REKOMENDASI DI BAWAH INI !!!! JANGAN SAMPAI TERLEWATKAN MEMBACA SETIAP EPISODENYA KARENA ALURNYA SANGAT MENARIK UNTUK DIBACA !!! DI JAMIN TIDAK AKAN MENYESAL !!! JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK LIKE DAN FAVORITNYA !!!
Author : Imamah Nur
Judul Karya : TAKDIR GADIS SI BURUK RUPA
__ADS_1