
James dan Tomi pun akhirnya pergi meninggalkan ruangan tempat Vanya di rawat. Di dalam kamar hanya tinggalah Pricilla dan Vanya. Pricilla lalu menatap sahabatnya itu dengan sorotan mata penasaran. Sepertinya banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan kepada Vanya dalam benaknya.
"Aku mau bertanya sesuatun hal padamu." Pricilla lalu duduk di kursi samping ranjang pasien. Ia kini menatap Vanya dengan serius.
"Sebenarnya apa yang telah terjadi padamu?" tanya Pricilla.
"Aku . . . tidak tahu secara pasti detail kejadiannya. Kemarin malam aku sedang duduk di ruang keluarga dan tiba-tiba aku mendengar suara ledakan dari arah dapur. Setelah aku lihat, api sudah berkobar di area dapur," jawab Vanya dengan raut wajah sedih.
"Sudahlah kita tidak perlu membahas masalah kebakaran lagi. Namun, apa kamu benar-benar yakin ingin bersama dengan James Haolin? Aku sangat khawatir kamu akan sakit hati nantinya," ucap Pricilla sambil memegang tangan sahabatnya yang sedang di infus.
"Aku yakin ingin bersamanya! Aku . . . sangat mencintainya," sahut Vanya dengan gugup.
"Haah . . . aku tanya kamu sekali. Apakah kamu benar-benar menyukainya?" tanya Pricilla sambil menatap wajah Vanya dengan serius.
"Iya aku benar-benar mencintainya! Kamu kenapa sih terus nanya hal itu mulu?" Vanya balik bertanya kepada Pricilla.
"Aku benar-benar khawatir dia akan menyakitimu. Statusnya yang terkenal, seorang pembisnis profesional, dan putra dari seorang pengusaha terkenal. Hal-hal tersebut pasti menyebabkan banyak wanita yang mengejar-ngejarnya. Bukan wanita biasa yang mengejarnya, melainkan para wanita cantik yang unggul, punya kemampuan hebat, dan multi talenta." Pricilla tak menyadari ucapannya itu menyakiti hati sahabatnya.
"Benar juga kata Pricilla. Aku . . . sekarang sadar status kita sungguh berbeda jauh. Terlepas dari latar belakangnya yang merupakan seorang merman, itu masih tidak cukup untuk membuatku pantas berada disisinya," batin Vanya. Kini, Vanya tengah menundukkan kepalanya. Raut wajahnya pun menunjukkan ekspresi sedih.
Pricilla menyadari raut wajah sahabatnya yang tiba-tiba murung. Ia lalu segera mengalihkan topik pembicaraan, "Ah! Apakah kamu mau mie ramen level lima? Aku akan membelikannya untukmu jika kamu ma ...." Pricilla segera menghentikan ucapannya. Ia teringat Vanya kini sedang sakit dan harus mengatur pola makannya.
Vanya sudah menatap sahabatnya dengan raut wajah gembira karena sahabatnya tahu apa makanan keinginannya saat ini. Namun, rasa senangnya itu kembali hilang setelah Pricilla menarik ucapannya kembali. "Eh? Tidak boleh makanan pedas! Apa kamu mau susu coklat? Itu sangat bagus untuk kese ...." Belum juga Pricilla menyelesaikan ucapannya, tetapi Vanya sudah memotong pembicaraan.
__ADS_1
"Aku ingin mie samyang level tujuh!" seru Vanya secara tiba-tiba.
"Apa kamu sudah gila? Aku akan di amuk oleh kekasihmu itu jika memberikan mie itu padamu." Pricilla kembali mengingat kejadian dimana James menatapnya dan membuatnya merinding ketakutan.
"Aku lagi sakit. Jadi, kamu harus menuruti kemauan sahabatmu yang tengah sakit ini." Vanya menjadikan alasan sakitnya agar Pricilla mau menuruti keinginannya.
"Nggak perlu diucapin pun aku tahu kamu sedang sakit. Jadi, orang sakit itu harus makan makanan yang bergi ...." Lagi-lagi Pricilla menghentikan ucapannya karena Vanya memandangnya dengan raut wajah memelas.
"Namun, bagus juga jika James tiba-tiba marah padaku. Atau . . . nanti dia akan memarahimu karena kamu tidak mau menuruti ucapannya. Lalu, dia akan memutuskanmu." Tiba-tiba raut wajah Pricilla tersenyum jahat.
"Bagus juga jika seperti itu. Jadi, kamu belilah, ya, mienya untukku," ucap Vanya sambil tersenyum bahagia.
"Ya, nggak bakal aku beliin lah! Aku juga masih menyayangi nyawaku. Aku . . . nggak bakalan berani mengusik James Haolin yang itu. Sifat aslinya sungguh berbeda jauh dengan yang terlihat di layar kaca," sahut Pricilla yang merasa merinding mengingat tatapan James tadi.
"Hahaha!" Tiba-tiba Vanya tertawa keras melihat raut wajah Pricilla yang terlihat ketakutan.
"Pft! Tidak-tidak! Aku nggak berpikiran begitu. Aku hanya merasa lucu karena kamu tadinya bersikap arogan mau membuatnya marah lalu tiba-tiba menjadi takut padanya lagi." Vanya masih terkekeh menahan tawanya.
"Aku senang melihatmu tertawa seperti itu, walau untuk menghina tingkah konyolku. Aku rasa . . . dia benar-benar menyukaimu. Perasaan kalian sama. Aku harap kalian bisa bahagia selamanya," ucap Pricilla sambil tersenyum pada sahabatnya.
Vanya pun kembali tersenyum dengan gembira sebagai balasan dari ucapan Pricilla barusan.
***
__ADS_1
Dokter pun datang ke ruangan tempat Vanya di rawat. Ia kembali memeriksa keadaan Vanya secara menyeluruh. "Keadaan anda sudah benar-benar lebih baik dari kemarin. Jika nanti siang keadaan anda sudah benar-benar pulih, anda bisa segera pulang ke rumah. Saya permisi dulu, masih ada pasien yang harus saya periksa pagi ini," ucap Dokter Edrick sambil tersenyum lalu meninggalkan ruangan tersebut.
***
BERSAMBUNG.....
โ LIKE๐ dan tambahkan KOMENTAR๐ฉ agar author rajin update setiap harinya๐
โ Mohon kritik dan sarannya semua reader๐
โ Klik FAVORIT โค
โ VOTE novel ini โโโโโ
TERIMA KASIH.....๐๐๐
*******IKLAN PROMOSI !!!!!
SAMBIL MENUNGGU KELANJUTAN DARI NOVEL SAYA INI, MARILAH BACA KARYA REKOMENDASI DI BAWAH INI !!!! JANGAN SAMPAI TERLEWATKAN MEMBACA SETIAP EPISODENYA KARENA ALURNYA SANGAT MENARIK UNTUK DI BACA !!! DI JAMIN TIDAK AKAN MENYESAL !!! JANGAN LUPA TINGGALKAN LIKE DAN FAVORITNYA !!!
Author : Bhebz
__ADS_1
Judul Karya : GADIS PEMIMPI