Pacarku Seorang Merman Tampan

Pacarku Seorang Merman Tampan
BAB 06 - Hampir Terlambat


__ADS_3

Telepon Vanya berdering. Kemudian, ia mengangkatnya. Ternyata sahabat baiknya yang menelepon. Vanya terlihat senang mendapat telepon dari sahabat baiknya itu. Ia pun berbicara panjang lebar dan saling curhat dengan sahabatnya melalui telepon.


Secara tiba-tiba, Vanya mendengar sahabatnya menangis di telepon. Ia sangat terkejut mendengar kejadian tersebut. Vanya pun segera berganti pakaian dan bergegas menemui sahabatnya dirumahnya.


***


Hanya dalam waktu dua puluh menit Vanya sampai di rumah sahabatnya yang berjarak dua kilometer menggunakan transportasi umum. Rumah megah bak istana pun kini terpampang dihadapan mata Vanya. Rumah tersebut adalah rumah sahabatnya yang bernama Pricilla Rolland anak dari seorang pengusaha properti ternama di kota San Diego.


Seorang penjaga keamanan rumah itu pun lalu membukakan pintu untuk Vanya, "Silakan masuk, Nona!" ucapnya.


Vanya segera bergegas masuk ke dalam rumah megah tersebut. Ia lalu mengangkatkan tangannya untuk mengetuk pintu depan rumah tersebut. Namun, sebelum Vanya mengetuk pintu, pintu tersebut sudah terbuka duluan. Nampaklah seorang wanita cantik berpakaian kasual yang membukakan pintu.


"Eh? Vanya? Kamu mau apa datang kesini?" tanya Pricilla kaget melihat Vanya karena ada di depan rumahnya.


"Siapa suruh sahabatku yang cantik ini, tiba-tiba menangis di telepon. Sebenarnya, ada apa?" Vanya bertanya balik sambil memegang pipi sahabatnya menggunakan kedua tangannya.


"Aaa! Sakit tahu! Lepasin gak!" sahut Pricilla sambil berusaha melepaskan tangan Vanya yang memegang pipinya.


"Iya iya aku lepasin nih. Btw kamu kamu kemana malam-malam kaya gini pake pakaian kaya gitu?" tanya Vanya penasaran.


"Ke rumah kamu Van. Ayo kita pergi sekarang!" jawab Pricilla sambil menarik tangan Vanya.


"Eeeh! Tunggu dulu! Kamu udah izin belum ke mama kamu?" tanya Vanya kaget karena tangannya tiba-tiba ditarik sahabatnya.


Pricilla terus menarik tangan Vanya menuju bagasi di samping rumahnya. Ia lalu membukakan pintu mobilnya, dan mendorong Vanya agar masuk ke dalam mobilnya. Dia juga segera masuk ke dalam mobilnya. Kemudian, ia memarkirkan mobilnya menuju arah gerbang rumahnya. Ia lalu menancapkan gas mobilnya dengan sangat cepat.


"Eh? Tunggu Pricilla! Ini mau kemana? Sebaiknya kamu jangan mengendarai mobil di saat emosi begini!" ucap Vanya menasehati sahabatnya.


"Kita mau ke rumahmu Van. Udah diam aja dulu!" jawab Pricilla sambil fokus menyetir.


"Ya sudahlah ayo," sahut Vanya yang sudah tak bisa lagi menasehati sahabatnya yang keras kepala ini.


***


Ckiit!


Tiba-tiba, Pricilla memberhentikan mobilnya di depan mini market.


"Eh, Pricilla mau apa?" tanya Vanya.


Kemudian, Pricilla segera turun dari mobilnya dan memasuki mini market. Vanya pun keluar dari mobil juga dan mengikutinya.


Pricilla lalu mengambil keranjang untuk berbelanja. Ia mengambil satu botol saus cabai level tujuh dan beberapa buah mi instan rasa pedas.


"Kamu gila ya, Sil?" teriak Vanya pada Pricilla yang mengambil makanan serba pedas.


"Tolong temani aku untuk malam ini saja! Temanilah, ya, sahabatmu yang sedang patah hati ini. Plisss ...." pinta Pricilla pada Vanya.


"Haaa! Baiklah," ucap Vanya singkat.


***

__ADS_1


Setelah berbelanja, Pricilla lalu memacu mobilnya menuju rumah Vanya. Mereka berdua segera bergegas ke dapur dan memasak semua mi instan rasa pedas yang di beli tadi. Selepas mie tersebut matang, mereka berdua lalu menyantapnya dengan lahap ditambahkan satu botol saus level tujuh yang sangat pedas.


"Haa, pedasnya! Vanya aku mau air lagi!" pinta Pricilla yang sedang kepedasan pada Vanya.


"Apa itu belum cukup? Aku saja hanya meminum satu botol air. Sedangkan kamu sudah habis tiga botol. Kalau gak sanggup makan pedas, ya jangan sok kuat gitu," gerutu Vanya memarahi Pricilla.


"Iya iya .... Bawel banget sih. Ini tuh buat pereda sakit hatiku tahu. Dah lah aku ambil sendiri aja airnya di kulkas," sahut Pricilla sambil berjalan ke arah kulkas.


Pricilla lalu membuka pintu kulkas, tiba-tiba perutnya terasa sangat sakit, "Eh? Aduh . . . Vanya tolong!" ucap Pricilla sambil memegangi perutnya.


"Eh kamu kenapa?" tanya Vanya khawatir.


"Aku . . . mau . . . ke . . . kamar mandi," jawab Pricilla sambil bergegas ke kamar mandi di rumah Vanya.


"Haah! Siapa suruh obat patah hatinya malah makan makanan serba pedas. Namun, kasian juga Pricilla. Dia itu padahal wanita yang sangat cantik serta cerdas, tetapi selalu saja disakiti pria gara-gara harga dirinya yang sangat tinggi dan keras kepala. Pria mana pun menjadi malas berpacaran dengannya dan akhirnya meninggalkannya," ucap Vanya sambil menatap sahabatnya yang berlari ke kamar mandi rumahnya.


Sepanjang malam Pricilla bolak-balik ke kamar mandi di rumah Vanya, hingga membuat Vanya tidak bisa tidur. Vanya pun membelikan obat untuk Pricilla di apotik yang tidak jauh dari rumahnya. Setelah meminum obat, diare Pricilla akhirnya mereda. Jam dinding pun kini sudah menunjukkan pukul tiga dini hari. Pricilla akhirnya tertidur pulas di rumah Vanya. Vanya pun ikut tertidur karena sudah lelah.


***


Kringgggg!


Kringggg!


Kringgggggggg!


Suara jam lonceng Vanya telah berbunyi, waktu pun sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.


Matahari kian meninggi, dari balik jendela kamar pun sudah terlihat dengan jelas pancaran cahayanya.


Vanya mengucek-ngucek matanya. Ia lalu melihat jam loncengnya, "Apa? Jam delapan? Gawat aku sudah mau terlambat. Aah! Tidak sempat menyetrika pakaian. Sudahlah pakai saja seadanya," teriak Vanya panik.


Kemudian, Vanya bergegas mandi secara terburu-buru. Ia lalu menyisir rambutnya yang masih basah tanpa lupa mengeringkannya karena sudah tidak ada waktu lagi. Dia bergegas mengenakan pakaian seadanya yang terlihat masih rapi di lemari pakaiannya. Ia lalu mencari sepatunya dan menyiapkan berkas persyaratan untuk interview pagi ini.


"Aduh . . . ada apa sih pagi-pagi ribut gini?" tanya Pricilla yang masih setengah tidur.


"Aku mau interview pekerjaan baruku. Kalau kamu mau pulang nanti, jangan lupa tutup pintu. Aku pergi dulu," ucap Vanya sambil pergi terburu-buru.


***


Vanya berjalan menggunakan sepatunya yang masih belum terpakai sepenuhnya. Ia lalu bergegas menuju ke arah halte bus.


"Aahh! Mana ini busnya? Waktu sudah tinggal setengah jam lagi," ucap Vanya sambil melihat waktu di jam tangannya.


"Aah, itu dia! Berhenti!" teriak Vanya sambil melambaikan tangannya. Ia lalu segera masuk ke dalam bus tersebut.


"Apa aku terlihat sudah rapi?" ucapnya sambil memerhatikan penampilannya dari sebalik kaca bus.


"Ah! Penampilanku sungguh jauh dari kata rapi. Kameja putih yang kusut, lalu celana hitam yang panjangnya di atas tumit kaki. Aah! Kacau . . . semuanya kacau," gerutu Vanya sambil memegang kedua pipinya.


***

__ADS_1


Akhirnya Vanya telah sampai di perusahaan agensi hiburan Hao Entertainment. Vanya lalu bergegas memasuki pintuk masuk. Para karyawan disekitarnya menatap Vanya dengan tatapan menghina.


"Hah! Biarlah mereka menatap dengan sesuka hati sampai puas. Aku tidak perlu memedulikan tatapan yang tidak ada gunanya itu," gumam Vanya sambil menundukkan kepalanya.


Vanya hanya bisa pasrah. Ia sadar pakaiannya jauh dari kata sempurna untuk memasuki perusahaan elit yang menaungi superstar-superstar ternama dinegaranya.


"Hampir saja terlambat. Untungnya masih tersisa lima menit lagi," ucap Vanya sambil melihat jam ditangannya.


Vanya lalu menghampiri dua orang karyawati yang bertugas di lobi perusahaan.


"Maaf permisi! Saya mau ke ruangan Departemen Personalia untuk interview," ucap Vanya dengan sopan.


"Ooh . . . posisi apa yang anda lamar, Mbak?" tanya salah satu karyawati.


"Saya melamar di posisi petugas kebersihan shift malam, Mbak. Ini berkas-berkas yang saya bawa," jawab Vanya sambil menyerahkan berkas-berkas yang dibawanya.


Karyawati tersebut lalu memeriksa berkas-berkas milik Vanya dengan teliti. Ia lalu mengajak Vanya untuk mengikutinya, "Mari Mbak ke sebelah sini ikuti saya," ucapnya dengan sopan.


Vanya pun mengikuti karyawati tersebut. Karyawan-karyawan yang lewat disekitarnya selalu saja menatap Vanya dengan tatapan penuh cibiran.


"Haah! Tidak apa Vanya. Sabar . . . sedikit lagi kau juga akan mendapatkan pekerjaan ini dan nantinya pasti tidak dapat dipungkiri akan berpapasan dengan mereka. Ayo semangat Vanya," ucap Vanya dalam hatinya dengan penuh semangat.


Tiba-tiba, ada seorang pria tinggi yang mengenakan kacamata memanggil nama Vanya, "Nona Vanya Apride! Tunggu sebentar! Haah . . . haah . . . ," teriaknya dengan napas terengah-engah sambil berlari ke arah Vanya.


Vanya lalu berbalik badan dan melihat siapa orang yang telah memanggil namanya, "Eh? Siapa orang itu?" tanya Vanya kebingungan sambil memerhatikan pria berkacamata yang berlari ke arahnya.


"Aah! Akhirnya saya berhasil mengejar anda, Nona. Mari ikut saya ke ruangan kantor CEO!" ucap pria berkacamata itu pada Vanya.


***


BERSAMBUNG.....


โ— LIKE๐Ÿ–’ dan tambahkan KOMENTAR๐Ÿ“ฉ agar author rajin update setiap harinya๐Ÿ™


โ— Mohon kritik dan sarannya semua reader๐Ÿ™


โ— Klik FAVORIT โค


โ— VOTE novel ini โ˜†โ˜†โ˜†โ˜†โ˜†


TERIMA KASIH.....๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™



******IKLAN PRMOMOSI !!!


REKOMENDASI NOVEL YANG SANGAT BAGUS UNTUKMU!!! JANGAN SAMPAI TERLEWATKAN UNTUK MEMBACANYA KARENA ALURNYA SANGAT MENARIK UNTUK DIBACA !!! DI JAMIN TIDAK AKAN MENYESAL!!! JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK LIKE DAN FAVORITNYA !!!


Author : Emma Risma


Judul Karya : ZAFRINA MENDADAK NIKAH

__ADS_1



__ADS_2