Pacarku Seorang Merman Tampan

Pacarku Seorang Merman Tampan
BAB 20 - Bercak Darah


__ADS_3

Setelah melewati kejadian yang memanaskan hati, pikiran, dan tubuh itu, mereka lalu berhenti dan bergegas ke dapur untuk makan siang. James berinisiatip memasak makanan untuk makan siang bersama Vanya. Ia hanya menyuruh Vanya untuk duduk dan memerhatikannya yang sedang memasak.


***


James pun memulai aktivitas memasaknya. Ia menggunakan celemek terlebih dahulu sebelum mulai memasak. Kemudian, ia memotong-motong bahan-bahan yang akan dimasak dengan sangat cepat seperti seorang koki yang sudah berpengalaman.


Vanya memerhatikan James yang sedang memasak dengan tatapan terpesona. Ia tak menyangka akan dimasakkan oleh orang yang menyukainya itu. "Leo pun dulu sering memasak untukku karena dia memang berprofesi sebagai seorang pembisnis kuliner yang handal dalam bidang memasak," ucap Vanya agak keras tanpa sadar bahwa ia sedang berada di rumah James.


Pranggg!


Tiba-tiba, pisau yang dipegang James terjatuh ke lantai. Vanya pun segera menghampiri James karena khawatir pisau itu menggores kakinya, "Kamu tidak apa-apa kan? Kakimu tidak terluka kan?" tanya Vanya khawatir.


"Aku tidak apa-apa. Namun, sepertinya hatiku yang tidak baik-baik saja," jawab James dengan raut wajah yang masam.


"Eh? Apa maksud ucapanmu itu?" Vanya kebingungan kenapa James tiba-tiba berbicara seperti itu.


"Tanyakan saja pada dirimu sendiri?" James malah bertanya balik pada Vanya sambil mengambil pisau yang terjatuh ke lantai.


"Hah . . . . Kamu kenapa sih tiba-tiba marah seperti itu?" tanya Vanya lagi karena tak habis pikir dengan sikap James yang tiba-tiba berubah.


"Apa kamu masih mencintai pria bajin*an itu? Mengapa terkadang kamu selalu menyebut-nyebut namanya. Apa tidak terdapat sedikit pun aku dihatimu?" teriak James dengan kesal.


"Eh? Ya ampun! Aku lupa tadi malah tiba-tiba membicarakan si playboy gadungan itu lagi. Cih! Nyebelin banget. Pelet apa yang sebenarnya dia berikan padaku sehingga terkadang aku menyebut namanya yang menyebalkan itu," batin Vanya kesal karena ia malah mengucapkan hal yang seharuanya tidak dia ucapkan lagi.


"Aku minta maaf, James. Aku tidak bermaksud untuk membanding-bandingkan playboy itu denganmu. Aku benar-benar menyukaimu dan sangat membencinya! Jika aku tidak menyukaimu, aku tidak akan berani melakukan hal tadi. Bahkan, dengan si playboy itu pun aku belum pernah melakukannya. Aku berani bersumpah!" teriak Vanya dengan keras di hadapan James yang sedang marah.


James pun tiba-tiba tersenyum kembali. Ia merasa senang dengan ucapan yang Vanya lontarkan barusan. Dia lalu menyuruh Vanya untuk kembali duduk karena ia akan segera menyalakan kompor dan mulai memasak bahan-bahan yang telah ia potong. "Kamu duduklah kembali! Aku akan memulai memasak dan menyalakan kompor ini," pinta James sambil tersenyum.

__ADS_1


"Eh? Apakah kamu sudah tidak marah lagi?" Vanya tiba-tiba merasa aneh karena sikap James berubah dengan sangat cepat.


"Terima kasih sudah menyukaiku kembali," ucap James sambil mengecup kening Vanya.


***


Vanya merasa malu karena James tiba-tiba mencium keningnya. Kemudian, ia pun segera duduk kembali di kursi meja makan. Setelah menunggu James memasak dalam waktu yang agak lama, James pun membawa satu per satu hasil masakannya ke meja makan.


Berjejeranlah makanan yang terlihat mewah dan menggugah selera siapa pun yang melihatnya. James pun tidak lupa menyediakan jus buah dan air putih sebagai minumannya. Vanya sangat terpesona dengan masakan James yang terlihat enak dengan hiasan sayuran yang ditata secara rapi seperti masakan buatan koki-koki profesional.


James lalu menyuruh Vanya mencicipi masakannya bukan hanya melihat-lihatnya saja. "Cobalah satu per satu masakanku ini! Jangan hanya melihatnya saja!" pinta James sambil menyorkan piring, sendok, dan garpu pada Vanya.


Vanya pun lalu mencoba masakan James satu per satu. Raut wajahnya kini tiba-tiba berubah menjadi gembira karena merasa masakan James sangat enak, "Em . . . masakanmu ini sangat lezat seperti masakan dari koki profesional. Bahkan, masakanmu ini lebih lezat dari masakan yang beberapa hari lalu aku makan di restoran bintang lima itu bersamamu," puji Vanya sambil mencicip masakan buatan James.


"Kamu terlalu memujiku secara berlebihan. Mari kita makan sebelum makanan ini menjadi dingin," sahut James sambil menatap Vanya dengan senyuman manisnya.


***


"Biarkan aku saja yang mencucinya," ucap James sambil mengambil piring-piring yang dibawa Vanya.


"Eh? Jangan bersikap seperti itu! Aku kan sudah makan secara gratis disini. Masa aku tidak mencuci piring-piring ini untukmu," sahut Vanya sambil menghampiri James yang meletakkan piring-piring kotor di wastafel.


"Biarkan aku saja yang mencucinya!" pinta Vanya pada James.


"Kamu tidak perlu repot-repot melakukannya. Biarkan aku saja yang membersihkan semuanya. Kamu bisa duduk manis di kursi meja makan dan memerhatikan aku yang sedang mencuci piring. Jika merasa bosan, kamu bisa jalan-jalan di sekitar rumahku," sahut James sambil mengecup kening Vanya.


Wajah Vanya pun memerah. Ia merasa kesal sekaligus malu karena James selalu saja menciumnya ketika dia marah atau membantah ucapannya. "Apa kamu sengaja melakukannya?" tanya Vanya kesal dengan wajahnya yang masih memerah.

__ADS_1


"Pft! Aku memang sengaja melakukannya agar kamu diam," goda James sambil menahan tawanya setelah melihat emosi Vanya yang selalu meledek secara tiba-tiba. Namun, hal itu baginya terasa sangat lucu karena Vanya selalu jujur mengungkapkan isi hatinya secara terang-terangan.


***


Vanya pun berjalan-jalan di sekitar halaman rumah James, sedangkan James sedang mencuci piring di dapur. Ia lebih memilih untuk berjalan-jalan daripada hanya duduk santai dan tidak melakukan aktivitas apa pun.


Vanya berjalan-jalan mengelilingi rumah James tanpa terlewat satu tempat pun. Dia merasa senang karena nuansa rumah James ini berbeda dari rumah-rumah mewah yang pernah ia lihat. Saat Vanya melewati sebuah ruangan di halaman belakang, ia sangat terkejut mendapati di depan pintu ruangan itu ada bercak darah yang berceceran.


Karena merasa penasaran Vanya pun membuka ruangan tersebut dan ternyata pintunya tidak terkunci. "Eh? Ternyata pintu ruangan ini tidak dikunci. Aku coba saja masuk ke dalamnya. Namun, apakah James tidak akan marah jika aku sembarang masuk ke berbagai tempat di rumahnya? Biarlah! Hal itu pikirkan nanti saja, yang aku pikirkan sekarang adalah ada apa di balik pintu ini melihat di lantai depan pintunya sangat banyak bercak darah berceceran," ucap Vanya sambil memerhatikan bercak darah di lantai depan pintu.


Kemudian, Vanya pun membuka pintu ruangan tersebut. "Hmm . . . ruangan ini sungguh sangat terawat kebersihannya. Sepertinya banyak juga koleksi barang-barang antik milik James yang ia simpan di sini," ucap Vanya sambil memerhatikan sekeliling ruangan tersebut.


Tiba-tiba, Vanya dibuat terkejut karena mendapati lantai di dalam ruangan tersebut pun banyak bercak darah berceceran menuju sebuah kulkas tua di ujung ruangan. Vanya lalu melangkahkan kakinya menuju sebuah kulkas yang terlihat tua dan usang.


Dikarenakan merasa sangat penasaran dengan benda yang terdapat di dalam kulkas tersebut, ia lalu mengulurkan tangannya untuk membuka pintu kulkas. Tiba-tiba, James sudah berada dibelakangnya dan menghentikan tangan Vanya yang berusaha membuka pintu kulkas tersebut.


***


BERSAMBUNG.....



โ— LIKE๐Ÿ–’ dan tambahkan KOMENTAR๐Ÿ“ฉ agar author rajin update setiap harinya๐Ÿ™


โ— Mohon kritik dan sarannya semua reader๐Ÿ™


โ— Klik FAVORIT โค

__ADS_1


โ— VOTE novel ini โ˜†โ˜†โ˜†โ˜†โ˜†


TERIMA KASIH.....๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


__ADS_2