
James kemudian menatap wanita yang memasuki ruangannya tanpa permisi itu dengan tatapan kesal penuh amarah.
Tanpa tahu malunya wanita bertubuh langsing itu malah bertanya pada James, "Siapa wanita yang tangannya di pegang oleh anda, Senior?!" ucapnya.
...*************...
James berusaha tetap sabar menghadapi wanita bertubuh langsing yang tiba-tiba masuk ke ruangannya itu. Ia kemudian menghela nafas terlebih dahulu sebelum berbicara.
"Ada urusan apa kamu tiba-tiba datang kemari?!" tanya James pada wanita itu.
"Jasmine kemari hanya untuk menemui senior. Jasmine ingin bertanya, hadiah apa yang senior inginkan ketika senior berulang tahun dua minggu lagi?! jawab wanita itu sambil berjalan mendekati James.
"Aahhh! Mohon maaf Pak CEO, saya pamit undur diri terlebih dahulu. Sepertinya saya sudah mengganggu pembicaraan anda berdua." ucap Vanya tiba-tiba sambil berusaha melepaskan tangan James yang menggenggam tangannya dengan erat.
"Haaahhh! Kamu sama sekali tidak menggangu." sahut James singkat, lalu ia melepaskan tangannya yang menggenggam tangan Vanya.
"Kamu jangan pergi dulu!" pinta James pada Vanya sambil mengambil telepon dari saku celananya.
"Tapi… sepertinya saya harus segera pergi, Pak." ucap Vanya dengan gugup.
"Haahhh! Apa kamu tidak bisa menunggu sebentar lagi!" ucap James sambil memainkan teleponnya.
"Apa-apaan wanita ini! Siapa dia sebenarnya?! Eh?! Tunggu dulu. Bukankah dia Vanya saudara kembarku?! Kenapa dia bisa tiba-tiba akrab dengan James. Cih! Si*l! Apa James tertarik padanya karena wajahnya mirip dengan Selena?! Si*lan! Andai saja kecelakaan itu tidak terjadi." batin wanita bertubuh langsing itu dengan penuh amarah.
James kini sedang memegang teleponnya. Ia menelepon seseorang untuk segera datang ke ruangannya. Wanita bertubuh langsing itu tiba-tiba memegang tangan James. Ia menggoda James dengan tubuhnya yang sempurna.
"Senior! Mari kita nanti makan siang bersama!" pinta wanita bertubuh langsing itu sambil memegang tangan James dan membusungkan dadanya.
"Apa-apaan kamu! Cepat lepaskan!" perintah James pada wanita bertubuh langsing itu.
"Tapi... Senior..." ucap wanita itu sambil bersikap memelas.
"Haaahhh! Cukup Jasmine!" sahut James sambil menghela nafas.
"Sepertinya hubungan mereka sangat dekat. Haahhh! Untuk apa aku masih disini?! Seharusnya aku segera pergi saja." batin Vanya yang merasa tidak enak.
"Anu... saya mohon undur diri terlebih dahulu, Pak CEO karena masih ada urusan." ucap Vanya sambil membungkukkan dirinya, lalu berjalan ke arah pintu masuk.
"Vanya tunggu! Haaahhh! Aku bilang cepat lepaskan!" pinta James pada Jasmine sambil berusaha melepaskan genggaman tangannya. Jasmine pun akhirnya melepaskan tangan James. James terlebih dahulu mengelap tangannya yang dipegang Jasmine menggunakan sapu tangan bersih yang selalu dibawanya sebelum mengejar Vanya.
Vanya menghiraukan ucapannya James. Dia kemudian berjalan ke luar ruangan James. Ia lalu menaiki lift untuk turun ke lantai bawah. James pun mengejar Vanya yang telah pergi. Di tengah perjalanan sebelum menuju lift, James bertemu dua orang petugas keamanan yang dipanggilnya melalui telepon.
"Cepat suruh dia dari ruangan kerjaku!!!" ucap James dengan tegas.
"Baik bos!" ucap mereka serempak.
__ADS_1
...**********...
Tinggalah Jasmine seorang diri di ruangan kerja James. Ia kemudian duduk di kursi sofa yang ada di ruangan tersebut. Dia kemudian bercermin menggunakan telepon genggamnya.
"Hmm… Apa aku kurang cantik?! Kenapa James selalu saja bersikap dingin padaku?! Bukan hanya saat aku masih menjadi Selena, tapi dengan identitas baruku sebagai Jasmine yang jelas-jelas lebih cantik dari Selena pun dia masih bersikap seperti itu." gerutu Jasmine kesal.
"Haahhh! Sebaiknya aku tunggu saja Kak James diruangannya ini." ucap Jasmine yang tengah duduk di sofa.
Tiba-tiba dua orang petugas keamanan yang berpostur tinggi dan berbadan kekar datang ke ruangan tersebut. Mereka menghanpiri Jasmine yang tengah duduk santai di kursi sofa. Jasmine sangat terkejut melihat petugas keamanan yang tiba-tiba menghampirinya.
"Mau apa kalian kemari?!" tanya Jasmine ketus.
"Kami diperintahkan untuk membawa anda keluar dari ruangan ini, Nona Jasmine." ucap salah satu petugas keamanan.
"Haahhh! Apa?! Siapa yang menyuruh kalian?! Apa kalian tidak tahu hubunganku dengan Kak James?!" teriak Jasmine terkejut.
"Ka… kami… mohon maaf, Nona. Tapi… ini adalah perintah dari Pak CEO.
"Haahhh! Sungguh tega kamu James. Berani-beraninya kamu mengusirku karena wanita si*lan itu. Tunggu saja Vanya pembalasanku. Kamu selalu saja membuat hidupku menderita." batin Jasmine dengan penuh emosi.
"Baiklah aku akan pergi. Kalian berdua tidak perlu memegangi tanganku untuk memaksa pergi dari ruangan ini seperti orang jahat yang sengaja menerobos masuk tanpa izin." ucap Jasmine sambil berdiri dari sofa.
Jasmine pun kemudian meninggalkan ruangan kerja James. Ia lalu turun menggunakan lift tanpa diikuti oleh petugas keamanan yang menyuruhnya pergi. Namun, ternyata kedua petugas keamanan tersebut mengikuti Jasmine secara diam-diam.
...**********...
Beberapa menit sebelumnya…
Vanya memasuki lift menuju lantai bawah perusahaan. James berteriak untuk memintanya berhenti.
"Vanya tunggu dulu!" pinta James pada Vanya yang sudah menutup pintu masuk lift.
Setelah sampai di lantai bawah, Vanya kemudian berlari sampai ke depan pintu masuk. Karyawan-karyawan disekitarnya menatapnya dengan penuh keanehan.
"Kenapa dia berlarian seperti itu?!"
"Apa dia menganggap kantor ini hutan?!"
"Sungguh wanita tidak tau sopan santun! Mentang-mentang kenalannya Pak CEO." ucap karyawan disekitar Vanya dengan nada mengejek.
James berusaha mengejar Vanya dengan menuruni lift menuju lantai bawah. Namun, ia melihat Vanya sudah lari sangat jauh. Dia pun kemudian menelepon anak buahnya untuk mengejar Vanya.
"Jika kamu ingin aku kejar, maka akan ku kejar walau sejauh apa pun jaraknya." batin James.
Tiba-tiba, Jasmine pun telah turun dari lift. Dia melihat James yang masih berada di depan lift khusus untuk CEO. Ia kemudian berusaha berjalan mendekat ke arah James. Namun, ia kalah langkah dengan James yang sudah berjalan pergi duluan.
__ADS_1
"Kak Ja..." teriak Jasmine tak melanjutkan ucapannya karena melihat James yang sudah berjalan pergi.
"Cih! Si*lan! Lagi-lagi dia memedulikan wanita kampungan itu." gumam Jasmine dengan penuh amarah.
...**********...
James kini sedang berjalan menuju ke parkiran untuk menaiki mobilnya. Ia sekarang bergegas mengendarai mobilnya menuju ke alamat yang dikirimkan anak buahnya, yaitu alamat dimana Vanya melarikan diri. Tiba-tiba teleponnya bergetar, ternyata itu adalah telepon dari sekertarisnya.
"Drrrrrrrt drrrrrt drrrrrrrttt!"
"Hallo. Iya ada apa?!" tanya James pada sekertarisnya dari telepon.
"Itu… anu… anda mau kemana, Pak?! Mengapa anda tidak ada di ruangan anda?!" sekertaris James malah bertanya balik padanya.
"Aku ada urusan penting yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Kamu undurlah beberapa jadwalku hari ini! Atau... kamu saja yang menggantikan aku mengerjakannya." jawab James dengan tegas.
"Tapi..."
"Tut tut tutttt!"
Sebelum sekertarisnya James melanjutkan ucapannya, James terlebih dahulu mematikan sambungan teleponnya.
"Haahhh! Sebenarnya urusan penting apa yang mau dia lakukan?! Tidak biasanya dia seperti ini. Aku tahu betul sifat atasanku yang gila kerja itu." batin Tomi yang sedang berada di ruangan kerja James, namun dia tidak melihat atasannya berada disana.
...*************...
BERSAMBUNG.....
● LIKE🖒 dan tambahkan KOMENTAR📩 agar author rajin update setiap harinya🙏
● Mohon kritik dan sarannya semua reader🙏
● Klik FAVORIT ❤
● VOTE novel ini ☆☆☆☆☆
TERIMA KASIH.....🙏🙏🙏
*****IKLAN PROMOSI !!!!!
SAMBIL MENUNGGU KELANJUTAN DARI NOVEL INI, BACALAH KARYA REKOMENDASI DI BAWAH INI !!!! JANGAN SAMPAI KETINGGALAN SETIAP EPISODENYA KARENA ALUR CERITANYA SANGAT MENARIK !!! DI JAMIN TIDAK AKAN MENYESAL !!! JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK LIKE DAN FAVORITNYA !!!
Author : Isti Shaburu
__ADS_1
Judul Karya : ROMANSA DOKTER GANTENG & PELAYAN CAFE