
James kini sedang berjalan menuju ke parkiran untuk menaiki mobilnya. Ia kini sedang memarkirkan mobilnya untuk dikemudi menuju ke alamat yang dikirimkan bawahannya, yaitu alamat dimana Vanya melarikan diri. Tiba-tiba teleponnya bergetar, ternyata itu adalah telepon dari sekertarisnya.
Setelah menyampaikan apa yang ingin dikatakannya lewat telepon, James mematikan telepon dari sekertarisnya. Ia kemudian memarkirkan mobilnya. Dia pun pergi mengemudi mobilnya menuju keluar perusahaan.
...*************...
"Lebih baik aku menunggunya di rumahnya saja. Itu lebih baik daripada harus menyetir mobil ke tempat yang jauh." gumam James sambil menyetir.
James lalu menancap gas mobilnya dan menuju alamat rumah Vanya. Sesampainya di halaman rumah Vanya, ia terkejut melihat ada sebuah mobil. Dia jadi berpikir hal yang tidak masuk akal terhadap Vanya.
"Apa di dalam rumah wanita ini ada seorang pria ?! Mengapa ada mobil mewah di depan rumahnya?! Haahhh... sebaiknya aku periksa terlebih dahulu sebelum berpikir yang bukan-bukan."
James kemudian mamarkirkan mobilnya disamping mobil yang telah terparkir di depan rumah Vanya. Ia lalu memasuki gerbang rumah Vanya. Dia terlebih dahulu membersihkan kursi yang ada di teras rumah Vanya sebelum mendudukinya. Ia pun mengamati sekeliling rumah Vanya yang terlihat tua tapi masih terawat.
"Hmm... kursinya pun terbuat dari kayu yang kuat. Sungguh rumah yang sangat antik." gumam James sambil duduk di kursi teras rumah Vanya.
Tiba-tiba, ada orang yang membuka pintu. Orang yang membuka pintu adalah Pricilla. Ia baru mau pulang ke rumahnya setelah menginap di rumah Vanya karena sakit perut. Dia sangat terkejut melihat seorang James Haolin duduk di depan teras rumah Vanya.
"Apa benar anda James Haolin?!" teriak Pricilla yang terkejut.
James terkejut mendengar suara teriakan seorang wanita disampingnya, "Eh?! Ia ini memang saya." ucapnya sambil menengok ke arah wanita yang berteriak padanya.
"Ma... mau apa anda ke rumah sahabat saya?!" teriak Pricilla lagi karena tak menyangka James Haolin yang merupakan superstar terkenal bisa datang ke rumah sahabatnya.
"Saya mau membicarakan soal pekerjaan untuk Vanya." jawab James singkat.
"Itu... mana mungkin anda sampai harus menyusul ke rumah orang yang melamar kerja ke perusahaan anda secara langsung?!" teriak Pricilla seperti orang yang sedang menginterogasi.
"Haaa! Itu bukan urusan anda, Nona." jawab James sambil memalingkan wajahnya.
...********...
Di tempat lain, terlihat Vanya sedang berjalan ke arah rumahnya. Gadis bertubuh kurus itu berjalan dengan sangat cepat. Saat sampai di depan rumahnya, ia sangat terkejut melihat satu buah mobil mewah edisi terbaru terparkir di halaman rumahnya.
"Ini... mobil keluaran perusaahaan otomotif SZ terbaru. Katanya, ini mobil edisi terbatas yang hanya terdapat dua puluh unit saja dan harganya pun puluhan juta US$." ucap Vanya yang terpesona dengan mobil mewah tersebut.
"Eh?! Bukan itu masalahnya sekarang. Tapi, siapa sebenarnya pemilik dari mobil ini." Vanya tersadar dari lamunannya.
Ia kemudian membuka gerbang rumahnya dan memasuki rumah. Dia sangat terkejut melihat sahabatnya yang tengah berteriak pada James Haolin. Hal yang membuat Vanya terkejut bukanlah sahabatnya yang tengah marah-marah, tapi James yang sedang duduk manis di teras depan rumahnya. Vanya lalu bergegas menghampiri mereka berdua.
James yang melihat Vanya telah pulang tersenyum manis ke arah Vanya. Vanya pun menjadi salah tingkah karena melihat James yang tersenyum padanya. Tapi tetap saja Vanya kini ingin memarahi James yang datang ke rumahnya tanpa izin.
"Pricilla sebaiknya kamu pulang dulu! Nanti mamamu marah-marah lagi padaku karena aku tidak menyuruhmu pulang" pinta Vanya pada sahabatnya itu.
__ADS_1
"Eh?! Kenapa aku yang harus pulang?! Seharusnya kan dia!" teriak Pricilla sambil menunjuk James.
"Sudahlah cepetan pulang! Aku masih ada urusan yang harus diselesaikan." ucap Vanya sambil menarik lengan Pricilla dan mengantarkannya ke gerbang depan rumahnya.
"Eh?! Kamu beneran gak mau ngejelasin dulu ke aku tentang situasi yang terjadi sekarang?!" tanya Pricilla yang enggan pergi dari rumah Vanya.
"Iya iya... nanti aku jelasin. Sudah cepetan pulang sana! Nanti mama kamu marah-marah lagi karena putri kesayangannya belum pulang semalaman." sahut Vanya sambil membuka pintu mobil sahabatnya.
"Iya iya... ini juga mau pulang. Bawel banget sih!" keluh sahabatnya.
Vanya hanya tersenyum menanggapi ucapan sahabatnya itu. Pricilla kemudian memarkirkan mobilnya, lalu mengemudikannya pergi dari depan rumah Vanya. Vanya kini bergegas kembali memasuki rumahnya.
...*********...
Dia tidak lupa menutup gerbang rumahnya terlebih dahulu agar tidak ada orang yang melihat pembicaraannya dengan James. Ia kemudian menghampiri James yang tengah duduk di kursi teras rumahnya. Vanya kemudian duduk di kursi yang ada di sebelah James dengan batas sebuah meja kecil ditengahnya.
"Rumah ini terasa tenang tanpa suara sahabatmu yang berisik itu." ucap James secara tiba-tiba.
"Sebenarnya apa maksud dan tujuan anda mendatangi rumah Vanya?! tanya Vanya tanpa basa-basi.
"Aku hanya ingin menawarkan sebuah pekerjaan padamu." jawab James singkat sambil tersenyum manis.
"Lagi-lagi dia selalu tersenyum padaku. Aku kan jadi tidak bisa marah-marah padanya karena tak kuat melihat senyumannya itu." batin Vanya kesal.
"Apa kamu ingin mengajakku berbicara di luar seperti ini?! Seperti inikah caramu memperlakukan seorang tamu?!" tanya James mengalihkan topik pembicaraan.
"Anda itu tamu tidak diundang yang datang secara tiba-tiba ke rumah saya. Lalu, darimana anda bisa mendapatkan alamat rumah saya?!" Vanya malah bertanya balik pada James.
"Bukankah sangat wajar bagiku yang telah melihat surat lamaran kerjamu mengetahui alamat lengkap rumahmu?!" James pun bertanya balik pada Vanya.
Vanya hanya bisa terdiam menjawab pertanyaan dari James. Ia bingung mau menjawab apa karena memang itu hal yang wajar bagi James bisa mengetahui alamat rumahnya. Kemudian, ia berbicara kembali sambil marah-marah.
"Walaupun anda mengetahuinya, tidak seharusnya anda datang kesini secara langsung! Anda bisa menyuruh karyawan anda untuk menelepon saya dan menyuruh saya datang kembali ke perusahaan anda." ucap Vanya.
"Jika cara tersebut aku lakukan kamu pasti tidak akan mau datang ke perusahaan. Lebih baik aku datang sendiri saja ke rumahmu." sahut James sambil tersenyum.
"Tidak seharusnya anda mendatangi rumah saya! Bagaimana jika..." teriak Vanya dengan penuh amarah. Tapi, tiba-tiba mulutnya yang tengah marah itu dihentikan oleh jari telunjuk tangan kanannya James. Vanya pun langsung diam dan pipinya lalu memerah.
"Nah, kalau seperti ini kan bagus. Coba kamu bicara baik-baik tanpa marah-marah seperti itu!" pinta James pada Vanya sambil menutup mulut Vanya menggunakan jari telunjuknya.
"Ba... bagaimana bisa saya tidak marah melihat anda yang tiba-tiba datang ke rumah saya dan memaksa saya untuk bekerja di perusahaan anda padahal saya sudah menolaknya." ucap Vanya sambil menurunkan tangan James yang menghalangi mulutnya untuk berbicara.
"Itu karena aku ingin mengenalmu lebih jauh lagi. Apakah itu tidak cukup menjadi alasan untuk membuatmu tetap berada disisiku sambil bekerja diperusahaanku?!" James tersenyum manis lagi pada Vanya.
__ADS_1
"Sa... saya sudah bilang tidak mau mempunyai hubungan seperti itu dengan anda! Saya tidak mau sengsara karena diteror oleh penggemar anda karena mendekati idolanya." bantah Vanya dengan sangat keras.
"Haaa! Apakah aku yang merupakan seorang penyanyi ini hanya berhak mendapatkan cinta dari penggemar saja?! Sedangkan diriku sendiri tidak berhak mendapatkan cinta dari orang yang menurutku spesial di hidupku?!" tanya James pada Vanya sambil menghela napas.
"A... anda bisa mendapatkannya dari orang lain, Tuan James. Tapi... jangan mengharapkan hal tersebut dari saya." jawab Vanya dengan gugup karena merasa kasihan pada James. Ia yang merupakan penggemar James tahu betul bagaimana penggemarnya bersikap ketika idolanya tersebut dirumorkan dekat dengan seorang wanita.
"Haaaa! Kurang apa aku sampai kamu terus-terusan menolakku?!" tanya James secara tiba-tiba.
"Itu... saya hanya merasa tidak akan mencintai orang yang baru saja saya kenali." jawab Vanya dengan gugup.
"Baiklah! Kalau begitu... kita mulai saja dari masa pendekatan selama tiga bulan agar saling mengenal satu sama lain terlebih dahulu. Setelah tiga bulan itu, kita akan tentukan apakah hubungan ini akan berlanjut atau tidak." ucap James sambil tersenyum bahagia karena mendengar ucapan dari Vanya.
"Eh?! Kenapa aku berbicara seperti itu?! Itu sangat jelas bahwa aku memberikan harapan padanya. Tapi... dengan waktu tiga bulan dan James yang super sibuk, kita tidak mungkin sering bertemu. Aku hanya perlu tidak jatuh cinta padanya selama waktu tiga bulan itu." ucap Vanya dalam hatinya.
"Baiklah saya setuju. Saya akan berusaha untuk tidak mencintai anda sehingga kita akan berpisah setelah tiga bulan nantinya." jawab Vanya dengan penuh semangat.
"Hmmm... aku nantikan itu.Tapi... aku akan membuatmu menyukaiku hanya dalam waktu satu bulan saja." ucap James sambil tersenyum manis pada Vanya.
Vanya hanya terdiam dan tidak menjawab ucapan James lagi. Ia kesal karena selalu saja kalah dalam perdebatannya dengan James. James hanya tersenyum manis memandang Vanya yang kini diam saja, padahal daritadi dia sangat banyak bicara.
...************...
BERSAMBUNG.....
โ LIKE๐ dan tambahkan KOMENTAR๐ฉ agar author rajin update setiap harinya๐
โ Mohon kritik dan sarannya semua reader๐
โ Klik FAVORIT โค
โ VOTE novel ini โโโโโ
TERIMA KASIH.....๐๐๐
SAMBIL MENUNGGU KELANJUTAN DARI NOVEL INI, SILAKAN BACA KARYA REKOMENDASI DI BAWAH INI !!! JANGAN SAMPAI TERLEWATKAN SETIAP EPISODENYA KARENA ALURNYA SANGAT MENARIK UNTUK DIBACA !!!
Author : SkySal
Judul Karya : AFTER DARKNESS
__ADS_1