Pacarku Seorang Merman Tampan

Pacarku Seorang Merman Tampan
BAB 14 - Ci*man Pertama


__ADS_3

PERHATIAN TERDAPAT ADEGAN 18+ !!!


DI MOHON PEMBACA TETAP BIJAK KETIKA MEMBACANYA !!!


***


James tiba-tiba tersenyum setelah melihat isi pesan dari ponselnya. Isi pesan tersebut yaitu, "Aku tunggu kamu malam ini di depan rumahku untuk makan malam bersama pada pukul tujuh malam." Pesan tersebut adalah kiriman dari Vanya. Dia pun tersenyum puas karena orang yang disukainya berinisiatip menjadikan hubungan mereka semakin dekat.


Semua karyawan dalam ruangan rapat pun syok melihat atasannya yang selalu bersikap dingin dan cuek tiba-tiba tersenyum manis sambil menatap ponselnya. James terlihat seperti seorang anak muda yang tengah di mabuk asmara. Hal tersebut sangatlah jauh berbeda dengan dirinya yang biasanya. Ia biasanya terlihat seperti seorang pemimpin yang tak kenal kompromi jika karyawannya melakukan kesalahan walau hanya sedikit saja.


"Apakah ini Pak CEO yang kita kenal?" bisik seorang karyawan pada karyawan lain yang berada disampingnya.


"Hush! Diam kamu jika tak ingin dipecat!" jawab karyawan disampingnya sambil berbisik.


Rapat pun kembali dilanjutkan setelah James menyimpan ponselnya kembali. Rapat tersebut selesai setengah jam sebelum waktu janjian makan malam bersama dengan Vanya. Lalu, James bergegas ke ruangan kantor CEO untuk mengambil barang dan kunci mobilnya. Kemudian, ia segera menuju ke tempat parkir perusahaan dan mengemudikan mobilnya keluar dari gerbang perusahaan.


***


Hanya butuh waktu sekitar dua puluh menit untuk sampai ke rumah Vanya. Di depan pintu gerbang, terlihat Vanya tengah menunggu James dengan pakaian yang sudah rapi tanpa menggunakan tongkatnya. "Kelihatannya luka dikakinya sudah sembuh. Syukurlah kalau begitu." James menatap Vanya dari dalam mobilnya.


James lalu turun dari mobilnya tanpa menggunakan kacamata dan masker. "Eh? Kenapa Kak James tidak menggunakan masker?" tanya Vanya sambil menatap wajah James.


"Hah . . . apakah aku harus selalu menggunakannya jika ingin bertemu denganmu?" James malah bertanya balik pada Vanya.


"Itu ... tentu saja haruslah! Bagaimana jika ada reporter yang memotret Kak James sedang menemuiku. Lalu, keesokan harinya ada berita yang keluar bahwa Kak James terlibat skandal dengan seorang gadis kampung dan Kak James akan mendapatkan hinaan dari para penggemar. Terus, aku pun tidak mau diserang oleh para peng ...." ucap Vanya secara panjang lebar, tapi ucapannya terhenti karena James tiba-tiba mencium bibirnya sambil memeluknya.


Vanya berusaha mendorong James yang menciumnya secara tiba-tiba. Namun, James malah terus menciumi bibir mungil gadis kurus itu tanpa berniat untuk menghentikannya. Akhirnya, Vanya pun malah terbawa suasana dan mencium balik pria tampan dihadapannya itu. Kedua lengannya lalu memeluk leher James dengan erat. Mereka pun melakukan ciuman yang memanaskan suasana tanpa henti selama beberapa menit.


James menatap Vanya dengan puas karena Vanya kembali menciumnya. Vanya pun tersadar dari nafsunya yang hanya sesaat itu. Kemudian, ia mendorong James dengan sekuat tenaga. James pun lalu melepaskan pelukannya.


"Kakak jangan bertindak sembarangan! Bagaimana jika ...." gerutu Vanya sambil menatap James, tapi ucapanya terhenti karena ia kembali mengingat kejadian barusan.


" 'Bagaimana jika' . . . apa, ya? Apa yang ingin kamu ucapkan?" tanya James sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Vanya.

__ADS_1


Vanya secara spontan menutup mulutnya menggunakan tangannya, "Tidak apa-apa! Sebaiknya kita segera menuju tempat makan malam sebelum waktu semakin larut," tegas Vanya sambil mendahului James dengan wajahnya yang semakin memerah seperti buah tomat yang matang.


James lalu membukakan pintu kursi penumpang bagian depan untuk Vanya. Namun, Vanya malah membuka pintu kursi penumpang bagian belakang. "Apakah kamu berniat menjadikanku sopir pribadimu?" tanya James pada Vanya sambil berbisik ditelinganya.


Telinga Vanya yang sensitif itu pun spontan memerah, "Aku mau duduk di belakang saja!" tegas Vanya singkat tanpa berbalik melirik wajah James.


"Hmm . . . tapi aku tidak akan mengizinkan kamu duduk disitu." James lalu manarik lengan Vanya untuk membuatnya duduk di kursi depan. Ia pun segera menutup pintu kursi mobilnya lalu mengemudikannya.


***


"Kamu ingin makan di restoran mana malam ini?" tanya James pada Vanya.


Namun, Vanya hanya diam saja tak menjawab apa pun. Ia masih merasa syok atas kejadian mendebarkan yang terjadi di depan rumahnya. James menghela napas sambil memerhatikan Vanya yang hanya diam saja tak berbicara sepatah kata pun padanya.


"Aku minta maaf soal kejadian tadi. Aku mengakui kalau aku sengaja melakukannya karena tidak tahan melihatmu yang terus berbicara tanpa henti. Namun, jika kamu tidak menyukainya, aku tidak akan berani melakukannya lagi tanpa persetujuan darimu. Tolong jangan diam saja seperti ini," ucap James dengan lirih.


"Eh? Apa yang Kak James katakan barusan?" ternyata Vanya sama sekali tidak mendengarkan ucapan James. Ia hanya fokus pada pikirannya sendiri karena menyesal sudah tergoda oleh nafsu yang tidak dapat dia tahan.


"Aku minta maaf karena telah menciummu secara tiba-tiba. Jika kamu tidak menyukainya, aku tidak akan berani melakukannya lagi tanpa persetujuan darimu. Tolong jangan diam saja seperti itu tanpa mengatakan sepatah kata pun padaku," ucap James lagi mengulangi permintaan maafnya.


"Tolong jangan mengalihkan pembicaraan seperti itu!" ucap James sambil mengerem mobilnya secara tiba-tiba di pinggir jalan.


"Eh? Kenapa tiba-tiba berhenti? Hah . . . aku memang sangat kesal karena perbuatan Kakak tadi. Namun, ya, sudahlah jangan terlalu dipikirkan kejadian yang terjadi tadi," ujar Vanya seolah-olah tidak peduli dengan kejadian yang telah terjadi.


James hanya terdiam mendengar jawaban yang keluar dari mulut Vanya. Raut wajahnya tiba-tiba muram. Kemudian, ia memacu mobilnya menuju tempat yang biasa ia datangi seorang diri.


***


Kini, mobil James sudah terparkir di sebuah restoran bintang lima langganannya. Ia lalu mengajak Vanya masuk. "Eh? Tunggu dulu Kak! Mengapa kita jadi ke tempat ini? Bukannya tadi Kakak bertanya tempat makan mana yang ingin aku kunjungi, kok malah jadi tempat makan yang ingin dikunjungi Kakak sih," gerutu Vanya pada James.


James hanya diam saja tidak membalas ucapan dari Vanya. "Ayo kita segera masuk ke dalam," ajak James sambil menatap Vanya dengan tatapan dingin tanpa eksperesi. Vanya setuju dengan permintaan James tanpa mengeluh sedikit pun. Ia merasa ada yang aneh dengan sifat James yang tiba-tiba berubah. Jadi, Vanya pun berusaha untuk tetap diam agar tidak memicu perdebatan antara mereka berdua.


Mereka berdua lalu memasuki restoran. Mereka pun duduk di sebuah ruangan khusus pelanggan VIP. Seorang pelayan wanita dari restoran tersebut datang membawakan daftar menu kepada Vanya dan James. Vanya dan James lalu melihat-lihat daftar menu tersebut.

__ADS_1


Vanya sangat terkejut melihat daftar harga yang terdapat pada daftar menu tersebut. Semua menu-menu yang terpajang bukanlah makanan berharga murah yang biasanya ia beli. Vanya mulai berpikir kebingungan. Ia memutar otak karena merasa tak mampu jika harus membayar makanan yang serba mahal tersebut.


"Semua makanan yang ada di daftar menu ini tidak ada yang harganya murah. Apa semua orang kaya sangat suka menghambur-hamburkan uangnya seperti ini?" batin Vanya yang terkejut melihat daftar harga pada daftar menu.


James yang sedari tadi memerhatikan setiap ekspresi Vanya secara diam-diam mengetahui bahwa ia terkejut dengan harga yang terpajang dalam daftar menu. "Kamu jangan khawatir! Aku yang akan membayar semuanya. Pesanlah apa pun yang kamu mau," tegas James pada Vanya.


"Beruntung sekali perempuan ini! Ia diperlakun dengan lembut oleh James Haolin. Aku pun ingin berada diposisinya," batin Pelayan Wanita menatap Vanya dengan tatapan iri.


"Saya pesan ini dan ini saja," ucap Vanya kepada Pelayan Wanita sambil menunjukkan sebuah makanan dan minuman yang menurutnya paling murah dalam daftar menu tersebut.


"Kamu tidak perlu sungkan saat makan bersamaku," ucap James sambil menatap Vanya.


"Saya pesan ini, ini, dan ini," lanjut James pada Pelayan Wanita itu hingga menyebutkan sekitar sepuluh jenis makanan dalam menu.


Kemudian, Pelayan Wanita itu segera pergi. Setelah menunggu beberapa saat, beberapa pelayan membawa makanan yang telah James dan Vanya pesan. Vanya memulai mencoba makanan yang ia pesan. Ia merasa ketagihan memakan makanan yang belum pernah disantapnya itu.


Lalu, ia memerhatikan James yang terlihat tidak nafsu makan. Ia merasa ada yang aneh dengan James sejak mereka berada di depan restoran tadi. Vanya pun tiba-tiba mengajak James berbicara.


"Sebenarnya kamu kenapa? Kenapa sikapmu tiba-tiba berubah sejak kita berada di depan restoran tadi?" tanya Vanya secara tiba-tiba. James pun terkejut dengan pertanyaan yang Vanya ucapkan. Ia tak menyangka Vanya bisa menyadari perubahan sikapnya.


***


BERSAMBUNG.....



โ— LIKE๐Ÿ–’ dan tambahkan KOMENTAR๐Ÿ“ฉ agar author rajin update setiap harinya๐Ÿ™


โ— Mohon kritik dan sarannya semua reader๐Ÿ™


โ— Klik FAVORIT โค


โ— VOTE novel ini โ˜†โ˜†โ˜†โ˜†โ˜†

__ADS_1


TERIMA KASIH.....๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


__ADS_2