
“Lariiiii” teriak seorang laki-laki paruh baya kepada seorang anak berumur
12 tahun.
Sebuah panah meluncur dari busurnya dengan kecepatan tinggi menuju anak yang sedang berlari tertatih-tatih.
“aaaggghhh” teriak anak itu ketika panah menghunjam dipaha sebelah kanannya
Anak itu terjatuh ketanah dan terguling,
“hahahaha” Para prajurit tertawa menyaksikan pemandangan yang tidak manusiawi itu, bahkan ada yang berkata “jangan biarkan seorang pun didesa gunung angin ini hidup”.
Desa gunung angin disebut sebagai desa pemberontak oleh dinasti Qin, karena tidak mau mengikuti perintah kaisar Qin yuang untuk menyerah dan bergabung dengan para pendekar pendukung Kerajaan berperang menundukkan kerajaan Shang.
Desa gunung angin adalah desa yang menjadi tempat tinggal pendekar aliran putih, walaupun desa gunung angin adalah desa kecil tapi pendekar yang ada didalamnya ada sekitar 60 orang.
Kaisar Qin mengutus 10000 prajurit disertai 100 pendekar yang dipimpin oleh jendral Ching Yung untuk membasmi seluruh penduduk desa gunung angin.
Mayat bergelimpangan dijalan –jalan dan ada jasad yang terbakar didalam rumahnya yang sudah menjadi abu, ada yang masih bergerak dalam kondisi mengenaskan, ada yang terpotong anggota tubuhnya dan menjadi tontonan para prajurit sembari mereka menertawakannya.
Bocah 12 tahun yang terkena panah dibawa oleh seorang pendekar dengan paksa sambil menjambak rambutnya. Anak itu meringis kesakitan karena ditarik dan diseret menuju kearah pria paruh baya yang meneriakinya.
__ADS_1
“tuan lepaskan putraku” pria itu memelas sambil menyatukan kedua tangannya memohon kepada jendral ching
yung
“baiklah kalau itu yang kau mau” jendral ching yung berkata sembari tersenyum
Dia kemudian menendang anak tersebut,
“aaaaaaaarrggghhh” teriak anak itu kesakitan, tubuhnya terguling kearah lereng gunung angin.
Para prajurit kembali tertawa melihat situasi yang terjadi,
Dia menangis mellihat anaknya terguling kelembah desa gunung angin.
Ayah chiao feng menjadi emosi dan gelap mata , dia berdiri dan bergerak menuju jendral Chin yung dan ingn menusukkan pisau yang dia dapatkan di tanah, tapi ketika dia bangkit sebuah tombak menancap cepat didadanya sehingga membuat dia tersungkur menggelepar menghabiskan nyawanya.
Disisi lain penduduk yang masih hidup juga mengalami nasib yang sama, pembantaian terhadap penduduk desa gunung angin terjadi begitu mengerikan, mayat-mayat berserakan kemudian dikumpulkan dan dibakar, tak tersisa satu bangunan pun yang berdiri, se,ua luluh lantak dibumi hanguskan.
Seusai penyerangan, para prajurit kerajaan Qin kembali ke ibukota, jendral Chin yung merasa sangat senang dan ingin segera sampai untuk meloporkan berita gembira kemenangan ini kepada Kaisar Qin dan berharap mendapatkan hadiah yang besar dari kaisar.
Sementara didesa gunung angin seorang pria sedang berlari-lari dari satu tempat ketempat lain mencari apakah masih ada orang yang hidup diantara puing-puing desa yang hancur.
__ADS_1
“kakak Yin” panggil laki-laki itu
Dia terus berlari mencari seseorang
Lama dia mencari tapi tiba-tiba dirinya sangat terkejut ketika matanya memandang jasad seorang pria yang berada ditepi tumpukan mayat yang terbakar, dia menangis melihat jasad tersebut dan berlari kearahnya sambil menariknya dari tumpukan mayat
‘kakak Yin” ratap laki-laki itu
Dia melihat sebuah cincin pusaka yang dia kenal sebagai tanda pemimpin desa gunung angin di tangan kakaknya.
Dia terus menangis sejadi-jadinya, menyaksikan pemandangan yang mengerikan, ia tak melihat satupun orang yang selamat dari pembantaian ini.
Satu hari berlalu, dia menguburkan jasad kakaknya secara layak di tepi desa gunung angin. Ketika hendak pergi meninggalkan makam , matanya tertuju pada sosok anak kecil di lereng gunung angin.
“chiao Feng” panggilnya,
Dia turun kelereng gunung dengan tergopoh-gopoh
Sampai ditempat chiao feng dia memeriksa Nadinya
“ah, dia masih hidup, aku harus membawanya” ucapnya dalam hati
__ADS_1