PAHLAWAN GUNUNG ANGIN

PAHLAWAN GUNUNG ANGIN
Ch 38. Restoran Violet


__ADS_3

Ch 38. Restoran Violet


Perjalanan menuju kota Hebra memakan waktu sepuluh jam karena rombongan terkadang harus istirahat melepas lelah. Chiao feng menunggangi seekor kuda berwarna hitam dengan santai, sesekali dia menatap ke samping kiri dan kanan memperhatikan keadaan disekitarnya, dirinya menjadi lebih waspada karena penyerangan yang terjadi semalam, khawatir ada jebakan yang dipasang.


Perjalanan berlalu dengan aman tanpa ada halangan yang datang.


Sesampainya dikota Hebra semua orang dalam rombongan  membubarkan diri menuju keluarga masing – masing. Chiao feng dan Brown berjalan menuju sebuah restoran yang cukup besar dikota Hebra. Restoran ini memiliki dua lantai, dipintu masuk terlihat sebuah papan nama besar bertuliskan Restoran Violet. Didinding – dinding restoran terhias dengan bunga – bunga anggrek yang indah, dekorasi restoran mayoritas berwarna ungu sehingga memberikan kesan yang sangat tenang dalam hati.  Suasana restoran cukup ramai , ada beberapa orang yang terlihat sedang makan dan mengobrol.


Pelayan menyapa mereka dengan ramah dan senyum tersungging menawan. “selamat datang tuan, tuan – tuan mau pesan apa ? kami memiliki menu yang banyak dan tentunya dengan resep rahasia” ucapnya


“sediakan untuk kami tempat yang paling nyaman dan makanan terbaik yang ada disini” ucap Brown sambil tersenyum dan memberikan sebuah koin emas.


Chiao feng tidak begitu mengerti dengan makanan karena sejak berlatih bersama Yang Jian  dia hanya makan daging demonic sehingga pengetahuannya tentang makanan begitu minim.


Pelayan wanita yang telah menerima koin emas itupun memanggil seorang pelayan lain.


“bawa tuan – tuan ini ke lantai dua dan berikan mereka makanan terbaik kita” perintah pelayan tersebut.

__ADS_1


Pelayan itu pun membawa mereka kelantai dua dan mengajak mereka kesebuah meja besar dengan kursi – kursi kayu yang berukir indah. Dilantai dua hanya ada lima orang pengunjung yang sedang mengobrol, melihat dari penampilan mereka, mereka adalah pendekar atau orang kaya, karena diatas meja mereka tergeletak pedang – pedang panjang.


Chiao feng dan Brown tidak perduli dengan kehadiran mereka, mereka hanya mengobrol santai sambil sesekali tertawa kecil. Makanan yang dinanti – nantikan akhirnya datang satu persatu , dua porsi lobster panggang, kambing bakar, sup jamur dan roti gandum serta anggur.


Chiao feng yang tak ingin mabuk lagi memesan minuman susu biasa.


“tuan pendekar harus terbiasa minum anggur, didunia ini anggur adalah minuman terbaik” ucap brown sambil tersenyum


Chiao feng tidak menjawab tapi hanya mereson dengan senyuman pula.


Brown mengambi roti gandum dan lobster panggang, sementara Chiao feng mengambil roti gandum dan sup jamur. Mereka makan dengan lahapnya karena sejak menjadi budak mereka tidak pernah makan seenak sekarang.


‘paman, kita harus segera mencari walikota. Karena tidak mungkin kota ini akan bertahan tanpa pemimpin” ucap Chiao feng


“ya kita bisa fikirkan itu nanti yang penting nikmati saja anggur ini dulu” jawab Brown singkat


Lima orang yang ada diruangan itu juga mengobrol dan tertawa terbahak – bahak. Chiao feng memandang mereka satu persatu.

__ADS_1


‘paman Brown ayo kita cari penginapan, aku ingin istirahat” ajak Chiao feng


Melihat Chiao feng dan Brown beranjak dari tempat duduk mereka, seorang pria yang berumur sekitar tiga puluh lima tahun berdiri.


“hei orang asing, kau fikir kau bisa datang dan pergi seenak jidatmu disini” ujarnya sambil tertawa disusul pula oleh teman – temannya


Chiao feng tidak menanggapi ucapan orang itu.


Merasa tidak diacuhkan, pria itupun mengmbil sebuah piring dan melemparkannya kearah Chiao feng. Chiao feng menangkap piring itu sembari mengalirkan energi Qi dan melemparkannya kearah pria itu kembali. Pria itupun menangkap piring itu tapi tubuhnya terlempar kebelakang sehingga membuat seisi meja menjadi berserakan.


Teman – teman pria itu kaget melihat temannya terjatuh kelantai, mereka beranjak dari tempat duduknya sambil menarik pedang mereka yang ada dimeja . empat orang itu mendekat kearah Chiao feng. Mereka mengayunkan pedang secara bergantian kearah Chiao feng. Chiao feng tidak membalas tapi membiarkan pedang mereka menyentuh tubuhnya, tak satupun pedang mereka mampu menembus pakaian Chiao feng.


Melihat tak satupun pedang mereka memberi bekas ditubuh chiao feng, mereka menyerang dengan bertubi tubi. Tapi sebelum mereka bergerak lebih leluasa Chiao feng mendekat kepada salah satu diantara mereka dan langsung memukul tangannya. Chiao feng menarik pedangnya dan menebaskannya kearah tiga pria lainnya, tiga kali tebasan yang di lancarkan Chiao feng sudah mampu membuat ketiganya mendapatkan luka yang parah di ditubuh mereka.


Chiao feng melemparkan pedang itu kedinding sehingga pedang itu tertancap separuh. Pelayan yang menyaksikan menjadi terbelalak ketakutan.


“aku tidak mau melihat kalian lagi disini, pergi atau kuhabisi kalian semua” bentak Chiao feng

__ADS_1


Tanpa basa – basi mereka bergerak sambil memegang tubuh mereka yang terluka dan mengeluarkan darah.


Chiao feng membayar semua makanan dan barang – barang yang rusak serta pergi meninggalkan restoran disusul oleh Brown dibelakang.


__ADS_2