
"Alesha, kita beristirahat di bawah pohon ini benar-benar banyak nyamuk." ujar Asma.
"Sudahlah harus tahan, sekarang sedang perang. Tidak akan ada obat nyamuk." Qiyna menyahut, melihat temannya merengek kepada Alesha.
"Kita harus segera memecahkan teka-teki kemarin." Azizah mengusulkan idenya. "Sekarang lebih baik kita berpencar, dan bertemu lagi di sini."
"Iya benar, aku setuju." jawab Qiyna.
Mereka berpencar, Asma mencari-cari di balik semak dan memperlihatkan sekitarnya.
"Tidak ada apa-apa di sini." ujar Asma.
"Bagaimana, apa kamu menemukan kaca yang tidak bisa retak itu?" tanya Aqila.
Asma menggelengkan kepalanya.
"Bagaimana ini, apa ada petunjuk?" tanya Alesha.
"Tidak ada, benar-benar payah." jawab Azizah.
"Huh, lelah sekali mencari teka-teki itu."
"Aku mau pergi ke sungai itu dulu iya, aku sedang ingin berwudhu. Ini telah memasuki waktu Maghrib."
"Iya, kami juga." jawab Amina.
Mereka segera pergi ke sungai yang ada dihutan larangan itu. Selesai berwudhu, Alesha berdiri dipinggir sungai dan dia melihat bayangan dirinya ada disana.
__ADS_1
"Eh, coba kalian lihat. Air sungai ini, kenapa tadi aku tidak menyadari saat berwudhu waktu shalat Ashar."
"Memangnya kenapa Alesha?" tanya Azizah penasaran.
"Sekarang aku tahu, kaca yang tidak bisa retak adalah air. Kita dapat berkaca, tapi tidak bisa memecahkannya." jelas Alesha.
"Wah iya, kamu benar Alesha." ujar Amina.
"Ayo kita segera beritahu yang lain." Alesha segera berlari, dan diekori kedua temannya.
Qiyna dan Asma duduk di bawah pohon, meminum air putih yang masih tersisa di dalam tasnya.
"Qiyna, Asma, kami telah menemukan jawaban dari teka-teki itu. Ternyata jawabannya adalah air." ucap Alesha, dengan tersenyum.
"Wah iya, kenapa tidak terpikirkan olehku." ujar Qiyna.
"Iya aku yakin."
"Lalu, kita harus ngapain itu air?" tanya Azizah bingung.
"Aku tidak tahu juga, lebih baik sekarang kita salat dan berdoa agar diberi petunjuk. Aku tidak tahu juga, maksud dari semua ini." Alesha segera mengambil sajadahnya dan meletakkan diatas rerumputan kering. Aqila, Asma, Azizah dan Amina juga melaksanakan shalat Maghrib.
Sementara di sini lain.
"Lemparkan bom ke seluruh penjuru." titah raja Erland.
"Tapi itu bisa berbahaya untuk seluruh rakyat di negera A ini." ucap Chan.
__ADS_1
"Aku tidak suka, jika orang yang telah berani membantahku pergi begitu saja."
"Lalu, apa yang harus kami lakukan selain bom?" tanya Chin.
"Kalian pergi lah menggunakan helikopter bersama prajurit, cari lima gadis itu bahkan sampai pelosok terkecil sekali pun." titah raja Erland.
"Baik raja, nanti kami akan memperhatikan mereka dari atas. Itu akan semakin membuat mereka ketahuan di mana keberadaannya."
"Iya, cepat laksanakan." titahnya.
Matahari pagi hari yang baru muncul, sudah ada tugas terbaru untuk prajurit dan pengawal kerajaan negara A tersebut. Helikopter mulai terbang ke atas udara, Chan dan Chin memperhatikan dibawah menggunakan Microsoft kacamata pembesar.
"Ah tidak ada apa-apa." ujar Chan.
"Iya, aku juga tidak menemukan apapun." jawab Chin.
"Mereka kira-kira kemana iya, pasti tidak jauh dari tempat terakhir kita mengejar mereka." sahut Chun.
"Iya, lebih baik kita sedikit merendah mengendarai Helikopternya. Kita akan memeriksa hutan larangan itu dari atas." usul Chin.
"Teman-teman, lihatlah ada helikopter." ujar Alesha.
"Lalu kenapa Alesha?" tanya Asma bingung.
"Bisa saja itu helikopter raja Erland, ayo segera berlari menjauh." Ajak Alesha, kepada mereka.
Mereka semua berlarian mengikuti Alesha yang menuju sungai. "Cepatlah masuk, helikopter itu akan singgah."
__ADS_1