
Alesha segera berlari secepat mungkin untuk mencari keberadaan Asma dan Qiyna.
"Aduh kalian di mana sih, ini benar-benar gawat. Jika aku tidak segera menolong, aku akan menyaksikan kedua temanku celaka." monolog Alesha.
"Alesha!" Qiyna dan Asma memanggil dari belakang.
"Qiyna, Asma, ayo bersembunyi sebentar, nanti ada yang melihat. Aku mau berbicara penting." ujar Alesha.
"Berbicara apa?" tanya Qiyna penasaran.
Asma hanya membuntuti mereka yang sedang berbicara dari belakang.
"Apa kalian tahu, bahwa Azizah dan Amina diborgol dan diletakkan di rel kereta."
"Benarkah? Ayo segera kita tolong mereka." ujar Asma.
"Iya, segeralah tolong mereka. Aku sekarang sedang menyamar." Alesha menjelaskan.
Asma menarik tangan Qiyna dan berlari menuju rel kereta. Mereka menghampiri Azizah dan Asma.
"Hentikan!" teriak pengawal baru raja Erland.
"Hadapi kami jika ingin membebaskannya." Tertawa yang lainnya.
Asma dan Qiyna bertengkar, dengan para pengawal raja Erland. Pertengkaran sengit terjadi, hingga suara klakson kereta terdengar.
__ADS_1
"Ah tidak, kalian harus selamat." ujar Asma, yang terus memberikan tinjuan ke pengawal itu, dan masih dibalas perlawanan.
"Ahh...!" Banyak pengawal tergeletak, karena terkena tembakan jarak jauh.
"Cari tahu siapa yang menggunakan tank finger itu." Raja Erland berteriak, kepada pengawal bernama Chan.
Raja menyerang Asma dengan tendangannya. Dia sangat murka. Qiyna segera berlari ke rel kereta, dan kereta terlihat sangat dekat.
"Aduh, berat sekali!" Qiyna mencoba mengangkat tubuh Azizah.
"Qiyna tinggalkan kami, aku tahu kalian terkepung." ujar Azizah lemas.
"Tidak, kita akan berjuang bersama-sama." jawab Qiyna, seraya mencari alat apa untuk membuka borgol.
Qiyna mengambil batu besar dan memukulkannya ke borgol tersebut. Azizah berhasil lepas.
"Tet! Tet!" Bunyi kereta yang hampir mendekat.
"Ayo cepat melompat." teriak Qiyna, yang langsung menepi.
Amina segera melompat dan Azizah juga. Mereka akhirnya selamat meski dipenuhi rasa kekhawatiran.
"Terimakasih, kalian telah menyelamatkan kami berdua." ujar Azizah.
"Lebih baik sekarang kalian kembali ke terowongan, aku mau menolong Asma dulu menghadapi raja Erland."
__ADS_1
Tangan raja Erland tersayat pedang yang dibawa oleh Asma. Pengawal segera datang, berlarian dari kejauhan.
"Ayo kita pergi, jumlah mereka terlalu banyak." Qiyna menarik tangan Asma.
Asma dan Qiyna melompat setinggi-tingginya, lalu kabur dari sana.
Keesokan harinya, raja menemui Alesha di kamarnya. "Alesha, apa sudah ada jawaban tentang lamaran ku? Aku ingin cepat-cepat menikah denganmu."
"Hmmm aku sudah menemukan jawabannya, sekarang pejamkan lah mata raja dulu." ujar Alesha.
"Baiklah, awas kalau kau berani mempermainkan ku?"
"Tidak raja, mana mungkin." Alesha tersenyum dengan tenang.
Raja Erland menuruti ucapan Alesha, dia memejamkan matanya.
"Aku bisa saja membunuhnya, tapi ini belum waktunya. Aku lebih baik kabur sekarang karena rencana ku sudah selesai. Semoga ada perubahan." Batin Alesha.
Alesha meletakkan kertas, yang sudah terlipat rapi di atas ranjang tidur. Dia kemudian kabur dengan ranselnya, keluar kamar mengendap-endap.
"Alesha mau kemana kamu?" tanya prajurit istana kerajaan.
"Hmmm, aku sedang ingin keluar sebentar." alibinya.
"Kenapa membawa ransel?" Prajurit bertanya, dengan tatapan curiga.
__ADS_1
"Hmmm, ini sangat diperlukan untukku di perjalanan. Raja sudah mengizinkan ku jika kamu tidak percaya, silakan pergi ke kamarku." jawab Alesha.
"Baiklah, silahkan kamu pergi." raja Erland membiarkannya dengan santai.