Panah Cinta Muslimah

Panah Cinta Muslimah
Gubuk Tua


__ADS_3

Mereka terpaksa melepas tas mereka dan melompat ke sungai. Tidak lama kemudian, helikopter itu dikemudikan dengan rendah di udara.


"Lihatlah, tidak ada apa-apa di hutan ini!" ujar Chan.


"Benarkah aku tidak percaya, kenapa susah sekali mencari mereka."


"Iya, padahal semua tempat sudah kita periksa."


"Pak pilot, ayo melaju lagi ke atas." Chan sibuk mengajaknya.


Helikopter itu melaju kembali ke atas. Mereka keluar dari sungai, ketika keadaan dirasa cukup aman.


"Uhuk...! Uhuk...!" Mereka semua terbatuk-batuk, karena menahan diri selama beberapa menit di dalam air. Karena kemasukan air terlalu banyak, mereka akhirnya pingsan mendadak.


Sementara di sisi lain.


"Raja, kami sudah mencari kelima gadis itu. Tapi benar-benar tidak diketemukan." Chan melaporkan.


"Bodoh, kalian kenapa susah sekali mencari mereka. Aku tidak mau tahu, bom semua tempat yang tidak berpenghuni dikota ini."


"Baiklah raja." jawab Chan lantang.


"Laksanakan sekarang juga."


Chan menunduk memberi hormat, lalu berlari keluar dari istana kerajaan tersebut. Dia pergi bersama Chin, Chun, Chen mengendarai Helikopter tadi.

__ADS_1


"Satu, dua, tiga." Bom terlempar dari udara ke bawah, menyebabkan yang terkena imbas rusak.


Helikopter terus melanjutkan perjalanannya. "Bom bukit itu!" titah Chan.


Chin melemparkan bom ke bawah dan menyebabkan bukit yang ditumbuhi tumbuhan nan subur menjadi berlubang dan meninggalkan bekas gosong. Helikopter masih terus berjalan, penumpang yang ada didalamnya sangat fokus memperhatikan sekitar.


"Teman-teman bangun." Alesha berujar dengan mengerjap-ngerjapkan matanya, kepala juga terasa pusing.


Mereka berempat tersadar. "Kita pingsan" ucap Azizah.


"Hei, segera sembunyi. Helikopter itu datang lagi." Amina melihat ke atas udara.


Mereka serentak bersembunyi di balik rerumputan, merebahkan tubuhnya supaya tertutupi semak. Bom dijatuhkan dari atas, namun lumayan jauh dari tempat mereka berada.


"Uhuk...! uhuk...!" Mereka terbatuk-batuk karena asap yang ditimbulkan dari bom itu sungguh tidak enak baunya.


"Sampai kapan Alesha kita terus bersembunyi, sekarang mereka benar-benar akan menghabisi kita dari atas." ujar Asma.


"Sabar dan tenanglah dulu, kita tidak mungkin lari dari peperangan. Tapi kita tidak mungkin juga menghadapi mereka dengan kekalahan, dan semua sia-sia. Kita harus menyusun siasat, dan lebih baik kita pergi dari kota Shanan ini. Kita akan mengungsi ke kota Alberd sementara waktu." jawab Alesha yang masih memperhatikan helikopter terbang di udara, dari balik celah daun yang sangat kecil.


"Alhamdulillah bom tadi tidak tepat sasaran dan mengenai kita, meski pun hampir saja."


"Iya, helikopter telah pergi. Ayo kita segera melanjutkan perjalanan." Alesha mengajak, seraya mulai bangun dari rebahan.


"Ayo!" Mereka menjawab serentak, kemudian berdiri.

__ADS_1


Mereka berjalan mengelilingi hutan larangan itu, dan tiba-tiba mereka melihat jembatan tua disana.


"Ke sana saja ayo." Ajak Asma.


"Iya, hati-hati" Sahut Azizah.


"Jembatan ini terlihat sudah tua" Ujar Alesha.


"Iya, pasti usianya sudah puluhan tahun" Jawab Aqila.


"Kita harus segera keluar dari hutan ini, mereka sekarang sudah bertindak semakin nekat. Lihatlah bom kemarin, apa yang terjadi jika mengenai kita semua" Ujar Azizah.


"Iya ayo kita lanjutkan rencana kita untuk mengungsi ke kota Alberd."


Tiba-tiba mereka melihat gubuk tua, ada seorang wanita tua renta dan pria lanjut usia tengah duduk bersama.


"Mereka siapa Alesha?" Tanya Azizah.


"Aku tidak tahu, ayo kita ke sana saja." Jawab Alesha.


"Apakah dia orang yang jahat?" Tanya Asma.


"Sepertinya tidak." Jawab Aqila.


"Untuk memastikannya, ayo cepat kita ke sana." Ucap Amina yang sudah melangkahkan kakinya duluan.

__ADS_1


__ADS_2