
Kapal melaju dengan kencang meninggalkan kota Shanan.
"Kemana iya mereka, kok tidak ketemu juga monolog Asma.
"Alesha aku lelah sekali, aku ingin istirahat."
"Ayo Qiyna, kita menepi terlebih dahulu."
Mereka menyalakan api unggun dengan kayu pinus, yang digosokkan satu sama lain. Sekarang mereka bisa beristirahat sejenak di daratan yang ada di tepi laut.
"Siapa iya yang menyalakan api unggun di seberang sana?" Asma melihat dari kejauhan.
Dia segera menghampiri orang yang ada di seberang. "Asma!"
Asma mengenali wanita yang hendak menghampirinya.
"Qiyna, Alesha, syukurlah aku bisa bertemu dengan kalian."
"Iya, kami juga merasa senang. Mari kita lanjutkan perjalanan besok pagi saja." ujar Alesha.
"Tapi, kalian terlihat kedinginan. Apa tidak sebaiknya sekarang saja kita pergi."
"Tidak, kami tidak apa-apa. Sudah ada api unggun." sahut Qiyna.
"Baju kami basah, karena berenang di dalam laut." Alesha menggosok-gosokan kedua telapak tangannya.
Asma ikut duduk bersama mereka. "Aku membawa kapal seorang pelayan, dia hendak mencuri hartaku. Tapi aku berhasil memeranginya, dan membawa kapal ke sini."
"Oh, aku kira kapal milik siapa yang kamu bawa." ucap Qiyna.
"Tentu bukan milikku." Asma tergelak.
"Azizah dan Amina mana Asma? Bukankah kalian pergi bersama?"
__ADS_1
"Kami berpencar di tengah perjalanan, saat ada polisi merazia kendaraan. Azizah menyuruhku untuk tetap ikut angkutan umum tersebut." terang Asma.
"Lalu mereka bagaimana sekarang?" Alesha langsung menunjukkan raut wajah yang murung, mengingat kedua sahabatnya.
"Kamu jangan bersedih Alesha. Semoga mereka tidak kenapa-kenapa." Qiyna menepuk pundak Alesha.
"Tapi aku merasa bahwa dia kenapa-kenapa?"
"Tenanglah, semoga saja tidak." jawab Asma.
Pagi hari telah tiba.
"Ayo lanjutkan perjalanan, kita akan ke kota Alberd. Sepertinya kita akan menemui banyak kendala." terang Alesha.
"Iya, bersiap-siaplah." jawab Asma.
Mereka bertiga segera masuk ke dalam kapal. Asma menghidupkan mesinnya dan kapal melaju kencang.
"Iya, aku melihat di peta masih jauh." Alesha memandangi pohon-pohon yang berlarian karena kapal yang melewatinya. Setelah menempuh perjalanan cukup lama, akhirnya kapal yang dikendarai menepi.
"Alhamdulillah sampai juga." ucap mereka bersamaan.
"Hei penyusup!" teriak tentara di negara C.
"Aduh, apa yang harus kita lakukan?" tanya Qiyna.
"Satu-satunya cara kabur, kita tidak ada pasport." Alesha segera menarik tangan mereka.
Mereka bertiga kabur dari tempat tersebut, berhamburan berlari ke arah mana saja.
"Ayo kita pergi!" ajak Asma.
"Duarr!" Salah satu dari tembakan tentara itu mengenai kaki Alesha.
__ADS_1
"Alesha, bagaimana ini? Apa kita bisa secepatnya lari, dalam keadaan kamu yang masih terluka."
"Kalian cepatlah pergi dulu."
Asma dan Amina segera berlari.
"Hah, akhirnya aku tangkap kamu penyusup" Mengarahkan senjata tembak, ke arah kepala Alesha.
"Aku hanya berniat meminta bantuan kepada negara ini." jawab Alesha.
"Lihatlah, dia sudah tidak berdaya. Ayo kita bawa perempuan ini ke hadapan raja." Tentara tersebut memborgol tangan Alesha.
Mereka membawa Alesha ke istana negara C.
"Raja, kami menemukan penyusup di perbatasan. Dia hendak kabur saat kami meneriakinya penyusup."
"Ayahanda, biarkan aku yang mengurusnya." ujar anak sang raja.
"Bawalah, jangan biarkan dia lepas."
Alesha dibawa oleh anak raja tersebut ke kamar. Dia menyukai Alesha, pada pandangan pertama bertemu.
"Kamu cantik sekali iya!"
"Jangan mendekati aku."
"Kenapa? Aku ingin mengajakmu bermain terlebih dahulu."
Anak sang raja tersebut mendorong Alesha ke ranjang tidur. Dia menindih tubuh Alesha, dengan tatapan tidak biasa.
"Aku mau bermain-main denganmu, asalkan lepaskan borgol di tanganku terlebih dahulu. Aku ingin buang hajat ke kamar mandi." alibi Alesha.
"Baiklah," Tersenyum sembari melepaskan borgol, dengan kunci istana yang ada di tangannya.
__ADS_1