Panah Cinta Muslimah

Panah Cinta Muslimah
Terluka Demi Cinta


__ADS_3

Pengawal dipenuhi amarah karena melihat dua gadis berhijab itu berlari, mereka berlarian mengejar Amina dan Azizah dengan rahang mengeras menahan amarah.


"Azizah bagaimana ini, tidak ada jalan keluar. Ini bukit yang dimaksud raja. Kita akan mati jika melompat."


"Tenang, tunggu mereka datang. Aku punya ide." ujar Azizah.


Pengawal datang dan menyerang mereka, namun Azizah mengelak dan mendorong kedua pengawal jatuh ke jurang.


Keempat pengawal terus memberikan pukulan yang terus dihindari Azizah dan Amina. Tidak lupa pedang yang tajam itu ditahan oleh tangan Amina, untuk melindungi diri.


"Kalian sangat berani melawan raja Erland, kalian akan kami bunuh." teriak salah satu di antaranya.


"Aaa...!" Amina terpeleset, dan bergantung di rotan kuat yang menjulur ke bawah.


"Amina bertahanlah!" Azizah yang panik langsung menghajar kedua pengawal, dan mendorongnya hingga jatuh ke bawah jurang.


Pengawal yang tadi berkelahi dengan Amina langsung menginjak kaki Amina.


"Aaaa...!" Amina berteriak ketika melihat ke bawah bukit, yang begitu curam itu.

__ADS_1


"Doorr...!" Azizah menembak pengawal itu dan tersisa satu orang lagi, lalu segera menebas rotan yang Amina pegang.


Azizah segera berlari menarik tangan Amina agar bertahan dan pengawal yang belum terluka itu hendak menebas Azizah, namun Azizah segera menembak pengawal itu dengan pistolnya. Dengan tenaga yang masih tersisa dia melukai bahu Azizah dengan pedangnya.


"Azizah, lepaskan saja aku. Kalau pun aku mati, aku ikhlas bisa pergi dengan tenang. Setidaknya, kita berhasil memberantas pengawal raja Erland." ucap Amina, yang sudah tidak tahan.


"Tidak, aku tidak akan melepaskan mu." ujar Azizah, yang menahan pedih di bahunya yang bercucuran darah.


Dengan sekuat tenaga akhirnya Amina berhasil sampai ke atas permukaan.


"Alhamdulillah, kamu selamat." ujar Azizah berbinar-binar.


"Iya Azizah, ini semua karena Allah dan karena pertolonganmu. Ayo kita pergi kembali ke terowongan bawah tanah, untuk mengobati lukamu."


Asma memanah orang yang mengendarai mobil tank finger bersenjata api. Qiyna memanah bertubi-tubi ke para pengawal yang melempar kaca masjid, panah juga mengenai orang yang mengendarai mobil ekskavator hingga tergeletak.


"Hentikan!" teriak pekerja-pekerja tersebut.


Pekerja yang lainnya terus berusaha merusak masjid dengan alat kerja yang dibawanya. Qiyna segera berlari masuk ke dalam mobil ekskavator, dan mengangkat pengeruk membasmi pekerja.

__ADS_1


Pekerja yang tersisa tidak menyerah, ada yang memanjat mobil ekskavator hingga berhasil naik ke atas. Qiyna berkelahi dengan pekerja tersebut di dalam mobil, hingga Qiyna hampir terjatuh. Asma yang sedang mengendarai mobil tank finger, melihat dari kejauhan. Asma menembakkan senjata api ke arah orang yang ada di dalam mobil ekskavator, hingga dia tewas dan terjatuh.


"Qiyna, mereka berhasil kita musnahkan. Masjid Tursia aman untuk sementara ini." Amina menghampiri Qiyna, sambil mengendarai tank finger.


"Iya Amina, mari kita serbu lagi orang-orang yang ingin menghancurkan agama kita."


"Iya Aqila. Semangat semangat!" ujar Amina.


Saat tengah malam tiba, Alesha mengendap-endap memperhatikan sekelilingnya. Alesha memasang kamera tersembunyi, di istana megah dan sangat luas tersebut.


"Beres, aku sudah memasangnya di sini."


"Hei, apa yang kamu lakukan?" tanya prajurit, yang melihat Alesha berjongkok.


"Hmmm... aku tadi melihat kecoak."


"Di mana?"


"Di situ, tapi kelihatannya dia sudah kabur." Alesha menjawab dengan santai.

__ADS_1


"Raja ingin kamu menemuinya besok pagi."


"Iya, aku akan menemuinya. Tapi, kelihatannya besok aku belum bisa memberi jawaban dari lamarannya." jawab Alesha.


__ADS_2