Panah Cinta Muslimah

Panah Cinta Muslimah
Buku Islam


__ADS_3

Mereka berjalan menuju ke dalam sana, pikiran mereka masih memikirkan tentang tulisan di kayu petunjuk arah tadi.


"Apa iya kaca yang tidak bisa retak? Dan siapa yang menulis petunjuk arah itu?" ucap Amina, bingung memikirkannya.


"Entahlah, aku tidak tahu siapa yang menulisnya. Tapi kita harus menemukan teka-teki itu. Mungkin saja ada petunjuk." jawab Alesha.


"Iya, bisa jadi ada petunjuk." timpal Qiyna.


"Bagaimana jika itu jebakan, dari raja Erland?" tanya Asma bergidik ngeri.


"Sudahlah, yakin saja tidak akan terjadi apa-apa. Ini hutan larangan dan mereka tidak masuk ke sini." sahut Azizah.


Sementara di sisi lain.


"Lihatlah, mereka kabur lagi. Kenapa kalian begitu bodoh." teriak raja Erland murka.


"Raja, meski mereka berhasil kabur namun tidak akan mungkin bertahan dalam kondisi lapar." jawab Chan.


"Kalian benar, tapi aku ingin kalian menemukan mereka dan membawanya ke hadapanku. Hidup atau pun mati, bawa mayat pengkhianat tersebut."


"Baik raja." jawab Chan.


Sementara itu, seorang pelayan yang tengah membersihkan perpustakaan menemukan buku kisah 25 nabi dan rasul.


"Aku tidak pernah membaca buku ini, aku penasaran. Lebih baik aku baca."

__ADS_1


Pelayan tersebut menghayati kisah demi kisah dan dia merasa kagum terhadap Islam.


"Aku ingin masuk agama ini, tapi kan raja Erland melarang rakyatnya untuk menjalankan keyakinan ini. Tapi tidak apa, aku bisa diam-diam. Aku benar-benar tertarik."


Dia meletakkan buku tersebut ke tempat semula. "Eh kamu ngapain kok lama sekali didalam perpustakaan." tanya teman pelayan tersebut, saat melihat pelayan yang membersihkan perpustakaan itu keluar.


"Aku tadi membaca buku di sana. Coba kamu ke sana ada yang menarik."


Teman pelayan tersebut masuk ke dalam perpustakaan, dia juga penasaran.


"Mana iya buku yang dimaksud oleh temanku tadi." Mengacak-acak buku satu persatu. "Tentang islam!" Pelayan itu membuka buku tersebut.


"Rukun islam mengucapkan dua kalimat syahadat. Kenapa buku agama itu ada di sini, bukankah raja Erland sudah tidak boleh lagi orang memegang keyakinan. Tapi bagus sekali, aku merasa penasaran untuk terus membacanya."


Tiba-tiba ada yang membuka pintu, pelayan tersebut dengan cepat melemparkan buku ke bawah meja.


"Aku hanya membersihkan perpustakaan" jawab pelayan tersebut berbohong.


"Segeralah keluar, raja mencarimu. Dia ingin kau memasak makanan enak untuknya, dan mengantar ke singgasana."


"Baiklah!" Pelayan tersebut melangkahkan kakinya keluar.


Dia segera memasak di dapur, hidangan dengan pengolahan yang rumit dibantu oleh pelayan lainnya.


"Terima kasih, telah membantuku meski kalian sedang sibuk juga."

__ADS_1


"Iya Sumi sama-sama." jawab pelayan lain serentak.


Sumi berjalan ke ruangan singasana raja Erland. Tampaklah dua pelayan sedang mengipasi sang raja, dan prajurit yang berjaga diruangan itu dalam jumlah yang banyak.


"Raja, ini saya hidangkan makanan ayam bakar berlumer mentega dan sayur-sayuran lezat sebagai pelengkapnya." ujar Sumi.


"Letakkan saja dimeja samping." titah raja tanpa menoleh.


"Baik raja." Sumi berjalan menuju meja, dan meletakkan piring di atas meja.


Dia segera meninggalkan ruangan, setelah selesai dengan tugasnya.


"Aku bisa kembali lagi ke perpustakaan" monolog Sumi.


Di perpustakaan dia melihat Paijah temannya ternyata ada di sana.


"Kamu mengejutkan aku saja Sumi." Paijah sedang membaca buku, yang tadi dilihatnya.


"Diam lah, aku kesini mau membaca buku yang kamu maksud." Sumi segera menunduk dan mengambil buku di bawah meja, dan memperlihatkan ke Paijah.


"Aku pikir buku tentang islam hanya aku yang pegang, apa raja tidak tahu tentang buku ini."


"Sepertinya tidak, dia jarang membaca buku." jawab Sumi.


"Daripada kita kehilangan buku ini, lebih baik kita perbanyak buku ini dengan memfotokopinya." Paijah mengusulkan idenya.

__ADS_1


"Iya benar, kita harus melakukannya dengan diam-diam." ujar Sumi.


"Iya pasti." Paijah menyetujui usul Sumi.


__ADS_2