
Qiyna dan Asma masak bersama Cika, ditemani dengan beberapa bahan. Ada seledri sebagai bumbu penyedap rasa, dan juga bihun sebagai bahan campuran utamanya.
"Eh, menurut kamu kita enaknya membuat soto apa?" tanya Qiyna.
"Kalau menurut aku soto bihun kulit ayam." jawab Asma.
"Kalian ini antusias sekali, padahal baru saja tinggal. Istirahat terlebih dulu juga tidak masalah." sahut Cika.
"Tidak bisa ukhty Cika, nanti kamu kelaparan lagi." Asma melihat ke arahnya.
"Oh gitu pemikiran kalian, namun sayangnya kami sudah terbiasa. Jika negara ini dijajah oleh raja sendiri, kami akan membawa bekal seadanya. Mengungsi ke suatu tempat juga bagus, yang terpenting mempertahankan Islam." ujar Cika.
"MasyaAllah, semoga selalu Istiqomah. Ukhty sudah memiliki niat lurus seperti ini saja, kami semua ikut senang mendengarnya." jawab Asma, dengan kagum.
Masjid Tursia dipakai untuk mabuk-mabukan, lalu menjadi tempat maksiat lainnya. Berjudi, tempat bebasnya campur baur laki-laki dan perempuan, lalu penyimpanan uang palsu.
"Ayo, terus lanjutkan. Tidak mengapa jika ingin menumpahkan minuman sembarangan. Tempat ini sekarang bukan masjid, namun tempat bebas."
"Hahah... benar sekali, kita menunggu raja Erland sampai pulang."
__ADS_1
"Tempat ini masih disebut masjid, hanya saja para pecundang telah merubah nilainya." sahut Tauhid, yang berdiri di ambang pintu.
"Bocah, kamu sungguh pintar berpidato. Daripada sibuk dengki dengan kepuasan diriku, lebih baik kamu cari perempuan saja. Bawa ke sini, kita nikmati bersama."
Tauhid tersenyum samar, muak dengan penindasan tersebut. "Aku tidak dengki, dengan nikmat dunia yang hanya sementara. Cukup dengan Allah ada di sisiku, maka aku tidak kekurangan apa pun lagi."
"Banyak celoteh dia, ayo kita bunuh saja. Berani-beraninya membanggakan Tuhan yang dicintainya." Salah satu dari mereka berdiri, bersamaan dengan yang lain ingin menyerang.
"Cepat maju, siapa takut!" Tauhid mengarahkan senjata pistol.
Dor!
Dor!
"Alhamdulillah, akhirnya kita berhasil mengalahkan mereka dengan perlahan." ujar Tauhid.
"Iya, adikmu bisa bertemu lagi denganmu." jawab salah satu pelayan istana raja.
Alesha terkejut saat tengah malam ada yang mengetuk pintu, bahkan terkesan buru-buru. Terdengar berulang kali, lebih dari tiga kali. Cika berjalan untuk membuka pintu, dengan mengucek matanya yang sayu. Masih berat untuk membuka mata, karena mengantuk.
__ADS_1
Cika terkejut tatkala membuka pintu. "Ada apa?"
"Aku sedang mencari perempuan bernama Alesha, aku dengar menginap di sini."
"Hmmm... aku tinggal sendirian di sini." ujarnya.
"Kamu sekarang berubah, menjadi mengenakan jilbab." Melihat busana yang dikenakan.
"Ini di kepala tidak bisa disebut jilbab, hanya kain yang dililitkan." Cika berusaha menipu, dengan selalu waspada.
"Baiklah, awasi jika ada seseorang yang mencurigakan." titah raja Ghukong.
"Tidak masalah, kota Alberd ini harus aman." jawab Cika.
Setelah kepergian mereka, alangkah sedih hatinya. Dulu saat negara B aman, dia malah tidak bertobat. Disaat mulai perjalanan hijrah, malah ada gangguan kekuasaan raja dzalim.
”Kita akan bisa merasakan sesuatu berbeda, ketika melihat diri kita yang belum hijrah.” batin Cika.
Alesha tiba-tiba muncul menepuk pundak Cika. "Tadi yang datang para pengawal raja Erland?"
__ADS_1
"Iya Alesha, mereka mencari kalian. Sekarang berhasil mempengaruhi pikiran raja Ghukong untuk memberantas Islam." jawab Cika.