
Keesokkan harinya, ada seorang ustadz baru. Laki-laki tersebut bernama Beno, yang mengajar di pondok pesantren, tempat Alesha bernaung mengenyam pendidikan. Tanpa sengaja jatuh cinta saat pandangan pertama pada Azizah.
"Semuanya, perkenalkan nama saya adalah Beno. Kalian bisa panggil saya ustadz, karena saya akan mengajar di bagian Nahwu Shorof." ujar ustadz Beno.
"Iya Pak ustadz." jawab semuanya.
"Apa ada yang tahu, apa itu Nahwu Shorof?" tanya ustadz Beno.
"Nahwu Shorof merupakan sistem saraf otak sempurna." Salah satu santri yang mengantuk, mewakili menjawab pertanyaan sederhana tersebut.
"Bukan Nak, kamu tidak fokus. Perhatikan baik-baik, Nahwu merupakan ilmu yang mempelajari perubahan akhir kata. Sedangkan Shorof sendiri mempelajari awal dan pertengahan kata." ucap ustadz Beno.
"Oh iya Pak ustadz, maaf!" Matanya yang mengantuk, membuat tidak fokus.
Raja Noi mengikuti kegiatan gotong royong di sebuah tempat, yang akan diselenggarakan acara lomba. Para warga desa kagum, memperhatikan sifatnya yang arif dan bijaksana.
"Raja Noi, mengapa kamu sangat baik. Apa tidak rugi jika banyak sedekah?" tanya salah satu warga desa, yang merasa penasaran.
__ADS_1
"Tidak, sedekah itu sesungguhnya nikmat, tapi untuk orang yang beriman. Tidak ada rugi, selama mendekatkan diri pada Allah Swt." jawab raja Noi.
Rumput-rumput dibersihkan, lalu batang pohon yang menjalar dipangkas. Panggung acara didirikan, dengan kekuatan tenaga bersama-sama. Bunga-bunga diletakkan dengan hati-hati, lalu disusun dengan rapi.
Sebelum mendekati salat Dzuhur, semua orang ke kamar mandi. Mereka sudah membersihkan diri masing-masing, lalu melaksanakan salat Dzuhur berjamaah.
Keesokkan harinya, Alesha dan teman-teman membersihkan asrama. Mereka bergerak dengan kompak, sampai lantai asrama mengkilat. Tidak lama kemudian, ustadzah Oki datang. Dia melihat dari pintu, apa yang dilakukan oleh muridnya.
"Kalian rajin sekali iya." ujarnya, dengan pujian.
Tauhid lewat di depan pintu asrama, melihat sekilas lalu pergi. Ustadzah Oki memanggil Tauhid, karena ingin mengetahui apa yang dilakukannya.
"Tauhid, mengapa kamu lewat di emperan asrama putri?" tanya ustadzah Oki.
"Cuma mau membuang sampah." jawab Tauhid.
"Bukankah di asrama khusus santri laki-laki juga ada?" Ustadzah Oki teringat akan sesuatu hal.
__ADS_1
"Iya Bu, cuma sudah penuh. Aku mencari Yanga masih kosong saja." jawab Tauhid, dengan jujur.
Ustadzah Oki takut ada niat modal dusta di belakangnya. Makanya, dia mengawasi dengan sangat ketat. Setelah dirasa cukup dengan pertanyaannya, ustadzah Oki membiarkan Tauhid pergi.
Tauhid setor hafalan pada ustadz Farid, bersamaan dengan Amsah adiknya. Semua lancar dan tidak terbata-bata, jadi mereka cepat keluar dari ruangan. Amsah yang paling duluan menghela nafas lega, karena hafalannya tidak mengalami hambatan.
"Eh, biasanya dalam kuis basa-basi Islam, ini masih dikeluarkan jadi pertanyaan." ucap Tauhid.
"Iya, jangan sampai lupa sama hafalannya." jawab Amsah, dengan nada datar.
Alesha latihan mengaji di ruangan serbaguna, untuk persiapan mengikuti lomba. Ustadzah Oki mendengarkan dengan seksama, melihat bacaan ada yang salah atau tidak.
"Alesha, dalam pembacaan surah Al-Mulk ini kamu sudah sangat bagus. Hanya saja, perlu diulangi bagian itu." ucap ustadzah Oki.
"Iya Bu ustadzah." jawab Alesha.
Ustadzah Naila dan ustadzah Ziy ada di ruangan itu juga. Mereka mencari kandidat dari kelas lain, untuk mewakili pondok pesantren juga.
__ADS_1