Panah Cinta Muslimah

Panah Cinta Muslimah
Terluka


__ADS_3

Sopir mobil angkutan umum atau pribadi turun. "Adakah orang yang mencurigakan di mobil anda?" tanya Polisi kepada Chan, yang melihat Alesha dan Qiyna di dalam mobil.


"Ada, satu wanita ini." Chan menunjuk Alesha.


Alesha berusaha tenang. "Saya adalah warga negara C." Dia menjelaskan.


"Mana pasport anda?" tanya polisi.


"Ketinggalan di rumah keluargaku." jawab Alesha.


"Dia harus ditahan, kami takut dia mata-mata." ujar Polisi kepada Chan.


"Tenanglah, saya adalah pengawal kepercayaan raja Erland. Sekarang saya ingin menemui Raja dari negara C di perbatasan, ini adalah pengawalnya." Chan menunjuk Qiyna.


"Baiklah, kami akan membiarkan kalian pergi." Polisi memeriksa mobil angkutan umum yang ditumpangi oleh Amina, Azizah, dan Asma.


"Adakah orang yang mencurigakan di sini?" Polisi bertanya, celingak-celinguk fokus ke arah Amina dan Azizah.


"Dua gadis berhijab, bukankah peraturan negara A sudah tidak boleh lagi. Buka cadarmu." Perintah polisi.


Asma memang tidak dicurigai, jadi dia bisa lolos. "Bagaimana ini, jika Amina dan Azizah keluar dari mobil." batinnya.


Amina dan Azizah yang dipandang tidak bereaksi apa pun juga.


"Lepaskan!" Polisi masuk ke dalam angkutan umum, hendak menarik cadar Azizah.


Azizah menangkis tangannya menendang polisi itu, keributan terjadi di dalam angkutan umum.


"Ayo keluar!" Azizah memerintah Amina.


Mereka berdua segera berlarian keluar. Polisi yang ada di luar mengejar mereka.

__ADS_1


"Hei penyusup hentikan!" Polisi berteriak menembakkan senjata.


"Duar!" Tembakkan tepat mengenai kaki Amina.


"Aduh sakit, Azizah kamu lari duluan saja." keluh Amina.


"Tidak." Azizah segera merangkul bahu Amina menuju pohon besar, mereka bersembunyi.


"Kita harus menemukan penyusup itu, atau mungkin dia pengkhianat raja Erland."


"Periksa seluruh tempat ini." titah komandan.


"Bagaimana ini Azizah?" tanya Amina.


"Aku tidak tahu, yang pasti kita harus tetap bersembunyi."


Amina memegangi kakinya yang terkena peluru dengan meringis karena sakit yang luar biasa. Darah segar menetes dari bekas luka tembak tersebut.


"Aku akan memancing mereka, kau harus tetap disini. Tunggu sampai aman, kaburlah jika terdesak." ujar Azizah.


"Baiklah, aku akan berusaha kabur." jawab Amina.


Azizah segera berlari, dan polisi yang melihatnya langsung menembaknya namun melesat. Azizah berlari dengan berlenggak-lenggok membingungkan polisi.


"Aku harus sembunyi di dalam tong sampah" Azizah membuka tong sampah besar, dan masuk ke dalamnya.


"Hah, sial. Kemana gadis tadi?"


"Dia tidak ada, apa mungkin sudah kabur?"


Angkutan umum yang ditumpangi Asma berhenti disebuah jalan setapak, dia memilih melanjutkan dengan berjalan kaki.

__ADS_1


"Aku harus bagaimana ini, apa aku bisa melewati ini semua seorang diri." monolog Asma.


Sementara itu, Alesha dan Qiyna pergi bersama pengawal sudah tiba di perbatasan.


"Mana raja negara C yang kalian maksud?" tanya Chan.


"Marilah turun dulu." ujar Qiyna.


Mereka turun, dan melihat di sana benar-benar tidak ada siapa pun juga.


"Kamu mencoba menipu kami?" Pengawal melayangkan pistol.


Alesha menendangnya, dan segera berlari bersama Qiyna.


"Ayo kita masuk hutan lebat itu." ajak Alesha.


Qiyna berlari cepat mengikuti Alesha. "Alesha, bisakah beristirahat sebentar, aku lelah!"


"Ada pohon pisang!" Alesha menebang pohon pisang hutan itu.


"Alesha aku ingin memakan pisangnya."


"Ambil lah!" Alesha memberikan pisang masak, dan dimakan oleh Qiyna.


"Huek...!" Qiyna termuntah. "Pisangnya tidak enak, aku lapar. Aku haus."


"Tenanglah, kita akan segera ke kota Alberd. Di sini belum membaik. Aku melihat pergerakan di istana raja belum normal."


"Darimana kamu tahu?" tanya Qiyna bingung.


"Aku memasang kamera tersembunyi di istananya. Kita harus memantau pergerakannya."

__ADS_1


__ADS_2