
Alesha segera beranjak dari tempat tidur itu, dia pergi ke kamar mandi memikirkan cara untuk lolos. Alesha sengaja membuang air kecil, dan menampungnya dalam wadah berukuran kecil.
"Sebenarnya aku sangat jijik, tapi aku harus melakukannya." Mengoleskan air kotor tersebut ke tubuhnya sendiri. Meski jijik, terpaksa dia lakukan.
Alesha keluar dari kamar mandi dan mendekati anak raja tersebut.
"Bau sekali kamu, aku tidak sanggup untuk bersama denganmu." Anak raja murka, dan berlari keluar kamar.
"Kesempatan kabur!" monolog Alesha, dia segera berlarian keluar kamar.
Alesha berjalan mengendap-endap, kakinya masih terasa sakit akibat terkena peluru. Dia pergi keluar istana, dan melawan prajurit yang menyerangnya.
"Aduh, kakiku sakit sekali." Seperti sebelumnya, berlari sekencang-kencangnya.
****
"Asma, bagaimana dengan Alesha? dia tertinggal seorang diri." ujar Qiyna.
"Iya, harusnya aku tidak meninggalkan dia. Namun bagaimana lagi, kita harus cepat pergi."
"Nanti kita akan pergi ke istana negara C, setelah mendapat perlindungan dari warga yang tinggal di sini."
Asma dan Qiyna berlari ke arah masjid, mereka merasa hanya itu tempat yang aman.
"Bagaimana ini, ada orang."
__ADS_1
"Tidak apa-apa, sepertinya dia seorang ustadzah. Mungkin dia bisa membantu kita." Ujar Asma yang melangkahkan kakinya ke dalam masjid.
Qiyna juga ikut masuk ke dalam.
Sementara di sisi lain.
"Cari ketiga gadis penyusup tersebut." ucap tentara yang berjaga di perbatasan negara C, kepada temannya.
"Iya, kita akan mencarinya dan membawa ke hadapan raja, hidup atau pun mati."
Mereka berjalan mengelilingi semua tempat di kota Alberd, dan Alesha yang berjalan langsung memutar balikkan badannya dan bersembunyi. Darah segar bercucuran di kakinya, akibat peluru yang bersarang di sana.
"Subhanallah, sakit sekali!" Alesha meringis memegangi kakinya, masih mengintip di balik pohon besar.
Setelah dirasa cukup aman, Alesha terpikirkan untuk pergi ke masjid. "Aku harus mandi di toilet yang ada di masjid ini, tubuhku bau busuk akibat dioles air kotor itu." Alesha segera masuk ke toilet, untuk membersihkan diri.
"Alesha!" panggil Asma dan Qiyna.
"MasyaAllah, syukurlah bisa bertemu kalian kembali." Alesha menatap keduanya, dengan raut wajah sumringah.
"Iya, kami berencana untuk menginap di sini." ujar Asma.
"Apa kalian yakin aman?" jawab Alesha.
"Kalian menginap saja di sini, saya akan menyembunyikan kalian dari tentara negara ini." ucap ustadzah.
__ADS_1
"Ustadzah terima kasih." jawab mereka, secara bersamaan.
Ustadzah tersebut tersenyum, dia mengerti mereka sedang dalam kesusahan. "Kalau begitu, bereskan barang kalian. Ada penginapan didekat masjid ini. Saya akan mengantar kalian di sana, kalian bisa bekerja membersihkan masjid."
"Terima kasih banyak ustadzah." ucap Alesha, dengan datar.
Ustadzah tersebut mengantar mereka menuju penginapan, dan mereka bertiga masuk ke dalam.
"Semoga kalian betah tinggal di sini, saya permisi dulu." ujar perempuan paruh baya tersebut.
"Iya ustadzah." jawab mereka bertiga serentak.
Setelah ustadzah itu pergi, Alesha membuka pembicaraan.
"Kenapa dia mau menolong kita?" tanya Alesha penasaran.
"Kami telah menjelaskan kepada dia, bahwa agama kami dijajah di kota Shanan negara A." ucap Qiyna.
"Oh begitu." Alesha memegangi kakinya.
"Kruyuk... kruyuk..." Perut Alesha berbunyi karena menahan lapar.
"Alesha, kamu sebaiknya makan dulu." Mengeluarkan makanan di dalam tasnya.
"Kamu bisa dapat nasi bungkus dari mana?" tanya Alesha.
__ADS_1
"Alhamdulillah, ini rezeki yang diberikan oleh Allah melalui ustadzah tadi." ucap Asma.
Alesha mengambilnya segera membaca doa, lalu memakan nasi serta lauk pauk tersebut.