Panah Cinta Muslimah

Panah Cinta Muslimah
Penyerangan Tauhid


__ADS_3

Keesokan harinya, Alesha dan teman-teman makan bersama. Cika belajar bersama Alesha, untuk memperdalam pengetahuan. Dari caranya bersikap, berbicara, dan menjalani aktivitas sehari-hari.


"Eh, semalam raja Erland datang ke sini." ujar Alesha, dengan jujur.


Asma menatap serius. "Sungguh? Mengapa aku tidak tahu?" jawabnya.


"Karena kamu sudah tidur, jadi tidak dibangunkan." ucap Alesha.


"Lah, kalau dia memeriksa rumah ini, otomatis aku dan Asma bakalan diringkus tidak dilepas lagi." jawab Qiyna.


"Tapi mereka tidak memeriksa sampai ke dalam, syukur alhamdulillah kita dilindungi." ujar Alesha.


"Aku salut, kalian berani melawan sang raja." Cika tersenyum ke arah Alesha.


"Aku lebih salut lagi, kamu berani disuruh mencari kami. Jelas-jelas kamu yang menyembunyikan, sama saja mengkhianati kepercayaan." ucap Alesha.


"Biarin, yang penting agama Islam harus merdeka. Melindungi manusia pemberani kalian perlu keberanian." Cika mengambil air minum, lalu meneguknya.

__ADS_1


Pondok pesantren dimasuki raja Ghukong, namun semua santri sudah menyamar. Hanya ada beberapa orang laki-laki, karena selebihnya bersembunyi.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya raja Ghukong.


"Biasa, hari kebebasan. Kami bersantai ria, untuk membuat tempat judi." jawab Amsah.


"Mana buktinya, aku dengar tempat ini tertutup. Orang-orangnya juga tidak pernah menghadiri acara resmi raja." ujar raja Erland.


"Iya, rencananya ingin membuat tempat lebih asyik lagi. Mungkin bisa dimulai dengan membuat hiburan puzzle." jawab Amsah.


Raja Ghukong tertarik, dengan usulan Amsah. "Sungguh menarik, kamu benar-benar kreatif. Aku salut, buatlah tempat ini semenarik mungkin. Aku akan mengajak orang-orang ke sini, lalu kita makan besar. Ada pesta daging hewan kaki empat berbulu." Mengedipkan mata.


"Coba dulu anak muda, nanti kamu juga akan ketagihan." ujar raja Ghukong.


"Aku tidak tertarik pada makanan, yang dapat membuat kambuh alergi." jawab Amsah, dengan tenang.


"Iya sudah, kalian saja. Pasti tidak alergi 'kan?" Melihat sekumpulan laki-laki didekat Amsah.

__ADS_1


"Iya, kami bisa memakannya." Berbicara sambil menunduk, namun pikiran mencari-cari cara menghindar.


"Baiklah, aku dan raja Erland akan datang seminggu lagi. Kalian semua harus mempersiapkan diri. Terutama kamu Amsah, tolong hadir." Raja Ghukong sangat simpati, dengan cerita bohong Amsah.


"Baiklah, aku akan menghadiri." jawab Amsah.


Tauhid sudah kembali ke rumahnya, karena negara A sudah mulai membaik. Meski belum keseluruhan total, namun lumayan untuk kebebasan Islam. Raja Erland sedang berkelana ke negara lain dengan santai, tanpa memikirkan negara sendiri yang sudah berantakan.


Bibi Raudah membawakan makanan untuk Tauhid, yang sudah kelelahan di Medan perang. Begitupula dengan ponakannya, yang sudah fisabilillah di medan pertempuran.


"Kalian sampai berkeringat, ingat perjuangan ini. Kalau agama sudah merdeka, jangan malas-malasan lagi." Bibi Raudah mengingatkan.


"Iya Bibi, kami patuhi nasehatmu. Tertarik pada Islam ternyata seindah ini, andai dari dulu kami mengenalnya." jawab perempuan bertubuh kecil.


Tauhid mulai membaca doa, lalu makan bersama. Keponakan bibi Raudah juga antusias untuk mengisi perut yang lapar. Perlahan memasukkan makanan ke dalam mulut, lalu minum air dengan diteguk dari gelas.


"Terima kasih iya Bibi, semoga Allah membalas dengan kebaikan." ucap Tauhid.

__ADS_1


"Iya Nak, teruslah berjuang sebarkan kebaikan. Jangan pernah menyerah, meski pun badai menerpa." Raudah menasehatinya untuk Istiqomah.


Usai makan, Tauhid menyempatkan menelepon Amsah. Sang adik yang ada di luar negeri, sudah lama tidak terdengar kabarnya.


__ADS_2