Panah Cinta Muslimah

Panah Cinta Muslimah
Penyelamat Al-Qur'an


__ADS_3

Sementara itu, prajurit kerajaan tersebut menghancurkan masjid yang ada di sana. Mereka juga mengumpulkan Al-Qur'an dan memusnahkannya.


"Hei tunggu, jangan bawa kabur Al-Qur'an itu." Prajurit berteriak kepada seorang pria muda, yang membawa kabur Al-Qur'an.


Pertengkaran sengit terjadi di antara mereka, dan pria muda itu berhasil melumpuhkannya. Dia berlarian membawa empat Al-Qur'an yang telah diselamatkan.


"Aku harus membawanya ke tempat yang lebih aman." batin Tauhid.


Keesokan harinya, Alesha bangun pagi-pagi sekali. Dia mulai menyapu dan mengepel ruangan dalam masjid. Qiyna dan Asma membantu mengelap kaca.


"Kalian makan dulu iya." ujar Qiyna.


"Loh, kamu beli di mana?" tanya Alesha.


"Pagi-pagi seperti ini, tidak ada waktu untuk membelinya. Aku tadi disuruh ustadzah membagikannya pada kalian." Qiyna berterus-terang.


"Baiklah, kalau gitu kita mengisi perut kosong terlebih dulu." jawab Alesha.


Mereka menghentikan kegiatan, mencuci telapak tangan yang kotor. Alesha meletakkan alat pembersih lantai di pinggir. Mereka bertiga duduk di kursi, lalu membuka kotak makanan bersamaan.


"Sudah lama tidak memakan ketan goreng." Asma memandangnya dengan rasa syukur.

__ADS_1


"Alhamdulillah kita bisa makan, dan Tuhan biarkan kita rezeki di kota Alberd." Alesha merasa beruntung, ditemukan dengan orang-orang baik dan beriman.


Raja Erland melihat semua pengawalnya, yang siap memberi laporan. Mereka menunduk hormat, karena takut pada raja.


"Cari laki-laki yang berani ikut campur dalam urusan kita." titah raja Erland.


"Baiklah, kami akan menghabis dia." jawab Chin.


"Aku juga akan memastikan, saat dia tertangkap dipenggal hidup-hidup." timpal Chen.


"Kalian jangan banyak bicara tapi omong kosong, aku tidak suka hal seperti ini." ujar raja Erland.


"Siapa nama pemuda pembangkang itu?" tanya raja Erland.


"Banyak informasi yang terkait menyebutkan, bahwa nama pria muda itu Tauhid." jawab Chen.


"Cepat cari dia, bakar ayat suci Al-Quran yang dibawa dalam genggaman tangannya." titah raja Erland.


"Baiklah, kami akan mencarinya." jawab Chen.


Tauhid menggali sebuah tanah semalaman, demi menyembunyikan kitab suci ke tempat yang aman. Dia berencana membuat sebuah ruangan, yang tidak mudah dijangkau.

__ADS_1


"Aku akan memasukkannya ke dalam sebuah kotak baja. Semoga saja kitab ini aman, dan terlindungi dari orang-orang yang mencoba memusnahkannya." Tauhid sengaja menggemboknya dari luar.


Setelah dirasa aman, baru dia mulai menutup lubang tersebut. Tauhid menandainya dengan menanam sebuah pohon, yang suatu hari nanti mungkin bisa tumbuh lebat. Pohon akasia telah bersemi di bumi, tinggal menunggu akar kecil menjadi lebih tangguh.


Dia telah kembali ke tempat tinggalnya, namun menghentikan langkah. Dari kejauhan tampak pengawal setia raja Erland.


"Hei Tauhid, kamu ngapain di sini?" tanya seorang laki-laki, yang tengah menggembala kambing.


"Aku sedang mencari udara segar." jawab Tauhid.


Laki-laki tersebut melihat ke arah pintu rumah Tauhid. "Mengapa ramai orang di depan rumahmu?"


"Aku juga tidak tahu, biarkan saja." jawabnya, sambil menyembunyikan kegugupan.


"Kalau tidak salah, mereka adalah pengawal raja Erland." Laki-laki itu menatap curiga ke arah Tauhid.


"Aku tidak membuat masalah, aku rasa mereka salah alamat." Tauhid mengelak.


"Coba kamu samperin sana." Laki-laki itu ingin tahu.


"Kamu saja, aku terburu-buru pergi ke sungai." Tauhid langsung berlari.

__ADS_1


__ADS_2