Panah Cinta Muslimah

Panah Cinta Muslimah
Ketahuan Pacaran


__ADS_3

Tujuh hari kemudian, Alesha berdiri ke atas panggung. Namanya dipanggil untuk maju, karena sudah terdaftar sebagai peserta. Tidak terdengar suara tepuk tangan riuh penonton, karena sibuk menghayati yang dibacakan oleh Alesha.


"Suaranya bagus sekali." ucap seorang perempuan paruh baya, yang terkagum dengan Alesha.


"Iya dong, dia anak pondok pesantren kok." jawab orang di sebelahnya.


"Aku juga tahu, tapi tidak semuanya memiliki keahlian seperti dia."


"Namanya juga manusia, ada kekurangan dan kelebihan masing-masing."


Ada seseorang yang memperhatikan dari kejauhan. Dia adalah Tauhid, yang menyukai Alesha diam-diam. Alesha tidak menghiraukan para penonton, fokus ke dirinya sendiri. Qiyna, Asma, Azizah, dan Aminah menghampiri Alesha setelah turun dari panggung.


"Alesha, bagaimana perasaan kamu saat berada di atas panggung?" tanya Qiyna.


"Perasaanku tadi, seperti anak ayam hilang. Begitulah ibarat kata, aku hanya mengikuti ritme panggilan." jawab Alesha.


"Beruntung kamu tidak pingsan, sampai membuat panggung runtuh." Azizah bercanda.


Aminah malah tergelak tawa, mendengar candaan Azizah. "Sungguh terlalu ucapan kamu, tidak mungkin sampai seperti itu. Tubuh Alesha tidak terlalu berat kali, dia sangat ideal."


"Eh, aku pergi duluan iya. Aku ada keperluan, untuk bertemu dengan teman di luar kelas." sahut Asma.

__ADS_1


"Teman apa teman? Aku lihat, kamu akhir-akhir ini sering hilang dari rombongan." jawab Qiyna bercanda, namun sedikit menyelidik.


"Iya teman, lalu apa lagi." ujar Asma meyakinkan.


"Sudah deh, aku percaya saja." jawab Qiyna, sambil menoleh ke arah teman-temannya.


Asma diam-diam bertemu Wahji, lalu menerima hadiah bunga mawar. Tidak lupa pula jam tangan, yang masih terbungkus rapi pada sebuah wadah. Asma memperhatikan bunga dan kotak secara bergantian.


"Bagus sekali, ini serius untuk aku?" tanya Asma.


"Iya, aku serius. Lalu untuk siapa lagi, bila bukan kamu." jawab Wahji ramah.


"Aku pacarmu, memang siapa lagi yang akan dipikirkan." ujar Asma, yang mulai tidak tahu malunya mengakui.


"Terima kasih iya Wahji, dunia jadi terasa lebih indah ada kamu." Asma mulai melupakan, yang seharusnya dilakukan seorang muslimah.


"Iya Asma, aku juga merasa seperti itu. Aku benar-benar sayang sama kamu." jawab Wahji.


Ustadzah Oki baru saja mau masuk toilet, tapi memergoki dua anak muda itu berpegangan tangan. Mereka dimabuk asmara, dengan cinta yang palsu.


"Hei, sedang apa kalian berdua?" tanya ustadzah Oki.

__ADS_1


"Kami sedang berbicara Bu." jawab Asma, dengan panik.


"Jangan berbohong, Allah Maha Mengetahui. Ibu lihat kalian bukan hanya mengobrol, tapi sudah di luar batas." ujar ustadzah Oki.


"Bu, maafkan kami." jawab Wahji.


Welang melihat keduanya ditegur, lalu Wahji dihukum untuk mendorong angkong. Asma yang duduk di atas angkong, malah menjadi tontonan satu lapangan.


"Eh, kenapa mereka dihukum?" tanya Bandi.


"Dia melanggar aturan pesantren, yang tidak memperbolehkan pacaran." jawab Welang.


"Salah sendiri, dasar tidak tahu malu." Bandi mengejeknya.


"Iya, tidak mengerti aturan." Welang bersemangat, membicarakan kesalahan mereka.


"Sudah, sudah, tidak sepatutnya kalian melakukan ghibah." sahut Tauhid.


"Benar, sama saja dengan makan bangkai saudara sendiri." timpal Amsah.


"Aku berbicara sesuai kenyataan saja, lagipula yang bertanya adalah Bandi." jawab Welang, yang tidak mau mengakui kesalahannya.

__ADS_1


Alesha melihat Asma yang menutupi wajah, menahan malu ditonton semua orang. Sebenarnya Alesha kasian, tapi itu kesalahan Asma sendiri. Dia mulai berani melanggar, padahal sudah diingatkan.


__ADS_2