Panah Cinta Muslimah

Panah Cinta Muslimah
Filosofi Kuno Beserta Puzzle


__ADS_3

Satu Minggu bukanlah waktu yang sebentar, Amsah harus mempersiapkan semuanya. Sekarang dia sedang mengobrol dengan Tauhid, untuk meminta solusi dari kakaknya.


"Apa yang harus aku lakukan Kak?" tanya Amsah.


"Entahlah, tidak ada cara selain mengikuti permainan yang mereka buat." jawab Tauhid.


"Iya sudah, aku akan memikirkan dengan matang." ujar Amsah.


"Iya Dik, semangat iya! Kakak di sini sudah hampir berhasil." Tauhid memberitahu pencapaian dalam perjuangan.


Keesokan harinya, Cika buru-buru memberitahu Alesha. "Gawat, banyak sekali spanduk kalian di jalan. Tampaknya, raja Erland ingin menangkap kalian."


"Biarlah, aku harus tetap gigih mempertahankan prinsip. Hidup dan mati ku harus untuk Allah, agar tidak menjadi perjalanan yang sia-sia." jawab Alesha.


"Bagus ukhty, semangat untuk Istiqomah." Cika mengangkat telapak tangannya, ke atas udara.


"Iya, ukhty juga semangat iya." Alesha tersenyum.


Asma dan Qiyna muncul, sambil membawa agar-agar sepesial. Mereka sengaja membuatnya untuk Cika, biar dia lebih fokus saat belajar agama.


"Terima kasih iya teman-teman." ucap Asma.

__ADS_1


"Iya, sama-sama." jawabnya.


Seminggu kemudian, puzzle disiapkan. Permainan dengan seni alami, bergambar sebuah daun tersirat makna. Raja Erland memperhatikan dengan seksama, sambil menggerakkan dagu dengan jari telunjuk dan jempol berulang kali.


"Semesta alam ini diciptakan oleh siapa?" tanya Amsah.


"Mungkin ada dengan sendirinya, karena aku percaya angin, bulan, matahari juga bisa Tuhan." jawabnya.


"Tidak bisa begitu, ini jelas animisme. Sebuah kepercayaan kuno, yang tidak jelas siapa Tuhan. Aku pernah mendengar filosofi kuno, bahwa hanya ada satu cara mengetahui, ketika kita membaca sesuatu namun bisa membuat tenang." ujar Amsah.


"Apa itu? Menarik kedengarannya, aku penasaran." jawab raja Erland.


"Aku tidak percaya, bagaimana mungkin bisa tenang hanya dengan lembaran kertas."


Qemony juga penasaran, lalu melihat dan membukanya. Tulisan Arab yang asing, membuatnya menggeleng-gelengkan kepala berulang kali.


"Apa si ini, sulit sekali dipahami." keluhnya.


"Ada artinya tuan muda Qemony." Amsah sengaja memancingnya.


Qemony membaca dengan perlahan, namun tidak percaya dengan hal tersebut. Dia memilih untuk makan, lalu mengacuhkan terjemahan Al-Qur'an tersebut. Qemony memikirkan mengapa harus salat dalam Islam.

__ADS_1


"Eh Amsah, apa yang kita lakukan? Mengapa kita harus ibadah, dan siapa yang kita sembah?" tanyanya sambil berbisik.


"Yang disembah adalah Allah, bagi yang percaya dengan kitab ini." jawab Amsah.


"Kamu percaya tidak?" Qemony balik bertanya.


"Aku si lihat pendapat Ayah kamu terlebih dulu." Amsah ingin menjerat mereka perlahan, bukan dengan cara yang spontan.


"Aku tertarik untuk mencobanya." ujar raja Ghukong.


"Hei, raja Ghukong jangan gila. Kitab ini tulisan manusia, filosofi kuno bisa saja salah." Raja Erland menghalangi.


"Kita akan tahu, bila mencobanya." jawab Qemony.


"Nah iya, kita lihat puzzle ini. Mari bermain bersama!"


"Menurutku matahari di sini." Qemony menunjuknya.


"Pedoman hidup itu Al-Qur'an, bagaimana mungkin kaki di kepala orangtua. Harusnya potongan kertas di sini, pertanda menghormati orangtua. Banyak sekali rumus bagus, untuk pedoman hidup."


Qemony mengajukan syarat. "Aku akan percaya kitab yang kamu bawa, kalau aku bisa bertemu kembali dengan Alesha."

__ADS_1


__ADS_2