Panah Cinta Muslimah

Panah Cinta Muslimah
Antrian Kamar Mandi


__ADS_3

Alesha memasukkan sabun cuci ke dalam keranjang belanja, lanjut mencari barang yang lainnya. Qiyna memasukkan sajadah ke dalam keranjang, yang tidak terlalu besar.


"Kamu mengapa beli sajadah?" tanya Alesha.


"Tidak apa-apa, yang lama kurang layak pakai." jawab Qiyna.


"Eh, ada pembalut di atas rak buku." ujar Alesha.


"Mungkin ada orang, yang sengaja menyelipkannya." Qiyna hanya menebak saja.


Tauhid menghafal pelajaran, bersama dengan Amsah. Tauhid fokus terhadap kamus bahasa Arab, yang sedang digenggam oleh tangannya. Tauhid membuka lembar demi lembar kertas dengan perlahan.


"Kak, bagian mana yang Kakak tidak tahu?" tanya Amsah.


"Bagian yang ini." Tauhid menunjuk sebuah buku nomor 22.


"Mari kita tanyakan ke Pak ustadz Farid, aku juga tidak tahu heheh..." Amsah terkekeh.


"Kamu ini, Kakak kira kamu tahu jawabannya heheh..." jawab Tauhid.

__ADS_1


Tangan Amsah dan Tauhid sudah menempel di pintu, lalu melakukan gerakan mengetuk dengan perlahan.


Ustadz Farid membuka pintu. "Ada apa kalian menemui saya?"


"Kami ingin menanyakan mengenai bahasa Arab." jawab Tauhid.


Ustadz Farid menyuruh mereka masuk ke dalam, lalu memberitahu apa yang tidak mereka ketahui. Amsah dan Tauhid manggut-manggut, saat mengerti dengan apa yang dijelaskan.


"Kami permisi kembali ke asrama, tera


Keesokan harinya, Alesha antrian dengan Aminah dan Azizah. Mereka sedang mandi berdua di dalam, namun masing-masing menggunakan kain penutup. tiba-tiba datang Qiyna yang juga sedang terburu-buru, dengan posisi handuk tersangkut di pundaknya.


"Hei, apa kalian udah selesai mandi?" tanya Qiyna.


Ustadz Fadli dan ustadz Taslim melangkahkan kaki ke lapangan. Mereka memastikan semua murid ikut absen. Bandi dan Wahji melihat ke arah Welang, yang sejak awal berbaris selalu menunduk.


"Dia kenapa?" tanya Wahji.


"Aku juga tidak tahu." jawab Bandi.

__ADS_1


Amanat pembina apel pagi telah gembar-gembor dilontarkan, berharap semua santri mengerti dengan aturan pondok pesantren. Alesha masuk ke dalam kelas, lalu melihat Asma tengah duduk sendiri.


"Asma, kamu harus ingat untuk jaga jarak dengan Wahji." ucap Alesha.


"Iya Alesha, aku dengar kok." jawab Asma, berusaha menutupi hal yang telah dilakukan di belakang sahabatnya.


Ustadzah Ziy masuk ke dalam kelas, memberikan sebuah brosur perlombaan. Siapa yang bisa membaca dengan lancar dan hafal, akan mendapatkan hadiah dari raja Noi.


"Sungguh beruntung bila kalian bersedia mengikutinya." ujar ustadzah Ziy.


"Iya ustadzah." jawab semuanya.


"Alesha, biasanya kamu suka berpartisipasi. Ibu harap, sekarang pun masih mau mewakili pondok pesantren." Ustadzah Ziy mengutarakan maksudnya, yang memilih Alesha sebagai peserta lomba.


"Boleh Bu, InsyaAllah Alesha menang lagi dengan usaha." jawab Alesha.


Pelajaran pagi itu mengenai tajwid dalam Al-Qur'an. Alesha disuruh maju ke depan, menjelaskan mengenai huruf Qalqalah.


"Teman-teman Qalqalah ini terbagi menjadi dua macam. Pertama Qalqalah Sugra, dan yang kedua Qalqalah Kubra. Qalqalah Sugra pantulan dalam membacanya tidak besar. Sukun atau mati asli, bukan karena tanda Waqaf. Sementara Qalqalah Kubra sebaliknya, pantulan dalam membacanya besar. Sukun atau mati asli, karena tanda Waqaf. Apa teman-teman mengerti?" jelas Alesha.

__ADS_1


"Iya, kami semua paham." jawab Azizah dan Aminah mewakili.


Qiyna dan Asma hanya senyum saja, melihat yang lain antusias berbicara.


__ADS_2