Panah Cinta Muslimah

Panah Cinta Muslimah
Bertemu Seorang Lelaki


__ADS_3

Qemony anak dari seorang raja Ghukong masih memikirkan Alesha. Setelah kepergiannya jadi menyesal, mengapa tidak ditahan sebelumnya. Begitu cepat mengambil keputusan untuk mengusirnya.


"Siapa nama gadis tersebut, aku masih penasaran. Berani-beraninya dia menipuku, lalu kabur begitu saja." Menepis bayangan Alesha, yang seakan bisa terbang di udara.


Seorang pelayan masuk ke dalam kamar, mengantar sebuah wadah berisi makanan dan minuman. Qemony melihat ke arahnya, lalu memanggilnya berulang kali.


"Diyan, sini duduk bersama. Aku ingin makan bersama kamu." ajaknya.


"Baik tuan Qemony." Menjawab dengan takut-takut.


Diyan berjalan mendekat, membiarkan telapak tangan Qemony membelainya. Diyan beranjak dari duduknya, lalu melihat kedua bola mata pelayan dengan seksama.


"Kamu sangat cantik!"


"Terima kasih." jawabnya, dengan terpaksa.


Qemony menarik paksa tubuh Diyan, lalu mereka merebahkan tubuhnya ke atas ranjang tidur. Diyan sebenarnya takut, namun tidak berani membantah.


Raja Alberd berkunjung ke istana milik raja negara B. Kedatangannya disambut dengan meriah, diadakan pesta hewan kaki empat. Tidak peduli dengan peraturan Islam, bahwa hewan tersebut diharamkan.

__ADS_1


"Kaki babi ini nikmat, cobalah raja Alberd." tawar raja Ghukong.


"Pasti aku nikmati, tanpa menyisakan lagi." jawabnya, dengan candaan.


"Nah, bagus kalau seperti ini. Aku senang dengan semangatmu." ujarnya.


"Iya, kota A butuh raja seperti diriku. Menetap di kota Shanan yang luas, membuatku merasa bahagia." jawab raja Alberd, dengan sombong.


"Apa sekarang ini, masih memberantas agama Islam?" tanya Ghukong, dengan penasaran.


"Tentu saja, aku seorang penguasa. Tidak ada yang boleh melawan, atau aku bunuh hidup-hidup." jawab raja Alberd.


"Raja Ghukong, cepat sekali mengetahui hal ini. Ternyata kabar miring cepat melesat ke seluruh penjuru." jawab raja Alberd.


"Raja Alberd tidak perlu merasa sungkan, bisa aku bantu untuk menemukannya." ujar raja Ghukong.


"Terima kasih raja Ghukong, tawaran ini memang yang paling aku tunggu." jawab raja Alberd.


Qiyna dan Asma mengambil air di sungai, mereka sekalian ingin mencuci pakaian.

__ADS_1


"Eh, mengapa raja Alberd tidak dapat diganti dengan yang lain saja?" tanya Qiyna.


"Itu karena publik tidak ada dorongan kuat. Andai yang berdemo tidak hanya kita saja, pasti raja Alberd takut." jawab Asma.


"Namun prajurit raja Alberd banyak, belum lagi dia punya senjata lengkap. Siapa yang akan berani menghadapi dengan tangan kosong." ujar Qiyna.


"Iya juga, kita tidak memiliki kendali apa pun. Tapi, kita tidak boleh membiarkan negara A dijajah." jelas Asma.


Tidak butuh waktu lama, muncul kedatangan seorang lelaki. Dia tersenyum ke arah Qiyna, lalu menundukkan pandangan. Qiyna pun juga begitu, harus tetap menjaga Istiqomah.


"Permisi ukhty, apa kalian warga negara A?" tanyanya.


"Hmm... bukan, kami asli warga sini." Qiyna sengaja menyembunyikan, takut pria muda ini orang jahat.


"Jangan bohong, aku tahu kalian sedang berjihad. Kakakku juga ada di sana, untuk melawan raja Alberd. Sementara aku di sini sekolah di pondok pesantren, untuk memperdalam ilmu agama." jelasnya.


"Baiklah, aku akui kami warga negara A. Namaku Qiyna, dan dia Asma temanku." Qiyna melihat ke arah perempuan, yang sedang menyikat baju.


"Namaku Hamsah, tinggal tidak jauh dari sekitaran masjid, yang sekarang menjadi tempat tinggal kalian." Hamsah menjelaskan sedikit hal tentang dirinya.

__ADS_1


Qiyna melanjutkan pekerjaan, setelah melihat Hamsah pergi meninggalkannya.


__ADS_2