Panah Cinta Muslimah

Panah Cinta Muslimah
Azizah Dan Aminah Meninggal


__ADS_3

Alesha menebang batang pohon pisang menjadi dua. "Kita akan menggunakan batang pisang untuk bertahan di atas air."


"Alesha, air laut itu begitu dingin. Bagaimana jika malam hari. Ketiga teman kita yang terpencar bagaimana?"


"Kita tidak ada pilihan lain, kita telah dikejar pengawal raja Erland. Berdoa saja, supaya mereka bertiga bisa menyusul kita ke kota Alberd."


"Aamiin. Ayo sekarang kita pergi." ajak Qiyna.


Mereka berdua membawa batang pisang itu dan berjalan ke pinggir laut.


"Ayo segera berenang." Alesha masuk ke dalam air bersama batang pisang, dia menahannya dengan tangan.


"Apa kamu yakin, kita akan selamat?" tanya Qiyna, sambil bertahan dengan batang pisang.


"Semoga saja, kita sedang berusaha. Naik pesawat pun kita tidak bisa, karena tidak ada yang akan meladeni kita. Mereka telah disuruh raja, melarang kepergian seseorang yang berpenampilan selayaknya Islam. Tidak mungkin aku mengenakan celana pendek untuk menyamar." Alesha terus mengikuti arus laut.


"Iya juga, benar-benar payah."


Sementara di sisi lain.


"Tolong, jangan biarkan aku jatuh." Amina berteriak, melihat bukit Hurunia yang tertinggi di negara A dari atas.

__ADS_1


"Kami akan mencelakaimu, sesuai permintaan raja Erland." ucap polisi.


"Sudahlah nona, siapa yang menyuruhmu untuk menjadi pembangkang." sahut temannya.


"Lepaskan temanku!" teriak Azizah.


Polisi mendorong Amina. "Aaaa...!" Amina terjatuh ke bawah bukit tertinggi tersebut. Tulangnya retak tak terkira. Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, dia mengucapkan kalimat "Lailahaillallah!"


"Amina jangan tinggalkan kami." Azizah berteriak histeris dan menangis.


Polisi menembakkan senjatanya dan tepat mengenai jantung Azizah. "Lailahaillallah!" Azizah hendak menghembuskan nafas terakhirnya juga. Namun sebelum meninggal, dia melemparkan kertas yang berisi hadits-hadits tersebut ke sembarang arah. Berharap ada yang kembali ke jalan yang lurus.


Polisi itu segera pergi meninggalkan mereka yang telah tewas, dia berbahagia karena telah menjalankan tugas dengan baik.


"Lapor raja, bahwa dua gadis itu telah tewas." ujar Chan, pengawal setia.


"Bagus, aku suka cara kerja kalian. Aku bahagia karena telah membuat mereka mati mengenaskan. Aku masih menunggu tiga orang lagi." Raja Erland tersenyum.


"Iya raja, kami akan segera membereskannya." Chan membungkukkan sedikit badannya, lalu pergi.


Asma merenung.

__ADS_1


"Aku sendiri semua temanku ntah kemana. Alesha dan Qiyna apa mereka selamat. Aku harus segera ke kota Alberd." Asma berjalan sendirian.


Dia pergi ke perbatasan pulau, ombak-ombak laut bersahutan. Suara burung-burung terdengar di dalam hutan.


"Aku harus menggunakan apa, untuk pergi ke sana." Terlihat jelas kegelisahan, di raut wajah Asma.


Nelayan datang dengan membawa kapal besarnya, mereka menangkap ikan di malam hari.


"Apa aku ikut nelayan itu saja." Asma menghampiri mereka, melambaikan tangannya.


Nelayan yang melihat seorang perempuan di atas permukaan pinggir laut, mempunyai inisiatif untuk menghampirinya.


"Kenapa kau memanggil kami?" tanya mereka yang turun dari kapal.


"Bisakah aku ikut dengan kalian."


"Hahha... tidak bisa, serahkan dulu tasmu." ujar pelayan itu.


Asma menendang kaki salah satu pelayan itu, dan pelayan satunya hendak membantunya namun Asma sudah memukulnya duluan.


"Aku harus cepat naik ke kapal." Asma berlarian ke dalam kapal, menyalakan mesinnya dan kabur.

__ADS_1


Kapal mengebut, udara terasa dingin. Angin malam berhembus ke tubuh Asma, dia merasa lega bisa selamat.


"Temanku kalian di mana? Apa sudah sampai di kota Alberd, atau ditangkap oleh raja Erland?" Asma tampak merenung.


__ADS_2