
Keesokan Harinya, kelima gadis tersebut sudah bersiap-siap untuk keluar terowongan setelah melaksanakan shalat Subuh.
"Alesha, sepertinya kita tidak bisa terus mengalahkan mereka dari luar. Harus menyamar berpura-pura jahat, lalu masuk ke dalam kerajaan." ucap Azizah.
"Bagaimana caranya? Mereka akan curiga dengan kita yang mengenakan hijab seperti ini." jawab Alesha.
"Iya juga, kita butuh bantuan."
"Sekarang ayo kita keluar, dari persembunyian ini." Alesha berjalan keluar, berdiri di atas permukaan tanah, yang dibuntuti oleh keempat gadis di belakangnya. Mereka semua berjalan pelan-pelan, waspada melihat sekitarnya.
"Sebaiknya kita berpencar." ujar Alesha.
"Baiklah, aku akan pergi ke masjid Tursia bersama Asma." jawab Qiyna.
"Aku akan mengawasi kerajaan." ujar Alesha.
"Aku mengawasi pergerakan para pengawal bersama Amina." Azizah melihat ke arah Alesha.
"Kamu yakin, tidak apa-apa sendiri Alesha?" tanya Qiyna.
"Iya, aku tidak apa-apa." jawab Alesha.
Mereka semua berpencar menjadi tiga bagian, Alesha berjalan mengendap-endap melihat kerajaan.
"Hei penyusup!" teriak prajurit.
"Tangkap dia." teriak prajurit yang lain.
__ADS_1
Alesha Sengaja diam saja ketika ditangkap berhasil membuat prajurit heran, lalu membawanya ke dalam, untuk menghadap raja.
”Sebaiknya aku tidak usah melawan, ini kesempatanku untuk masuk ke dalam istana.” batin Alesha.
"Raja, kami ingin melaporkan bahwa ada seorang gadis yang tertangkap." seru prajurit.
Raja Erland melihat gadis berhijab itu, lalu dia langsung mendekat dan menarik cadarnya, membuat Alesha terkejut namun berusaha tenang.
"Kamu cantik sekali, tapi sayangnya wajahmu ini tidak bisa terlihat." ujar raja Erland.
Alesha masih tertunduk, tanpa mau melihatnya. Dia berusaha tenang meski pun darah sudah berdesir kuat, rasanya kaki ingin segera berlari.
"Mau apa raja mencari saya?" tanya Alesha dengan berani.
"Aku ingin menghukummu karena sudah berani menantang ku, tapi aku bisa membatalkannya asal kamu mau menikah denganku. Kamu bisa tinggal di istana mewah ini." ujar sang raja.
"Raja, sepertinya saya butuh waktu untuk berpikir. Bisakah raja memberikan saya kesempatan beberapa hari?" tanya Alesha yang merasa gugup, tapi tetap menenangkan diri.
"Baiklah, silakan kamu menginap di sini dan jangan pergi. Tapi aku tidak ingin jawabanmu adalah penolakan. Prajurit, antar gadis ini ke kamar besar di istana." titah sang raja, sambil melirik prajurit.
"Baik raja." jawab prajurit patuh.
Alesha mengikuti prajurit, berjalan ke ruangan istana yang besar dan megah itu.
"Silakan masuk ke dalam, nanti akan ada yang mengantarkan makanan ke sini."
"Iya." jawab Alesha.
__ADS_1
Alesha segera masuk ke dalam dan mengunci pintu, karena dia akan merencanakan misinya.
"Alhamdulillah aku bisa masuk ke dalam istana ini, aku harus berhati-hati. Kalau ketahuan bahwa aku ingin mempermainkan sang raja, aku bakalan mati tanpa bisa membuat pengorbananku berarti." monolog Alesha.
Sementara itu Amina dan Azizah mengintip di balik pohon pisang, memperhatikan pengawal yang memeriksa tempat di sekitarnya.
"Kemana gadis itu bersembunyi?" tanya pengawal itu.
"Ahh...!" pengawal di sebelahnya itu terkapar, karena terkena panah.
"Ahh...!" Panah melesat lagi mengenai teman yang lainnya.
"Keluar kamu pecundang, jangan berani bersembunyi." teriak mereka, yang masih tersisa delapan orang.
Panah melesat dan mengenai dua lagi di antaranya, hingga tersisa enam orang.
"Amina kita harus menghabisi orang kafir yang akan memerangi agama kita?" ujar Azizah.
"Iya Azizah, kita harus menghentikan pemimpin itu" jawab Amina.
"Trak!" Amina yang berjalan mundur, tidak sengaja menginjak pecahan beling.
"Suara apa itu?" Mereka berlarian mencari asal suara.
"Amina ayo kita kabur." seru Azizah, yang segera berlari.
"Iya." Aminah juga segera berlari.
__ADS_1